Minggu, 02 Agustus 2009

Surat untuk Ibu

Sudah dua bulan ini Siti dan ibunya harus bangun tiap tengah malam. Ibunya selalu membangunkan tidurnya di tengah malam walaupun kelihatannya ia tak rela. Tapi sikapku yang selalu memaksa untuk dibangunkan membuat ibu harus terpaksa melakukannya. Seperti biasa Siti menyiapkan bahan-bahan yang mereka butuhkan untuk membuat nasi uduk. Sedangan ibu yang meracik bumbu dan memasak nasiya. Tiap malam mereka harus berduet agar nasi uduk mereka cepat selesai dan siap untuk dijual keliling oleh ibu setiap harinya mulai dari waktu subuh.

Ibu harus menjajahkan nasi uduknya dengan berkeliling ke setiap rumah-rumah di desa seberang. Keadaan desa mereka begitu sunyi dan terpencil sehingga hampir tak ada orang yang sanggup untuk membeli nasi uduknya. Sering kali Siti mencoba ingin membantu ibunya berjualan nasi uduk di desa, tapi ibunya selalu melarangnya karena ibunya tak mau kalau Siti harus mencari uang dengan berjualan nasi uduk sama sepertinya.

Tiap kali Siti selalu merasa khawatir dan kasihan terhadap ibunya. Wanita yang hampir tua itu selalu saja tetap bersemangat melangkahkan kakinya ke jalanan yang penuh degan pasir dan bebatuan kerikil. Siti tak tega kalau harus melihat ibunya yang selalu berjuang untuk mempertahankan hidup mereka dan untuk membayar sewa rumah yang mereka tempati sekarang. Ia hanya bias berdo’a pada Allah dan menangis agar ibunya dberikan kekuatan dan kesehatan.

Ibu Ani, itulah panggilan yang biasa orang-orang teriakkan kepada wanita itu ketika ia menjajahkan nasi uduknya. Ibu Ani sudah biasa menahan ejekan tiap-tiap orang yang merasa terganggu dengan ehadirannya atau makian pedas karena nasi uduknya tak sesuai dengan selera pelanggannya.

Siti yang sedari tadi duduk melamun di laman rumah ditemai oleh hijaunya rumput-rumput liar yang menunggu untuk siap dipangkas dan debu-debu yang berterbangan manari-nari di udara mengikuti arahnya angina. Siti tak sabar menunggu kedatangan ibunya dengan bakul nasi uduk yang sudah kosog melontong habis terjual diserbu pembeli. Ia berharap uang hasil dari jualan nasi uduk ibunya dapat ditukar dengan 1kg beras untuk mereka makan hari ini.

Debu-debu karena jalanan yang berpasir itu semakin mengepul dan membuat mata Siti menjadi perih karena beberapa butir dari pasir itu masuk ke retinanya. Siti terus saja mengucek-ngucek matanya. Ketika itu dua orang laki-laki yang terlihat seram karena kepalanya yang botak dengan jaket kulit berwarna hitam yang dikenakannya yang satunya terdapat tato seperti gambar tengkorak dating menghampirinya setelah mereka memarkirkan sepeda motornya di depan rumah Siti. Siti terus saja mengamati tato tengkorak di bagiab lengan sebelah kiri salah satu laki-laki itu yang dari tadi enggerak-gerakkan tangannya yang dikepalnya dan beradu dengan telapak tangannya sebelah kiri.

Dua orang lai-laki itu rupanya hendak menagih uang kontrakan dari rumah yang ibu Ani dan Siti tempati. Mereka hendak mengancam Siti kalau ibunya tak bisa melunasi uang kontrakan. Mereka memaksa Siti untuk segera membayar uangnya, tapi Siti merasa sangat takut dan ngeri itu hanya berkata kalau ibunya sekarang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.

Badan Siti terasa sakit dan pegal-pegal akibat dua orang laki-laki tadi mendorongnya ke belakang hingga mengenai tiang di teras rumahnya. Ia harus menahan rasa sakitnya di depan ibunya karena Siti tak mau kalau ibunya sampai tau kejadian tersebut. Siti tak tega jika harus menambah penderitaan ibunya dengan keadaannya itu. Jadi, ia memilih utuk tutup mulut dan bungkam soal peristiwa yang menimpanya. Sambil terus menangis, Siti ulai berpikir tentang kehidupan ia dan ibunya. Tak mungkin ibunya bisa membayar uang kontrakan rumah hanya degan mengandalkan jualan nasi uduknya. Ia bertekad untuk membantu ibunya berjualan nasi uduk.

Dengan cepat Siti enghapus air matanya ketika ibunya pulang ke rumah setelah berjualan nasi uduk. Hari ini sepertinya ibu Anni sedikt kecewa karena nasi uduk jualannya hanya sedikit yang terjual. Ia pulang dengan membawa bakul-bakul nasi uduk yang masih tersisa.

Tapi nasi uduk yang sudah terjual cukup untuk membeli beras dan sayur-sayuran untuk mereka makan malam ini. Siang ini terpaksa mereka harus makan sisa-sisa nasi uduk yang tak laku dijual. Sambil menikmati nasi uduk yang hampir basi itu, Siti mengamati kaki ibunya yang sudah kapalan karena terus berjalan ditambah denga benyaknya lecetan yang mengeluarkan darah. Siti mengambil daun-daun di samping rumahnya lima helai untuk diobati pada luka di kaki ibunya. Ibu Ani tetap bisa tersenyum walaupun ia tau kalau kakinya yang terlihat bengkak itu terasa sangat perih dan sakit.

Setelah enjauhkan bakul dan piring nasi uduk habis mereka makan tadi, Siti mengobati luka di kaki ibunya. Ia meletakkan daun-daun yang telah di petiknya tadi di kaki ibunya yang berdarah. Ia juga menyiapkan air hangat kuku utuk merendam kaki ibunya agar bengkaknya sedikit mengempes. Sambil mengobati kaki ibunya, Siti bercerita pada ibunya kalai ia harus segera membayar kontrakan rumahnya. Untuk emmebantu mendapatkan uang, Siti bertekad utuk berjualan nasi uduk di kota. Ibu Ani tak menyetujui niat anaknya tu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena sepertinya niat Siti itu sudah bulat dan ia harus melakukannya.

Hari ini adalah hari pertama Siti berjualan nasi uduk di kota. Sepertinya pekerjaannya itu tidak membuahkan hasil. Ternyata jualan nasi uduk di kota lebih sulit daripada menjual nasi uduk di desa seberang. Siti tak bisa berbuat apa-apa. Ia terpasa harus tetap tnggal di kota karena ia tidak mempunyai uang untuk pulang ke desa. Siti berjalan mengelilingi menyusuri kota yang penuh dengan keramaian orang-orang dan kendaraan hilir mudik. Ia merasakan betapa kejamnya kehidupan di kota. Ini ia sangat merindukan ibunya di desa. Ibu Ani pasti sedang menunggu-nunggu kedatangan Siti.

Asap dari kendaraan berotor menerpa wajahnya. Siti tak menyangka kalau asap dari mesin berjalan itu lebih menakutkan dibanding dengan debu-debu pasir yang biasa ia hirup di desanya.
Kali ini habislah sudah, tas jinjing yang dibawa Siti yang berisi sedikit pakaian dan bahan-bahan untuk nasi uduknya dirampas oleh seorang pria yang sedari tadi terus saja mengamatinya. Siti memang curiga terhadap pria tersebut, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia juga tak menganal siapa-siapa di kota. Walaupun ia meminta bantuan pada orang di sekitarnya, toh itu tak memberikan kebaikan bagi Siti karena kebanyakan orang tak merespon permintaan tolongnya. ”Sebenarnya apa yang pria itu incar dariku. Tak ada yang istimewa dari diriku, apalagi tas jinjingku itu”, pikir Siti dalam hati.

Ibu Ani sangat khawatir terhadap Siti karena sampai saat ii Siti belum pulang ke rumah. ”Kemana Siti. Ya Allah lindungilah anakku di kota. Seoga Siti baik-baik saja ya Allah”, do’a ibu Ani untuk anaknya. Sudah semalaman hingga sampai bertemu pagi hari lagi Siti juga belum pulang dan tak memberi kabar. Lagi-lagi ibu Ani hanya bisa berdo’a dan memita pertolongan pada Allah. Di desa ibu Ani tetap melakukan aktivitasnya sebagai penjual nasi uduk dan kali ini tanpa ditemani oleh Siti. Ia harus tetap berjualan ke desa seberang karena ia harus mendapatkan uang untuk membayar kontrakan rumahnya.

Wajah Siti terlihat pucat dan hampir sakit. Semalaman ia harus berteman dengan dinginnya udara dan perut kosong. Tapi ia harus terus berjalan sampai ia bisa menemukan pekerjaan untuk membantu ibunya. Beberapa tempat telah Siti datangi, tapi hasilnya ia malah diusir bahkan dicaci.

Siti sangat terkejut karena ketika ia terbangun, ia sudah berada di sebuah kamar yang begitu indah dan mewah. ”Wah, di mana Aku. Sepertinya aku sedang berada di surga”, tanya Siti dalam hati dengan atanya terus mengamati setiap sedut ruangan itu. Di sampingnya ia melihat sesosok wanita setengah baya yang masih telihat cantik dan segar, tapi tampaknya wanita itu menyimpan masalah besar. Wanita itu menceritakan semua yang telah terjadi pada Siti. Mobil sedan merah milik seorang ibu muda itu telah menabrak Siti, tapi untung saja tidak terjadi sesuatu yang parah pada Siti. Karena wanita itu merasa kasihan maka ia embawa Siti pulang ke rumahnya. Bahkan wanita itu menyuruh Siti untuk tetap tinggal di rumahnya beberapa hari sampai ia sudah terlihat sehat.

Sudah seminggu Siti berada di rumah besar itu. Ia merasa tak enak hati kalau ia harus terus-terusan tinggal di rumah itu. Selama di sana Siti selalu bertanya-tanya dalam hati bahwa di kota seperti ini masih terdapat orang yang berhati muia dan sngat baik sekalipun orang tersebut adalah orang kaya dan tak dikenalnya. Namun, yang membuatnya tambah heran, rumah sebesar dan semewah ini terlihat begitu sepi dan sunyi. “Di mana para penghuni rumah ini. Aku tak melihat siapa-siapa di rumah sebesar ini selain sepasang suami istri yang terlihat masih tampak segar dan berkarier”.

Niat Siti untuk meninggalkan rumah itu sepertinya tak berhasil. Lagi-lagi sepasang suami istri itu terus-terusan membujuknya untuk tetap tinggal di rumah mereka. Sepertinya wanita tu sangat senang sekali dengan kehadiran Siti di rumah bahkan ia sampai memohon kepada Siti.

Mendengar cerita dari wanita tersebut, hati Siti menjadi tak tega untuk meninggalkannya. Wanita itu ternyata baru kehilangan anak perempuannya yang kalau asih hidup kira-kira seumuran dengan Siti sekarang. Ia dan suaminya menjadi super sibuk dengan pekerjaan mereka untuk menghilangkan rasa sedih. Wanita itu menangis di hadapan Siti. Dia sangat ingi kalau Siti tetap tinggal bersamanya bahkan menjadi anak angkatnya. Iba hati Siti melihat wanita itu. Tak pernah ia mengalami hal seperti ini. Diperlakukan sangat istimewa dan menyaksikan seorang wanta yang enangis di hadapannya dengan begitu asa. Setelah itu, Siti juga menceritakan tentang kehidupannya dan ibunya di desa, tentang niatnya ke kota, dan tentang niatnya membahagiakan ibunya. Ia sangat ingin sekali hidup mewah dan serba berkecukupan seperti sekarang ini di kota, tapi ia tak tega harus membiarkan ibunya seorang diri hidup menderita di desa.

Siti membaca surat balasan dari ibunya di desa. Tiga hari yang lalu ia mengirimkan sebuah surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia hidup baik-baik saja di kota bahkan ia menemukan keluarga yang sangat baik. Bersama surat itu juga, Siti memberikan uang yang lumayan banyak kepada ibunya di desa pemberian dari ibu angkatnya di kota. Membaca surat balasan ibunya, Siti merasa lega karena sepertinya ibunya di desa tampak senang dengan keadaan Siti sekarang. Tak lupa ibunya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sepasang suami istri itu yang begitu baik kepada Siti dan dirinya. Ibu Ani mengizinkan Siti untuk tetap tinggal di sana karena dia ingin kalau Siti bisa hidup bahagia dan senang. Ibu Ani juga menyuruh Siti untuk menerima permintaan wanita itu untuk menjadikan Siti sebagai anak angkatnya. Air mata Siti tak terasa menetes sampai membasahi surat yang dibacanya. Ia sangat merindukan ibunya di desa. Dengan cepat Siti mengambil pena dan sehelai kertas dan menulis surat balasan kepada ibunya.

Walaupun Siti jauh berada dengan ibunya di desa, tapi ia masih bisa berhubungan meskipun melalui surat yang biasa ia dan ibunya kirim sebagai media komunikasi mereka. Sampai saat ini semua surat-surat balasan dari ibunya selalu ia simpan dan jaga dengan baik dalam sebuah kotak dan diletakkannya sangat rapi di dalam lemari pakaiannya. Ini adalah surat ke sepuluh yang ia terima dari ibunya. Dalam surat tersebut ibunya berkata bahwa kontrakan rumahnya telah ia lunasi, bahkan ibunya sekarang tak perlu lagi berjualan nasi uduk karena uang yang diberikan Siti sudah cukup untuk melengkapi kebutuhannya di desa.

Siti sangat senang membaca surat dari ibunya, tapi yang ia inginkan sekarang adalah bertemu dengan ibunya. Ia sangat merindukan ibunya di desa. Siti ingin sekali pulang ke desa menemui ibunya, tapi ia tak berani bicara pada ibu angkatnya karena sepertinya ibu dan ayah angkatnya sangat sibuk sekali dengan pekerjaan mereka di kantor. Siti kembali mengambil pena dan kertas lalu menulis surat lagi untuk ibunya. Dalam surat itu Siti menuliskan bahwa sekarang ia sudah bersekolah. Ia dibiayai oleh ayah dan ibu angkatnya untuk bersekolah bahkan di sekolah yang mewah. ”Ibu pasti senang membaca surat ini karena ibu sangat ingin sekali melihatku sekolah dan bisa mencapai cita-cita”, ucap Siti sambil melipat surat itu dan memasukkan ke dalam amplop.

Sudah seminggu Siti menunggu surat balasan dari ibunya yang tidak kunjung datang. Hari demi hari ia terus membuka kotak pos di dekat pagar rumahnya. Namun, ia tak menemukan surat balasan dari ibunya. Siti menjadi ragu dan khawatir. Ia berpikir apakah ibunya telah membaca surat darinya dan membalasnya.

Bertambah khawatir Siti ketika sudah dua minggu berlalu, tapi surat balasan dari ibunya belum juga sampai padanya. Lagi-lagi Siti menulis surat untuk ibunya, tapi hasilnya sama saja. Ia tak mendapatkan surat balasan itu.

Melihat sikap Siti yang terlihat sedih dan binggung, ibu angkatnya menanyakan kepada Siti tentang keadaannya saat ini. Mendengar keluhan anak angkatnya itu, ia berniat mengajak Siti untuk pergi ke desanya untuk menemui ibunya. Keesokan harinya ia bersama dengan kedua orang tua angkatnya itu pergi ke desa tempat tinggal Siti dan ibunya. Ketika sampai di desa dan sampai di rumahnya, Siti merasa sesuatu yang beda. Siti melihat keadaan yang sepi dan sunyi dari rumahnya itu. Berkali-kali ia mengetuk pintu rumahnya, tapi ia tak mendengar sedikit suara dari dalam rumah. Hati Siti bertambah khawatir ketika salah satu warga desa yang sedang melintas di depan rumahnya menghampiri mereka dan berkata bahwa ibunya telah meninggal dunia kira-kira dua minggu yang lalu. Mendengar semua itu seketika Siti menjerit histeris dan menanggis dengan kerasnya. Ia tak percaya kalau ibunya sudah tiada dan pergi meninggalkannya.

Air mata Siti tak henti bercucuran karena mengingat ibunya. Ia menyesal telah meninggalkan ibunya sendirian di desa. Ia menyesali kenapa ia harus berpisah dengan ibunya di saat ia tak ada di samping ibunya. Siti minta diantarkan ke makam ibunya. Namun, sebelum ia berangkat menuju ke makam ibunya, ia melihat sebuah surat yang tergeletak di bawah meja teras rumahnya. Siti mengambil surat itu dan ternyata surat itu adalah surat darinya dua minggu yang lalu yang ia kirim untuk ibunya. Ternyata surat itu tak sempat dibaca oleh ibunya. Tangis Siti semakin menjadi sampai mengenai surat yang sedari tadi ia peluk. Kini kebahagiaan Siti tak dapat dirasakan oleh ibunya, tapi ia yakin kalau ibunya telah bahagia dengan keadaannya sekarang.

Yang membuat Siti merasa sedikit tenang adalah kini ia masih mempunyai orang tua yang juga sangat menyayanginya walaupun itu bukanlah orang tua kandungnya. Namun, perhatian, kasih sayang, dan dukungan yang ia rasakan sama seperti perhatian, kasih sayang, dan dukungan yang ia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.