Senin, 27 Juli 2009

Bunga Kiriman

Besok adalah hari ulang tahunku. Aku berharap aku akan mendapatkan hadiah spesial dari keluarga dan teman-temanku. Semua keluargaku ikut sibuk mempersiapkan semua keperluan-keperluan untuk perayaan ulang tahunku. Ya,, ulang tahunku kali ini akan di buat semeriah mungkin karena ini adalah ulang tahunku yang ketujuh belas tahun. Aku juga sudah menyebarkan semua undangan kepada teman-teman, tetangga, dan keluargaku di luar kota. Aku yakin kalau ulang tahunku kali ini akan sangat meriah dan mengesankan.

Tepat pukul dua belas malam. Handphoneku berdering yang membuat aku terbangun dari tidur lelapku. “Wah ternyata SMS dari teman-temanku”. Semua teman-temanku mengirimkan SMS ucapan selamat ulang tahun kepada ku. Aku tak menyangka kalau teman-temanku akan memberikan ucapan itu tepat di hari ulang tahunku. Satu per satu aku membaca ucapan itu. Anehnya, salah satu dari ucapan tersebut tercantum nama Rai. Hal itu yang membuat aku menjadi bingung dan tidak bisa tidur kembali. “Aku tidak punya teman bernama Rai. Siapa orang ini, kok dia tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku”. Karena aku merasa kalau Rai itu bukan orang yang aku kenal, jadi aku memutuskan untuk melupakan SMS ucapannya.

Sepanjang malam itu, aku berhayal bahwa besok pagi aku akan bersiap-siap dengan gaun cantikku dan bertumpuk-tumpuk hadiah di hadapanku. “hah, sungguh hari yang aku tunggu-tunggu” . Aku membayangkan kalau besok akan ada kiriman bunga spesial untuk ku karena aku sangat menyukai bunga. Aku tak sabar menantikan pagi hari.

Aku bangun dari tidurku dan ternyata aku melihat sebuah karangan bunga yang sangat indah di atas meja belajarku. Huh,,, aku langsung mengambil dan menciuminya. “Sungguh indah dan harum”. Kemudian aku meletakkan kembali bunga itu dan aku bergegas untuk mandi. Aku melihat di kaca kamar mandi ada sebuah tulisan SELAMAT ULANG TAHUN. Aku tersenyum melihat tulisan itu. Mungkin ibuku yang menulisnya.

Semua dekorasi telah siap dan satu per satu para tamu undangan sudah berdatangan ke rumahku. “Hallo Din, selamat ulang tahun ya”, seru Rika, teman paling akrab ku di sekolah. “Makasih ya, Rik”. “Dina ada kiraman buat lo”, ucap Tika, teman satu sekolahku sambil memberikan setangkai bunga mawar putih kepada Dina. “Wah, cantik sekali, dari siapa Tik”? “Waduh, gue gak tau dari siapa, gak ada namanya. Tadi ada yang meletakkannya di atas pagar rumah loe. Gak ada nama pengirimnya, tapi itu ada tulisan kalo bunga itu buat loe”.

Ya, mungkin itu dari salah satu temanku yang gak mau aku tau kalau bunga itu darinya. Dengan senang hati aku menerima bunga mawar putih itu. “Bunga yang sangat indah dan harum” .

Ibu dan ayahku harus pergi bekerja ke luar kota. Jadi aku hanya tinggal sendiri di rumah. Orang tuaku memang sengaja pulang ke rumah hanya untuk merayakan ulang tahunku. Setelah itu, mereka harus kembali lagi ke luar kota. Ya, aku memang harus menyetujui hal ini karena aku tidak mau kalau aku harus ikut pergi dan tinggal di luar kota tempat orang tuaku bekerja. Aku tidak mau meninggalkan sekolah dan teman-temanku di sini. Jadi, aku harus siap untuk tetap tinggal di rumah walaupun hanya sendiri.

Setangkai bunga mawar putih kiriman itu aku letakkan di kamarku dengan vas bunga yang indah. Setiap hari aku rawat, aku beri parfum biar tetap wangi dan tampak segar. Sepertinya orang yang mengirimkan bunga itu tau sekali kalau aku memang menyukai bunga mawar putih. Yang buat aku heran kenapa orang itu tidak memberikan nama pengirimnya. “Mungkin orang itu adalah salah satu penggemar rahasiaku,, hehe”.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika aku terbangun dari tidurku hendak pergi ke sekolah, aku melihat kalau bunga mawar putih itu layu dan semua helai bunganya jatuh ke bawah. Aku jadi sedih. “Padahal aku sudah merawatnya dengan baik dan penuh ketelitian”. Kini bunga mawar putih itu tak lagi segar dan indah. Semua mahkotanya telah layu dan berguguran.

Suasana di sekolah pagi ini begitu ramai dan hiruk pikuk. Pasalnya ada seorang siswi yang bunuh diri di dalam WC putri. “Hah, kenapa bisa begitu, kenapa ia bunuh diri”? Tanya ku. “Gak tau Din, aku juga baru datang”. Siswi itu ternyata anak kelas X1. ia mencoba untuk bunuh diri di dalam WC putri dan masalahnya juga tidak ada yang mengetahui. Kini WC putri penuh dengan police line dan polisi yang akan mencari tau sebab dari niat nekadnya itu.

Semua anak-anak kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Ketika aku hendak duduk di bangkuku, aku melihat ada setangkai bunga mawar merah yang sangat indah dan harum. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya, tapi tulisan di tangkainya itu yang membuatku yakin kalau bunga itu untukku. “wah,, ada bunga mawar lagi untukku, tapi siapa yang mengirimnya. Lagi-lagi gak ada nama pengirimnya”. Karena bunga itu ditujukan untukku maka aku mengambilnya dan meletakkannya di dalam tasku.

Ketika jam istirahat, temanku Rika dan Tika mengajakku untuk pergi makan ke kantin favorit kami. Kantin Bu Wati adalah kantin favorit aku dan teman-temanku karena selain ibu penjaganya yang sangat baik da ramah, semua makanannya juga enak-enak dan sesuai dengan selera siswa-siswi di sekolah. “Din, ayo kita ke kantin”?, ajak Tika. “Ia, kalian duluan saja, nanti aku menyusul”, jawabku. “jangan lama-lama ya”, kata Rika sambil keluar kelas menuju kantin.

Aku mengeluarkan bunga mawar merah dari dalam tasku dan menciuminya. Aku pergi menyusul teman-temanku ke kantin dengan membawa bunga mawar merah itu. Ketika di persimpangan kelas, aku melihat semua mahkota bunga mawar itu layu dan jatuh ke bawah. aku terkejut dan semakin terkejut ketika tba-tiba seorang siswa tak jauh berada di depanku terkena reruntuhan atap teras kelas yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit karena luka-lukanya cukup parah.

Siang hari setelah bel sekolah berbunyi tanda semua pelajaran telah usai, aku bergegas pulang ke rumah. Aku harus mempersiapkan buku-buku pelajaran yang akan dibawa ke rumah temanku karena kami akan mengerjakan tugas kelompok. Setelah semua siap, aku pergi menuju rumah temanku dengan mengendarai sepeda motorku. Sebelum berangkat, lagi-lagi aku menemukan setagkai bunga mawar dan kali ini berwarna kuning. Aku merasa senang sekaligus heran karena lagi-lagi bunga itu ditujukan untukku, tapi tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Karena aku buru-buru maka aku masukan saja bunga mawar itu ke dalam tasku dan langsung mengendarai sepeda motorku. Namun, tiba-tba handphoneku berbunyi. Aku menerima sebuah SMS yang bertuliskan Bagaimana dengan bunga-bunga mawar itu. Apa kamu suka? Rai. Nama itu,,, ya,,, nama itu adalah nama orang yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun pada malam di hari ulang tahunku. “Siapa Rai?, ternyata dia yang telah mengirimkan semua bunga-bunga mawar itu selama ini”.

Aku terus melajukan sepeda motorku menuju rumah temanku. Dan ketika aku berhenti di perempatan lampu merah, lagi-lagi HP ku berbunyi. Aku mengambil HP ku dari dalam tas dan ternyata suara deringnya tak lagi berbunyi. Ketika itu aku melihat bunga mawar di dalam tasku itu sudah layu dan runtuh. Aku heran dan berpikir dalam hati kenapa semua bunga mawar yang aku terima harus layu dan runtuh. Pikiranku buyar ketika aku mendengar suara keras dari arah depanku. Ternyata telah terjadi sebuah kecelakaan mobil yang membuat semua seisi mobil tewas. Aku merasa ngeri dan kasihan melihat kejadian itu.

Ketika aku kembali ke rumah, aku mulai berpikir tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi selama ini. Aku bingung kenapa aku harus melihat semua kejadian aneh dan mengerikan itu di depan mataku sendiri. Ketika itu aku mulai sadar bahwa semua bunga-bunga mawar yang dikirimkan ke aku itu seketika menjadi sebuah petaka di balik kejadian-kejadian aneh selama ini. Ketika bunga-bunga itu layu dan runtuh seketika itu pula terjadi peristiwa-peristiwa mengerikan yang aku lihat. “Tapi apa maksud semua ini, kenapa ada kejadian-kejadian aneh seperti ini”.

Semenjak itu aku tidak lagi menyukai bunga mawar. Dan semua bunga-bunga mawar milikku yang telah aku pelihara dan aku rawat telah aku buang jauh-jauh. Seketika itu juga kejadian-kejadian aneh itu tidak lagi menghantuiku.

Sabtu, 25 Juli 2009

Pecahkan Sepiku

Sepiku…..
Tak lagi kurasakan
Ketika tiba-tiba kau merasuki alamku
Kau mampu menyihirku seketika
Kau mampu menyapu bersih
setumpukan sampah yang mengganggu di beranda pikiranku
Kau membuatku menjadi kesurupan akan bayang-bayangmu

Sepiku...
Lenyap terasa
Menjelma menjadi keramaian
Walaupun tak ada keributan di sekelilingku

Candamu, ceriamu, dan gerak-gerik bibirmu
Mampu memusnahkan setan-setan penghuni
tiap-tiap manusia kesepian

Konyol...
Sungguh konyol
Bahkan kau melebihi ramainya panggung musik
Sungguh tak masuk akal
Kau ceriakanku
Bahkan melebihi bahagianya mendapat hadiah istimewa

Kau adalah bebatuan...
Yang sengaja dilempar untuk mengenaiku
Yang dengan kerasnya
Memecahkan sepiku
Membuat satu utuh menjadi keping-keping
hingga menjadi serpihan yang bertebaran

Kini sepiku telah hilang
Kau telah mampu sebarkan benih-benih damai untukku
Walaupun ku rasa hanya saat ini, menit ini, atau jam ini

Teror

Sore itu aku duduk di teras depan rumahku untuk sekedar santai menghilangkan rasa lelahku. Langit yang semakin mendung membuat perasaanku semakin kelam.
Kring……kring……, terdengar suara telepon dari dalam rumahku yang membuat aku terbangun dari lamunanku. Aku pun berlari menuju ke dalam rumah. ”Halo”, kataku memulai sapa. Tak terdengar sedikit pun suara dari telepon. “Halo”….”Halo”…., Tut…..tut……tut…..suara telepon itu putus. Aku pun meletakkan telepon di tempatnya kembali. “Siapa sih iseng banget”, kataku dalam hati. Belum sempat aku membalikkan badanku tiba-tiba, kring……suara telepon kembali berdering. ”Halo”, kataku dengan suara lesu. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Aku langsung menutup telepon tanpa ada perasaan curiga sedikitpun.
Berkali-kali aku mencoba untuk memejamkan mataku, tapi aku tetap tidak bisa larut dalam tidurku. O……iya, aku langsung teringat dengan buku cerita yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah tadi pagi. Aku langsung mengambil buku cerita itu dari dalam tasku. Aku mulai membaca buku cerita itu hingga akhirnya aku pun tertidur.
Tara………, sapa seseorang memanggil namaku sambil memegang bahuku. Aku kontan terkejut, jemariku terasa gemetaran. Karena perasaan was-was, aku tetap tidak menoleh ke belakang. Hei Tara, ini aku Bella. Aku langsung menoleh ke belakang. Hhhhh, terdengar suara nafasku ketika perasaan was-was ku mereda mengetahui bahwa yang memanggilku adalah Bella, sahabatku. Ada apa sih, Tar? Sepertinya kamu…….., ah sudahlah, kataku memotong pembicaraan Bella. Nanti pulang sekolah ada ekskul kan. Iya, jawab Bella.
Hei Tara, Bella, panggil Adi dengan terburu-buru. Ayo cepat ke ruangan ekskul seni. Ada apa? Tanyaku penasaran. Cepet deh nanti saja ceritanya. Mendengar perkataan Adi aku dan Bella langsung berlari keluar kelas menuju keruangan ekskul seni.
Di, sebenarnya ada apa sih? Tanya Bella, kok semua murid berkumpul didepan ruang ekskul seni. Kalian tahukan Ami. Ami anak kelas X itu, potongku. Ia, jawab Adi. Dia terkunci di ruang ekskul seni ketika dia mau membereskan semua peralatan seni. Waktu Ami masuk, dia tidak mengunci pintunya dan tak ada seorangpun yang mengunci dari luar. Guru-guru dan semua murid jadi panik atas kejadian ini. Terpaksa guru-guru harus mendobrak pintu itu karena kunci duplikatnya tidak ditemukan.
Kejadian tadi sangat aneh ya Bel, kataku. Iya, kok bisa ya. Kami pun diam sejenak memikirkan kejadian tadi. Tiba-tiba, aaaghhh…….., terdengar teriakan seorang perempuan dari arah wc putri. Aku dan Bella saling menatap dan ”ayo kita ke sana Bel”. Kami berlari menuju ke arah wc putri. Lia!!! Ada apa Li? Kenapa kamu berteriak? Tanyaku. Teriak??? Siapa yang teriak. Lho ada suara teriakan dari dalam wc ini, kata Bella. Tidak, aku tidak teriak, dan tidak ada orang lain di wc ini, mungkin kalian salah dengar kali.
Teng……teng…….teng……., bel sekolah tanda pulang berbunyi. Semua siswa pulang ke rumah masing-masing. Aku dan Bella sudah menunggu di ruang ekskul, ”Mana teman-teman yang lain”? tanyaku. Bella hanya mengangkat bahunya dan geleng-geleng kepala. Tar, aku keluar sebentar ya, seru Bella. Jangan lama –lama ya , kataku.
Lima belas menit berlalu. ”Bella kemana ya”? kataku sambil menuju keluar.”kok lama sekali, teman-teman sudah ngumpul nih”.aku keluar ruangan untuk mencari Bella. Aku sudah mencari Bella di seluruh ruangan. Tapi tidak kutemukan sahabatku itu. Hingga akhirnya aku menuju ke kebun di belakang sekolah. ”Bella……Bella….., di mana kamu? ”jangan takuti aku dong”. Terdengar oleh ku langkah kaki seseorang di balik semak-semak. ”Bella……teriakku. aku langsung menuju ke balik sema-semak itu. ”Bella”, panggilku. ”ah, tidak ada”.
Hari sudah semakin sore tapi aku belum juga menemukan Bella. Aku terus berjalan hingga aku menemukan sebuah gubuk tua. ”Tempat apa itu”, tanyaku dalam hati. ”kok aku tidak tahu kalau di kebun belakang sekolah ada sebuah gubuk”. Aku pun masuk ke dalam gubuk itu.
“aaaghhhhh………”aku terjatuh dari gubuk tua itu. Aku mencoba untuk bangun kembali tapi tubuhku terasa sangat sakit. ”Siapa”? Siapa yang mendorongku? Aku ingat saat aku masuk ke gubuk itu, yah, sesosok bayangan hitam mendorongku hingga aku terjatuh. ”tapi siapa itu”. Ya Tuhan, apa lagi ini. ”Aku heran kenapa akhir-akhir ini banyak sekali kejadian-kejadian aneh. Waktu itu Ami anak kelas X terkunci di ruangan ekskul, terus ada suara jeritan dari dalam wc putri, sebelumnya ada temanku yang kesurupan dan apa lagi ini, Bella menghilang dan siapa yang mendorong aku”.
Aku mencoba untuk bangkit dari jatuhku. Aku berpikir lebih baik aku keluar dari tempat ini, soal Bella akan ku ceritakan pada orang tuanya. Aku mencoba untuk kembali, tapi “astaga”!!! di mana pintu keluarnya”. Aku lupa tempatnya atau…………………!!!!! Aku terjatuh karena lemas dan pingsan.
Ketika aku sadar, dihadapanku terlihat sesosok makhluk aneh yang berjubah hitam. ”Bella”??? sosok itupun mencoba untuk mencekik leher ku. “TIDAKKKKK………..”!!!
Kring…….kring….., terdengar suara wekerku berbunyi. Wah gawat, aku terlambat ke sekolah. Ini pasti gara-gara aku baca buku cerita yang berjudul Teror itu!!!!!!!!!!!!!!!!!

entah mengapa

q juga tak tau kenapa harus saat ini.
q ingin mencoba sesuatu yang belum aq coba sbelumnya...
mungkin kekuatan itu baru datang pada saat ini...