Sabtu, 23 Oktober 2010

Satu Sama Dengan Satu

Tegak lurus
menjurus
ke satu titik fokus

cerminmu adalah bayanganmu
tatapmu, kharismamu
walau sendu
namun dirindu

ada satu
hanya satu
tegak lurus
menjurus
di titik penuh kaku

karena satu
sama dengan satu
tatapan satu
langkah satu

dua datang
tanpa diundang
menorehkan segudang pandangan

fokusku bagai serius
melawan arus
yang datang secara halus
mengelus kalbu sendu

karena satu
sama dengan satu
tatapan satu
langkah satu

seribu ragu terus mengganggu
namun satu tak dapat rapuh
walau sendu
namun dirindu

Rabu, 14 April 2010

proposal penelitian

ANALISIS PERISTIWA MORFOFONEMIK PADA SURAT KABAR HARIAN SRIWIJAYA POST EDISI APRIL 2010
Oleh: Reny Septriana
1. Latar Belakang
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar terkadang kurang diperhatikan. Seharusnya, sebagai guru dan calon guru bahasa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting dan harus bertanggung jawab dalam mengajar dan membimbing peserta didik agar hendaknya dapat mencerminkan suatu keberadaan bahasa Indonesia yang serasi dan selaras sesuai dengan kaidah dan perkembangan bahasa. Untuk itu, sebaiknya dilakukan pengkajian terhadap berbagai permasalahan sesuai dengan perkembangan kaidah bahasa yang baik dan benar tersebut.
Kalau kita berbicara mengenai bahasa Indonesia, maka sebaiknya terlebih dahulu disajikan pengantar mengenai apa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia itu sendiri. Menurut Kridalaksana (2007:1), bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sebagai bahasa negara sebagaimana dalam UUD RI 1945 pasal 36, dan sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I 1938 di Solo, atau dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan.
Salah satu kaidah bahasa Indonesia yang kurang diperhatikan dalam pengajaran bahasa Indonesia adalah proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut dikaji dalam subsistem morfologi. Bidang pengkajian ini cukup menarik untuk dikaji karena adanya perkembangan kata-kata baru yang muncul dalam pemakaian bahasa sering bertolak belakang dengan kaidah-kaidah yang ada pada bidang morfologi ini. Oleh sebab itu, perlu dikaji ruang lingkup morfologi ini agar ketidaksesuaian antara kata-kata yang digunakan oleh para pemakai bahasa dengan kaidah tersebut tidak menimbulkan kesalahan yang berlanjut. Jika hal tersebut terjadi, maka akan mengganggu komunikasi yang berlangsung antara komunikator dan komunikan. Bila terjadinya gangguan dalam kegiatan komunikasi ini, maka akan mengurangi fungsi utama dalam berbahasa yaitu sebagai alat komunikasi.
Kata dalam bahasa Indonesia mempunyai berbagai macam bentuk. Soal-soal yang berhubungan dengan bentuk kata itulah yang menjadi objek suatu ilmu yang lazim disebut morfologi (Ramlan, 2001:20). Perubahan-perubahan bentuk kata menyebabkan adanya perubahan golongan dan arti kata misalnya golongan kata baju tidak sama dengan golongan kata berbaju. Kata baju termasuk golongan kata nominal, sedangkan berbaju termasuk golongan kata verbal. Adanya perbedaan golongan dan arti kata tersebut disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Oleh karena itu, dalam bidang morfologi, selain membahas tentang seluk-beluk bentuk kata, juga membahas kemungkinan adanya perubahan golongan dan arti kata yang timbul sebagai akibat dari perubahan bentuk kata.
Hal yang terpenting dalam proses pembentukan kata adalah afiksasi. Afiksasi merupakan suatu proses perubahan leksem menjadi kata kompleks (Kridalaksana, 2007:28). Akibat dari perubahan tersebut, dapat mengakibatkan terjadinya perubahan fonem. Proses inilah yang dikenal sebagai proses morfofonemik.
Selama ini, penggunaan kata berafiks sebagai suatu bentuk kata kurang diperhatikan asal usulnya apalagi dalam proses pembentukan kata. Kurangnya perhatian tersebut menyebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan mengenai proses pembentukan kata tersebut. Padahal, kata berafiks yang terdiri dari morfem terikat dan morfem bebas terbentuk berdasarkan suatu proses akibat pertemuan morfem dengan morfem lain.
Dalam mempelajari atau menggunakan suatu bahasa dapat dikuasai oleh kebanyakan orang dengan mudah dan lancar. Namun, hal ini tidak akan sama dan menjadi sulit ketika harus menerangkan sampai pada kaidah-kaidahnya. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Verhaar (2006:7) bahwa belajar suatu bahasa tidak sama dengan belajar tentang bahasa itu sendiri. Misalnya, kebanyakan orang dapat menguasai bahasa Indonesia, tetapi tanpa keahlian khusus orang tersebut tidak akan mampu menerangkan tata bahasa Indonesia tersebut sesuai dengan kaidah yang baik dan benar.
Ada berbagai macam bidang kajian morfologi, salah satunya adalah morfofonemik. “Morfofonemik adalah proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya” (Depdikbud RI, 1988:87). Permasalahan dalam morfofonemik cukup variatif yaitu pertemuan antara morfem dasar dengan berbagai afiks sehingga menimbulkan variasi-variasi yang kadang membingungkan para pemakai bahasa. Sering timbul pertanyaan dari pemakai bahasa, manakah bentukan kata yang sesuai dengan kaidah morfologi. Hal yang menarik adalah munculnya pendapat yang berbeda dari ahli bahasa yang satu dengan ahli bahasa yang lain (Prabareta, 2009).
Dalam bahasa Indonesia terdapat proses morfofonemik akibat perubahan fonem nasal yang berwujud /m/ di depan /b/, /n/ di depan /d/, /ñ/ di depan /j/, dan /ŋ/ di depan /g/ (Samsuri dalam Saliwangi dkk. 1991:9). Misalnya morfem /məN-) apabila bergabung dengan morfem /bawa/ berubah menjadi /məm-/ sehingga menjadi /məmbawa/. Morfem /məN-/ bergabung dengan morfem /dəŋar/, maka berubah menjadi /mən-/ sehingga menjadi /məndəŋar/.
Kebanyakan masyarakat Indonesia sendiri kurang memahami proses pemunculan suatu bentuk kata sebagai hasil dari penggabungan morfem terikat dan morfem bebas. Misalnya, penggabungan morfem /məN-/ + /patung/ menjadi /məmatuŋ/ dan bukan /məmpatuŋ/. Dalam proses pembentukan kata mematung terjadi perubahan fonem /p/ menjadi fonem /m/. Kasus ini telah menjadi masalah kebahasaan bahasa Indonesia. Padahal, dalam mempelajari serta memahami suatu proses pembentukan kata itu merupakan salah satu jawaban dalam mengatasi masalah kebahasaan tersebut. Dalam penulisan morfem-morfem dan hasil pembentukannya harus ditulis secara fonetik agar pembaca dapat memahami secara segaligus bentuk fonetisnya. Fonetik meneliti bunyi bahasa menurut cara pelafalannya dan menurut sifat-sifat akustiknya (Verhaar, 2006:10).
Masalah kebahasaan yang lain terdapat pada contoh kata mengubah. Pemakaian kata mengubah biasa dilisankan atau pun dituliskan dengan kata merubah. Padahal, menurut pembentukan kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah kata mengubah. Kata mengubah terbentuk dari morfem /məN-/ + /ubah/. Dalam kasus ini, kata mengubah terjadi karena perubahan morfem /məN-/ menjadi /məŋ-/. Pada kata merubah, tampaknya bukan terbentuk dari morfem /məN-/ + /ubah/, melainkan dari morfem /məN-/ + /rubah/ (nama seekor binatang) yang artinya menjadi seperti rubah.
Dalam hal ini, penulis memilih harian Sriwijaya Post edisi April 2010 pada rubrik wisata terbitan Minggu. Penggunaan morfofonemik lebih sering kita lihat dalam tulisan-tulisan di media massa terutama surat kabar. Pada rubrik wisata ini banyak menggunakan pemakaian kata-kata berafiks sehingga akan lebih banyak data yang diperoleh untuk menganalisis peristiwa morfofonemik tersebut. Surat kabar Sriwijaya Post adalah salah satu harian surat kabar yang terbit di kota Palembang yang biasa memuat rubrik dengan nama wisata yang memperkenalkan tempat-tempat wisata sebagai salah satu rubrik berita yang terbit setiap hari minggu.
Dalam teks berita pada rubrik wisata, penggunaan morfofonemik cukup banyak jumlahnya. Berikut ini adalah salah satu teks pada rubrik wisata tersebut yang dikutip secara utuh yang terdapat dalam harian Sriwijaya Post (4 April 2010).
Menyelam di Kelayang
Bagi sebagian orang, kegiatan menyelam dapat enjadi sarana rekreasi yang amat menyenangkan dan menghilangkan segala kepenatan bekerja, maupun stres. Soalnya, dengan menggunakan berbagai kelengkapan menyelam, kita dapat menyaksikankekayaan di abawah air seperti terumbu karang yang unik dan indah dengan berbagai bentuk, beraneka ragamnya ikan-ikan karang yang berwarna warni, begitu pula hewan lainnya seperti keong, bulu babi, ubur-ubur, maupun bintang laut, dsb. Semuanya itu dapat disaksikan seorang penyela baik di kedalaman satu meter hingga puluhan meter.
Di Belitung, ada juga penyelam profesi yaitu untuk mencari harta karun yang terdapat di dasar lautan dari kapal-kapal Jepang dan negara asing lainnya yang berumur ratusan tahun. Belum lama ini penyelam asing berhasil menemukan ratusan benda-benda antik yang nilainya mencapai triliunan rupiah di dekat perairan Tanjung Kelayang, atas petunjuk nelayan-nelayan tradisional Belitung. Sayangnya, para nelayan setempat tidak mendapatkan apa-apa, begitu pula Pemda Belitung.
Bagi nelayan Belutung, menyelam adalah pekerjaan sehari-hari. Mereka tidak menggunakan tabung udara layaknya seorang penyelam rekreasi atau penyelam prodesional, melainkan hanya mengguakan masker atau kaca selam dengan alat bantu pernapasan dari pipa bening ukuran jari kelingking tangan, yang dihubungkan dengan kompresor langsung. Mereka enyelam berjam-jam lamanya, untuk mencari atau sekedar memasang keramba. (afi)

Dalam kutipan teks di atas, pemakaian morfofonemik cukup banyak ditemukan. Dalam wacana tersebut terdapat proses perubahan fonem yaitu pada peristiwa menjadi, menghilangkan, menggunakan, mencari, mencapai, mendapatkan. Perubahan dan penghilangan fonem yaitu menyelam, menyenangkan, menyaksikan, penyelam, menemukan, memasang. Selanjutnya pergeseran fonem yaitu kepenatan, kelengkapan, kedalaman, perairan, dan pernapasan. Terakhir pengekalan fonem yaitu kekayaan.
Pada peristiwa perubahan fonem dalam teks di atas, terjadi proses pembentukan yaitu /məN-/ + /jadi/  /mənjadi/, /məN-...-kan/ + /hilaŋ/  /məŋhilaŋkan/, /məN-...-kan/ + /guna/  /məŋgunakan/, /məN-/ + /cari/  /məncari/, /məN-/ + /capai/  /məncapai/, /məN-...-kan/  /dapat/  /məndapatkan/. Proses perubahan dan penghilangan fonem yaitu /məN-/ + /səlam/  /məñəlam/, /məN-...-kan/ + /sənaŋ/  /məñənaŋkan/, /məN-...-kan/ + /saksi/  /məñaksikan/, /pəN-/ + /səlam/  /pəñəlam/, /məN-...-kan/ + /təmu/  /mənəmukan/, /məN-/ + /pasaŋ/  /məmasaŋ/. Proses pergeseran fonem yaitu /kə-...-an/ + /pənat/  /kə-pə-na-tan/, /kə-...-an/ + /ləŋkap/  /kə-ləŋ-ka-pan/, /kə-...-an/ + /dalam/  /kə-da-la-man/, /pər-...-an/ + /air/  /pər-a-i-ran/, /pər-...-an/ + / napas/  /pər-na-pa-san/. Terakhir pengekalan fonem yaitu /kə-...-an/ + /kaya/  /kəkayaan/.
Setiap proses yang terjadi pada peristiwa tersebut pasti memiliki suatu kaidah dalam pembentukannya. Pada proses perubahan fonem terdapat kaidah yaitu apabila afiks morfem /məN-/ dan /məN-...-kan/ dibubuhkan pada kata dasar yang diawali dengan fonem /j/, /g/, /c/, dan /d/, maka terjadi perubahan morfem /məN-/ menjadi /mən/ dan pada kata dasar yang diawali dengan fonem /h/ dan /g/, maka terjadi perubahan morfem /məN-...-kan/ menjadi morfem /məŋ-...-kan/. Kaidah pada proses perubahan dan penghilangan fonem yaitu apabila afiks morfem /məN-/, /məN-...-kan/, dan /pəN-/ dibubuhkan dengan kata dasar yang diawali dengan fonem /s/, maka /məN-/, /məN-...-kan/, dan /pəN-/ berubah menjadi /məñ/, /məñ-...-kan/ dan /pəñ/ dan terjadi penghilangan fonem /s/, sedangkan pada kata dasar yang diawali dengan fonem /t/, maka /məN-/ berubah menjadi /mən-/ dan penghilangan fonem /t/, pada kata dasar yang diawali dengan fonem /p/, maka morfem /məN-/ berubah menjadi morfem /məm-/ disertai penghilangan fonem /p/. Pada proses pergeseran fonem terdapat kaidah yaitu apabila afiks morfem /kə-...-an/ dan /pər-...-an/ dibubuhkan dengan kata dasar yang berakhiran dengan konsonan dan diikuti sufiks yang diawali vokal, maka terjadi pergeseran konsonan ke belakang. Terakhir pada proses pengekalan fonem terdapat kaidah yaitu apabila afiks morfem /kə-...-an/ dibubuhkan dengan kata dasar yang diawali dengan fonem /k/, maka terjadi pengekalan fonem /k/.
Uraian di atas memperlihatkan bahwa suatu morfofonemik dapat terjadi dan dipelajari dengan memperhatikan proses serta kaidah pembentukannya. Dalam media massa akan banyak ditemukan proses dan kaidah morfofonemik tersebut. Di dalam media massa, bahasa yang digunakan memang memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat pemakai bahasa. Dalam pembinaan bahasa pun, media massa berperan besar sebagai penyebar dan sekalugus sebagai tolok ukur penggunaan bahasa yang baik dan benar (Alwi, 2000:102).
Penelitian ini membahas mengenai bagaimana pembentukan kaidah morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post edisi April 2010. Penelitian ini mencakup suatu proses pembentukan kata melalui perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Surat kabar Sriwijaya Post dipilih sebagai objek penelitian karena banyaknya penggunaan morfofonemik yang dapat dianalisis proses pembentukannya. Morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata harian Sriwijaya Post ini diambil sebagai rubrik yang mewakili keseluruhan data yang terdapat di setiap isi berita.

2. Masalah
Dalam penelitian ini, masalah yang dibahas adalah morfofonemik dalam rubrik wisata pada surat kabar harian Sriwijaya Post edisi April 2010. Ruang lingkup masalah yang akan dibahas antara lain:
1. Bagaimana proses morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010?
2. Bagaimana kaidah morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010?

3. Tujuan
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengumpulkan data, mengolah, dan mendeskripsikan aspek morfofonemik sebagai suatu proses perubahan fonem. Secara khusus, penelitian ini bertujuan antara lain:
1. Mendeskripsikan proses morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010.
2. Mendeskripsikan kaidah morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010.

4. Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang linguistik deskriptif khususnya tentang morfofonemik dalam bahasa Indonesia. Secara praktis, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penerbitan baik di jurnal kampus, sebagai pedoman dalam mempelajari pembentukan kata khususnya pada peristiwa morfofonemik, dan juga sebagai informasi para peneliti yang ingin mengkaji tentang proses morfofonemik bahasa-bahasa yang lain. Hal ini akan memberikan pengetahuan kepada pembaca bahwa melalui kaidah morfofonemik, kita dapat memahami dan menerapkan pola pembentukan sebuah kata sehingga tujuan yang hendak dicapai tersebut dapat benar-benar terwujud.

5. Tinjuauan Pustaka
Pada bagian ini penulis mengemukakan suatu bentuk peristiwa morfofonemik sebagai sebuah pembentukan kata. Pembentukan kata ini adalah salah satu kajian deskriptif yang memaparkan tentang bagaimana suatu kata dapat terbentuk. Peristiwa pembentukan kata tersebut dapat melalui suatu proses dan kaidah tertentu.

5.1 Pengertian Morfofonemik
Membahas bentukan kata dalam kajian morfologi, peristiwa morfofonemik merupakan suatu peristiwa yang tak terlepas dari kaidah pembentukannya. Menurut Ramlan (2001:83), morfofonemik adalah suatu proses perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Misalnya morfem /bər-/ bertemu dengan morfem /ajar/ menghasilkan kata /bəlajar/. Dalam peristwa ini, fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/. Morfofonemik merupakan kata serapan dari bahasa Inggris morphophonemics atau sering juga disebut morphonemics atau ada juga yang menamakan morfofonologi (Heatherington dalam Tarigan, 1988). ”Morfofonologi adalah telaah umum mengenai bidang kebersamaan antara bunyi dan bentuk kata”. (Tarigan, 1995:27). Morfofonemik berasal dari kata morfem dan fonem. Morfem adalah unsur yang terkecil yang secara individual mengandung pengertian dalam ujaran sesuatu bahasa (Hocket, 1958: 123). Hal ini senada dengan yang diungkapkan Nida (dalam Poerwadi dkk., 2003:10) bahwa morfem adalah unsur pemakaian bahasa yang terkecil yang mengandung arti atau pengertian. Morfem dalam suatu bahasa memiliki bermacam-macam karakter. Berdasarkan hubungan distribusinya, morfem diklasifikasikan dalam morfem bebas yang dapat berdiri sendiri sebagai kata dan morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata (Poerwadi, 2003:11). Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat membedakan arti (Sudarno, 1990:17). Kedua istilah tersebut yang akhirnya membentuk suatu istilah baru yang dikenal dengan nama morfofonemik.
Menurut Kridalaksana (2007:183), proses morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena adanya pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia terjadi hanya dalam pertemuan secara nyata antara morfem dasar dengan afiks (morfem terikat). Selain itu, menurut Sudarno (1990: 9), morfofonemik adalah ilmu yang mempelajari perubahan fonem akibat proses morfologis.
Menurut beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa morfofonemik adalah suatu peristiwa yang terjadi karena pertemuan morfem (bebas) dengan morfem (terikat) yang menyebabkan perubahan fonem pada morfem tersebut.

5.2 Proses Morfofonemik
Proses morfofonemik berbeda menurut beberapa ahli. Namun, variasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut tidak membedakan maksud dan tujuan masing-masing. Semuanya membahas mengenai bagaimana suatu kata dapat terbentuk. Dengan kata lain, proses morfofonemik yang bervariasi menurut ahli dapat memberikan manfaat yang sama dan mengandung inti yang sama pula sesuai dengan keinginan untuk disampaikan pada pembaca.
Proses morfofonemik adalah proses perubahan fonem yang disebabkan oleh adanya hubungan dua morfem atau lebih beserta pemberian tanda-tandanya (Saliwangi dkk., 1991:9). Menurut Lubis dkk. (1986:10), proses morfofonemik merupakan suatu proses berubahnya suatu bentuk morfem sebagai akibat dari adanya penggabungan morfem-morfem.
Menurut Ramlan (2001:83) bahwa dalam bahasa Indonesia sedikitnya terdapat tiga proses morfofonemik. Ketiga proses tersebut antara lain.
a. Proses perubahan fonem
b. Proses penambahan fonem
c. Proses hilangnya fonem
Proses morfofonemik menurut Ramlan secara garis besar sama dengan proses morfofonemik menurut Tarigan dan Chaer. Hanya saja Chaer (2008:43—45), menambahkan satu proses morfofonemik dari ketiga proses menurut Ramlan yaitu . pemunculan fonem, pelesapan fonem, peluluhan fonem, dan perubahan fonem. Namun, pelesapan dan peluluhan fonem sebenarnya pembentukannya dan penggunaannya sama saja dengan penghilangan fonem pada Ramlan.
Menurut Tarigan (1995:27), berbicara tentang proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia, maka terdapat tiga hal yang penting. Tiga hal tersebut antara lain.
a. Proses perubahan fonem
b. Proses penambahan fonem
c. Proses penanggalan fonem
Menurut Kridalaksana (2007:183—184), perubahan fonem yang terjadi akibat pertemuan morfem dapat digolongkan sebagai berikut.
a. Pemunculan fonem
b. Pengekalan fonem
c. Pemunculan dan pengekalan fonem
d. Pergeseran fonem
e. Perubahan dan pergeseran fonem
f. Pelesapan fonem
g. Peluluhan fonem

5.3 Kaidah Morfofonemik
Proses morfofonemik masing-masing diuraikan sesuai dengan kaidah yang bersangkutan. Kaidah-kaidah berdasarkan proses morfofonemik tersebut dapat dilihat menurut Kridalaksana dan Ramlan.
5.3.1 Menurut Kridalaksana (2007:184—200), kaidah morfofonemik dapat diuraikan menjadi proses morfofonemik sebagai berikut.

a. Proses pemunculan fonem
Proses morfofonemik yang paling banyak terjadi adalah pemunculan fonem. Fonem yang muncul itu sama tipenya dengan fonem awal dalam morfem dasar. Perubahan morfofonemik semacam ini menimbulkan alomorf-alomorf dari morfem yang bersangkutan.
Peristiwa 1: Pemunculan fonem /y/ terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada /ay/, /i/, atau /e/ dan diikuti oleh sufiks atau bagian akhir konfiks yang diawali oleh vokal /a/. Contoh :
/kə - an/ + /tingi/  /kətingiyan/
/-an/ + /təpi/  /təpiyan/
Peristiwa 2: Pemunculan fonem /w/ terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada /aw/, /u/, atau /o/ yang diikuti olek sufiks atau bagian akhir konfiks yang diawali oleh vokal /a/. Contoh :
/kə - an/ + /pulau/  /kəpulauwan/
/-an/ + /sərbu/  /sərbuwan/
/pə - an/ + /toko/  /pərtokowan/
Peristiwa 3: Pemunculan /a/ terjadi pada penggabungan morfem dasar ayah dan sufiks -nda, /ayahan-da/
Peristiwa 4: Pemunculan /n/ terjadi pada penggabungan morfem dasar diri dan perfiks se-, /səndiri/
Peristiwa 5: Pemunculan /m/ terjadi pada penggabungan morfem dasar barang dan perfiks se-, /səm-baraŋ/
Peristiwa 6: Pemunculan /ŋə/ terjadi pada penggabungan morfem dasar yang terjadi dari satu suku kata yang bergabung dengan /mə-/, /pə/, /pə-an/. Contoh :
/mə-/ + /cat/  /məŋəcat/
/pə-an/ + /tik/  /pəŋətikan/
Peristiwa 7: Pemunculan /m/ terjadi pada morfem dasar yang diawali dengan /b/, .f/, dan /p/ yang bergabung dengan awalan /me-/, /pe-/, dan /pe-an/. Dengan syarat
(a) Fonem /f/ merupakan awal morfem pinjaman
(b) Fonem /p/ merupakan
(1) fonem awalan dari morfem dasar yang mengandung unsur /per-/ yang diikuti oleh konsonan.
(2) fonem ini merupakan bagian awal dari morfem dasar /puña/;
(3) bagian awal dari morfem dasar pinjaman.
Contoh :
/mə-/ + /bəli/  /məmbəli/
/mə-kan/ + /fatwa/  /məmfatwakan/
/mə-i/ + /pərbaru/  /məmperbarui/
Peristiwa 8: Pemunculan /n/ terjadi bila morfem dasar yang diawali oleh morfem dasar yang diawali oleh konsonan /t/ dan /d/ bergabung dengan /mə-/ dan kombinasinya, /pə-/, dan /pə-an/. Contoh :
/pə-/ + /dəŋar/  /pəndəŋar/
/mə- / + /dapat/  /məndapat/
Peristiwa 9: Pemunculan /n/ yang terjadi bila morfem dasar diawali oleh konsonan /c/ dan /j/ bergabung dengan /mə-/, /pə-/, dan /pə-an/. Contoh :
/mə-/ + /caci/  /məncaci/
/pə-/ + /curi/  /pəncuri/
/pə-an/ + /jilid/  /pənjilidan/
Peristiwa 10: Pemunculan /ŋ/ terjadi bila morfem dasar diawali oleh fonem /g/, /x/, /h/, atau /?/ bergabung dengan /mə-/, /pə-/, dan /pə-an/. Pemunculan /ŋ/ juga terjadi pada gabungan morfem dasar yang diawali oleh konsonan /k/, bila morfem dasar itu berasal dari bahasa asing atau bila ada faktor leksikal dengan tujuan menghindari homonim.Contoh :
/mə-/ + /ko’ordinir/  /məŋko’ordinir/
/pə-/ + /gugat/  /pəŋgugat/
/pə-an/ + /xusus/  /pəŋxususan/

b.Proses pengekalan fonem
Pengekalan fonem terjadi bila pada proses penggabungan morf tidak terjadi perubahan apa-apa, baik pada morfem dasar maupun pada afiks. Morfem dasar dan morfem terikat itu dikekalkan dalam bentuk baru yang lebih konkret.
Peristiwa 1: Pengekalan fonem terjadi bila morfem dasar yang diawali oleh fonem /y/, /r/, /I/, /w/, atau nasal bergabung dengan /mə-/, /pə-/. Contoh:

/pə-/ + /warna/  /pəwarna/
/pə-/ + /mula/  /pəmula/
/mə-i/ + /wajib/  /məwajibkan/
/mə-/ + /masak/  /məmasak/
Peristiwa 2: Pengekalan fonem terjadi bila morfem dasar yang berakhir dengan /a/ bergabung dengan konfiks /kə-an/. Contoh :
/kə-an/ + /raja/  /kəraja’an/
/kə-an/ + /ada/  /kə’ada’an/
/kə-an/ + /lama/  /kəlama’an/
Peristiwa 3: Pengekalan fonem terjadi bila afiks /bər-/, /pər-/, atau /tər-/, bergabung dengan morfem dasar kecuali /ajar/, /anjur/. Contoh :
/bər-/ + /main/  /bərmain/
/tər-/ + /lalu/  /tərlalu/
/pər-/ + /dalam/  /pərdalam/
Peristiwa 4: Pengekalan fonem terjadi bila afiks se- bergabung dengan morfem dasar.
/sə-/ + /’arah/  /sə’arah/
/sə-/ + /’umur/  /sə’umur/
/sə-/ + /tiŋkat/  /sə’tiŋkat/
Peristiwa 5: Pengekalan fonem terjadi bila afiks –wan/, /-man/, /-wati/ bergabung dengan morfem dasar. Contoh :
/səni/ + /-man/  /səniman/
/pəraga/ + /-wati/  /pəragawati/
/warta/ + /-wan/  /wartawan/

c. Proses pemunculan dan pengekalan fonem
Pemunculan dan pengekalan fonem adalah proses pemunculan fonem yang homorgan dengan fonem pertama morf dasar dan sekaligus pengekalan fonem pertama morf dasar tersebut. Proses ini terjadi karena bahasawan ingin mempertahankan identitas leksikal morf dasar dan bertujuan menghindari homonim dengan bentuk pemunculan. Proses ini hanya terjadi pada prefiksasi.
Peristiwa 1: Pemunculan /ŋ/ dan pengekalan /k/. Contoh
/mə-/ + /kukur/  /meŋkukur/
/pə-/ + /kaji/  /pəŋkaji/
Peristiwa 2: Pemunculan /ŋ/ dan pengekalan /’/. Contoh
/mə-/ + /’ara’/  /məŋ’araŋ/
/pə-/ + /’ukur/  / pəŋ’ukur/

d. Proses pergeseran posisi fonem
Pergeseran posisi fonem terjadi bila komponen dari morfem dasar dan bagian dari akfiks membentuk satu suku kata. Pergeseran ini dapat terjadi ke depan, ke belakang atau dengan pemecahan.
Peristiwa 1: Pergeseran ke belakang terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada konsonan yang diikuti oleh sufiks atau komponen akhir konfiks yang diawali oleh vokal, sehingga konsonan tersebut menjadi bagian dari suku kata yang di belakang. Contoh:
/baik/ + /pər-i/  /pər-ba-i-ki/
/sakit/ + /pə-an/  /pə-sa-ki-tan/
/taŋis/ + /-i/  /ta-ŋi-si/
/bakar/ + /kə-an/  /kə-ba-ka-ran/
Peristiwa 2: Pergeseran ke depan terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada vokal yang diikuti oleh sufiks yang berawal dengan konsonan, sehingga konsonan tersebut menjadi bagian dari suku kata pra-akhir itu. Contoh :
/ibu/ + /-nda/  /i-bun-da/
/bibi/ + /-nda/  /bi-bin-da/
/cucu/ + /-nda/  /cu-cun-da/
Peristiwa 3: Pemecahan suku kata terjadi dalam proses penyisipan dengan /-əl-/, /-ər-/ dan /-əm-/, sehingga unsur-unsur sisipan itu terpecah dalam suku kata yang berlainan. Contoh:

/gəmbuŋ/ + /-əl-/  /gə-ləm-buŋ/
/gigi/ + /-ər-/  /gə-ri-gi/
/gətar/ + /-əm-/  /gə-mə-tar/
e. Proses perubahan dan pergeseran posisi fonem
Perubahan dan pergeseran posisi fonem terjadi pada proses penggabungan morfem dasar yang berakhir dengan konsonan dengan afiks yang berawal dengan vokal, atau penggabungan morfem dasar /ajar/ dengan afiks /bər-/, /pər-/, dan /pər-an/, atau pada penggabungan morfem dasar /anjur/ dengan afiks /tər-/.
Peristiwa 1: Perubahan dari fonem /’/ menjadi fonem /k/ terjadi bila morfem dasar yang berakhir dengan fonem /’/ bergabung dengan sufiks /-an/ atau bagian akhir konfiks yang berawal dengan vokal, dan membentuk suku kata baru. Contoh:
/mə-i/ + /nai’/  /mə-na-i-ki/
/kə-an/ + /dudu’/  /kə-du-du-kan/
/-an/ + /gəra’/  /gə-ra-kan/
Realisasi fonem /k/ pada akhir morfem dasar hanya terjadi dalam dialek-dialek tertentu.
Peristiwa 2: Perubahan dari fonem /r/ menjadi fonem /l/ pada akhir afiks /bər-/, /pər-/, dan /pər-an/ terjadi bila afiks-afiks tersebut bergabung dengan morfem dasar /ajar/. Fonem yang berubah itu membentuk suku kata baru dengan vokal awal. Contoh
/bər-/ + /’ajar/  /bə-la-jar/
/pər-/ + /’ajar/  /pə-la-jar/
Peristiwa 3: Perubahan dari fonem /r/ menjadi fonem /l/ pada akhir afiks /tər-/ terjadi bila afiks itu bergabung dengan morfem dasar /anjur/ dan /antar/. Fonem yang berubah itu membentuk suku kata baru dengan vokal awal morfem dasar. Contoh :
/tər-/ + /’antar/  /tər-lan-tar/
/tər-/ + /’anjur/  /tər-lan-jur/



f. Proses pelepasan fonem
Proses pelepasan fonem terjadi bila morfem dasar atau afiks melesap pada saat terjadi penggabungan morfem.
Peristiwa 1: Pelepasan fonem /k/ atau /h/ terjadi bila morfem dasar yang berakhir pada konsonan tersebut bergabung dengan sufiks yang berasal dari konsonan juga. Contoh:
/’anak/ + /-nda/  /’ananda/
/səjarah/ + /-wan/  /səjarawan/
Peristiwa 2: Pelepasan fonem /r/ dari afiks /bər-/, /tər-/, /pər-/ dan /pər-an/ karena bergabung dengan morfem dasar yang suku pertamanya berawal dengan fonem /r/ atau yang suku pertamanya mengandung /r/. penggabungan afiks tersebut dengan morfem dasar /ajar/, dan /anjur/. Contoh :
/bər-/ + /rumah/  /bərumah/
/tər-/ + /ramai/  /təramai/
/pər-/ + /ramal/  /pəramal/

g. Proses peluluhan fonem
Peluluhan fonem terjadi bila proses penggabungan morfem dasar dengan afiks membentuk fonem baru.
Peristiwa 1: Peluluhan fonem /k/ dari morfem dasar yang diawali dengan fonem /k/ yang bergabung dengan /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/. Dalam proses morfofonemik dengan morfem dasar yang diawali oleh konsonan /k/ yang berasal dari bahasa asing atau karena adanya faktor leksikal. Contoh :
/mə-/ + /karaŋ/  /məŋaran/
/pə-/ + /karaŋ/  /pəŋaraŋ/
/mə-kan/ + /kirim/  /məŋirimkan/
/pə-an/ + /kuraŋ/  /pəŋuraŋan/
/mə-i/ + /kuraŋ/  /məŋuraŋi/
Peristiwa 2: Peluluhan fonem /p/ bila afiks /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/ digabungkan dengan morfem dasar yang diawali oleh fonem /p/, kecuali pada morfem dasar yang berprefiks /pər-/ atau yang berasal dari bahasa asing. Contoh :
/mə-/ + /pilih/  /məmilih/
/pə-/ + /pahat/  /pəmahat/
/mə-kan/ + /pikir/  /məmikirkan/
/mə-i/ + /pəraŋ/  /məməraŋi/
Peristiwa 3: Peluluhan fonem /s/ terjadi pada penggabungkan morfem dasar yang diawali oleh fonem /s/ dengan afiks /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/, kecuali bila fonem /s/ mengawali morfem dasar yang berasal dari bahasa asing.
/mə-/ + /sayur/  /məñayur/
/mə-i/ + /sakit/  /məñakiti/
/mə-kan/ + /saksi/  /məñaksikan/
/pə-/ + /susun/  /pəñusun/
Peristiwa 4: Peluluhan fonem /t/ pada morfem dasar yang diawali oleh fonem /t/ yang bergabung dengan afiks /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/, kecuali pada morfem dasar yang berasal dari bahasa asing atau morfem dasar yang berprefiks /tər-/.Contoh :
/mə-/ + /tata/  /mənata/
/mə-kan/ + /tidur/  /mənidurkan/
/mə-i/ + /təlusur/  /mənəlusuri/

5.3.1 Menurut Ramlan (2001:98—105), kaidah morfofonemik dapat diuraikan menjadi
5.3.1.1 Kaidah morfofonemik morfem afiks meN-
meN-  mem- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /p/, /b/, /f/, maka fonem /p/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya dan pada bentuk dasar yang berprefiks ialah prefiks per-. Contoh:
/məN-/ + /paksa/  /məmaksa/
/məN-/ + /bawa/  /məmbawa/
/məN-/ + /fitnah/  /məmfitnah/
meN-  men- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /t/, /d/, maka fonem /t/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya dan pada bentuk dasar yang berprefiks ialah prefiks ter-. Fonem /s/ hanya berlaku bagi beberapa bentuk dasar yang mempertahankan keasingannya. Contoh:
/məN-/ + /tulis/  /mənulis/
/məN-/ + /dasarkan/  /məndasarkan/
/məN-/ + /tərjəmahkan/  /məntərjəmahkan/
meN-  meny- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /s/, maka fonem /s/ hilang. Contoh:
/məN-/ + /sapu/  /məñapu/
/məN-/ + /sikat/  /məñikat/
meN-  meng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /k/, /g/, /x/, /h/, dan huruf vokal, maka fonem /k/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya. Contoh:
/məN-/+ /karang/  /məŋaraŋ/
/məN-/ + /gali/  /məŋgali/
/məN-/ + /xususkan/  /məŋxususkan/
/məN-/ + /halau/  /məŋhalau/
/məN-/ + /akui/  /məŋakui/
meN-  me- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /y/, /r/, /l/, /w/, dan nasal. Contoh:
/məN-/ + /yakinkan/  /məyakinkan/
/məN-/ + /ramal/  /məramal/
/məN-/ + /warisi/  /məwarisi/
/məN-/ + /naikkan/  /mənaikkan/
meN-  menge- apabila diikuti bentuk dasar yang terdiri dari satu suku. Contoh:
/məN-/+ /bom/  /məŋebom/
/məN-/ + /cat/  /məŋecat/
5.3.1.2 Kaidah morfofonemik morfem afiks peN-
Kaidah morfofonemik morfem afiks /pəN-/ sama dengan kaidah morfofonemik morfem afiks /məN-/ pada umumnya.
peN-  pem- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /p/, /b/, /f/. Fonem /p/ hilang. Contoh:
/pəN-/ + /pakai/  /pəmakai/
/pəN-/ + /bawa/  /pəmbawa/
peN-  pen- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /t/, /d/, /s/. Fonem /t/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang asih mempertahankan keasingannya. Contoh:
/pəN-/ + /tulis/  /pənulis/
/pəN-/ + /dorong/  /pəndoroŋ/
peN-  peny- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /s/. Fonem /s/ hilang. Contoh:
/pəN-/ + /sadur/  /pəñadur/
/pəN-/ + /suap/  /pəñuap/
peN-  peng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /k/, /g/, /x/, /h/. Fonem /k/ hilang. Contoh:
/pəN-/ + /karaŋ/  /pəŋaraŋ/
/pəN-/ + /gali/  /pəŋgali/
/pəN-/ + /halaŋ/  /pəŋhalaŋ/
peN-  pe- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /y/, /r/, /l/, /w/. Contoh:
/pəN-/ + /ramal/  /pəramal/
/pəN-/ + /lupa/  /pəlupa/
/pəN-/ + /waris/  /pəwaris/
peN-  penge- apabila diikuti bentuk dasar yang terdiri dari satu suku. Contoh:
/pəN-/ + /bom/  /pəŋebom/
/pəN-/ + /cat/  /pəŋecat/
/pəN-/ + /las/  /pəŋelas/

5.3.1.3 Kaidah morfofonemik morfem afiks ber-
ber-  be- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ər/. Contoh:
/bər-/ + /rantai/  /bərantai/
/bər-/ + /kerja/  /bəkerja/
ber-  bel- apabila diikuti bentuk dasar /ajar/. Contoh:
/bər-/ + /ajar/  /bəlajar/
ber-  ber- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/, suku pertamanya tidak berakhir dengan /ər/, dan bentuk dasar yang bukan morfem /ajar/. Contoh:
/bər-/ + /kata/  /bərkata/
/bər-/ + /tugas/  /bərtugas/

5.3.1.4 Kaidah morfofonemik morfem afiks per-
per-  pe- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/. Contoh:
/pər-/ + /rendah/  /pərendah/
/pər-/ + /ragakan/  /pəragakan/
per-  pel- apabila diikuti bentuk dasar yang berupa morfem /ajar/. Contoh:
/pər-/ + /ajar/  /pəlajar/
per-  per- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang bukan morfem /ajar/. Contoh:
/pər-/ + /kaya/  /pərkaya/
/pər-/ + /satukan/  /pərsatukan/

6. Metodelogi Penelitian
6.1 Metode
Penelitian ini berusaha mendeskripsikan kaidah morfofonemik yang terdapat dalam surat kabar Sriwijaya Post edisi April 2010 pada rubrik wisata yang terbit setiap hari minggu. Metode yang diguakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Metode deskriptif adalah metode penelitian yang berusaha menggambarkan fakta apa adanya. Metode analitis berusaha menguraikan, memecahkan, dan menelusuri sehingga menemukan kaidah. Menurut Ali (1997:120), metode deskriptif analitis berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang dihadapi dengan cara mengumpulkan data, mengklasifikasi data, mengolah data, dan membuat kesimpulan. Dengan kata lain, metode deskriptif adalah penggambaran suatu kejadian sesuai dengan apa adanya dan secara objektif. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Suryabrata (2004:76) bahwa penelitian deskriptif bermaksud untuk membuat deskriptif secara sistematis, faktual, dan akurat fakta-fakta yang ditemukan.

6.2 Sumber Data
Dalam penelitian ini, sumber data yang diambil adalah pada rubrik wisata yang terbit pada setiap hari minggu yang terdapat dalam harian surat kabar Sriwijaya Post edisi April 2010. Ini menunjukkan bahwa data yang digunakan adalah semua peristiwa morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata dalam harian Sriwijaya Post edisi April 2010.

6.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi dan teknik observasi. Teknik dokumentasi adalah teknik yang dilakukan untuk menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 2002:135). Teknik selanjutnya adalah teknik observasi. Teknik observasi adalah teknik yang dilakukan dengan pengamatan dan pencatatan secara sistematis atas fenomena-fenomena yang diteliti (Hadi, 2004:152). Teknik observasi berusaha mengamati suatu objek penelitian. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Keraf (2004:183), teknik observasi adalah teknik pengamatan langsung kepada suatu objek yang akan diteliti. Mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap (Arikunto, 2002:133).
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada rubrik wisata yang terdapat dalam surat kabar harian Sriwijaya Post edisi April 2010. Teknik observasi digunakan untuk mengamati dan mencatat peristiwa morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
6.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik analisis isi. Teknik analisis isi dapat digunakan untuk semua bentuk sarana komunikasi seperti surat kabar, puisi, lagu, cerita rakyat, pidato, surat, dan lukisan (Rahmat, 2000:125). Dalam penelitian ini, setiap peristiwa morfofonemik dianalisis dan dideskripsikan berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1) Mengumpulkan data yaitu seluruh rubrik wisata harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
2) Mengidentifikasi morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata dalam harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
3) Mengelompokkan data morfofonemik tersebut.
4) Menganalisis dan menginterpretasi data yang telah terkumpul berdasarkan teori morfologi.
5) Membuat simpulan.

Daftar Pustaka
Alwi, Hasan. 2000. Bahasa Indonesia: Pemakai dan Pemakaiannya. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indoesia (Pendekatan Proses). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Depdikbud RI. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indoesia. Jakarta.

Hadi, Sutrisno. 2004. Metodelogi Research. Yogyakarta: Andi.

Hockett, Charles. 1958. A Course in Modern Linguistics. New York: The Macmillan Company.

Keraf, Gorys. 2004. Komposisi. Flores: Nusa Indah.

Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Lubis, Syahron, dkk. 1986. Sistem Morfologi dan Sintaksis Bahasa Melayu Langkat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdiknas.

Poerwadi, Petrus, dkk. 2003. Morfologi Bahasa Seruyan. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.

Prabareta. 2009. “Morfologi dalam Bahasa Indonesia”. http:// prabareta. blogspot. com/ 2009/01/morfofonemik-dalam-bahasa-indonesia.html. diakses tanggal 12 Maret 2010.

Rahmat, Jalaludin. 2000. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rusdakarya.

Ramlan. 2001. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV. Karyono.

Saliwangi, Basennang, dkk. 1991. Sistem morfologi Kata Kerja (Verba) Bahasa Tetun. Jakarta: Depdikbud.

Sriwijaya Post. 2010. ”Menyelam di Kepayang”. 4 April, No. Tahun , Hlm.18.

Sudarno. 1990. Morfofonemik Bahasa Indonesia. Jakarta: Arikha Media Cipta.

Tarigan, Henry Guntur. 1995. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa.

Verhaar. 2006. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.