Minggu, 02 Agustus 2009

Surat untuk Ibu

Sudah dua bulan ini Siti dan ibunya harus bangun tiap tengah malam. Ibunya selalu membangunkan tidurnya di tengah malam walaupun kelihatannya ia tak rela. Tapi sikapku yang selalu memaksa untuk dibangunkan membuat ibu harus terpaksa melakukannya. Seperti biasa Siti menyiapkan bahan-bahan yang mereka butuhkan untuk membuat nasi uduk. Sedangan ibu yang meracik bumbu dan memasak nasiya. Tiap malam mereka harus berduet agar nasi uduk mereka cepat selesai dan siap untuk dijual keliling oleh ibu setiap harinya mulai dari waktu subuh.

Ibu harus menjajahkan nasi uduknya dengan berkeliling ke setiap rumah-rumah di desa seberang. Keadaan desa mereka begitu sunyi dan terpencil sehingga hampir tak ada orang yang sanggup untuk membeli nasi uduknya. Sering kali Siti mencoba ingin membantu ibunya berjualan nasi uduk di desa, tapi ibunya selalu melarangnya karena ibunya tak mau kalau Siti harus mencari uang dengan berjualan nasi uduk sama sepertinya.

Tiap kali Siti selalu merasa khawatir dan kasihan terhadap ibunya. Wanita yang hampir tua itu selalu saja tetap bersemangat melangkahkan kakinya ke jalanan yang penuh degan pasir dan bebatuan kerikil. Siti tak tega kalau harus melihat ibunya yang selalu berjuang untuk mempertahankan hidup mereka dan untuk membayar sewa rumah yang mereka tempati sekarang. Ia hanya bias berdo’a pada Allah dan menangis agar ibunya dberikan kekuatan dan kesehatan.

Ibu Ani, itulah panggilan yang biasa orang-orang teriakkan kepada wanita itu ketika ia menjajahkan nasi uduknya. Ibu Ani sudah biasa menahan ejekan tiap-tiap orang yang merasa terganggu dengan ehadirannya atau makian pedas karena nasi uduknya tak sesuai dengan selera pelanggannya.

Siti yang sedari tadi duduk melamun di laman rumah ditemai oleh hijaunya rumput-rumput liar yang menunggu untuk siap dipangkas dan debu-debu yang berterbangan manari-nari di udara mengikuti arahnya angina. Siti tak sabar menunggu kedatangan ibunya dengan bakul nasi uduk yang sudah kosog melontong habis terjual diserbu pembeli. Ia berharap uang hasil dari jualan nasi uduk ibunya dapat ditukar dengan 1kg beras untuk mereka makan hari ini.

Debu-debu karena jalanan yang berpasir itu semakin mengepul dan membuat mata Siti menjadi perih karena beberapa butir dari pasir itu masuk ke retinanya. Siti terus saja mengucek-ngucek matanya. Ketika itu dua orang laki-laki yang terlihat seram karena kepalanya yang botak dengan jaket kulit berwarna hitam yang dikenakannya yang satunya terdapat tato seperti gambar tengkorak dating menghampirinya setelah mereka memarkirkan sepeda motornya di depan rumah Siti. Siti terus saja mengamati tato tengkorak di bagiab lengan sebelah kiri salah satu laki-laki itu yang dari tadi enggerak-gerakkan tangannya yang dikepalnya dan beradu dengan telapak tangannya sebelah kiri.

Dua orang lai-laki itu rupanya hendak menagih uang kontrakan dari rumah yang ibu Ani dan Siti tempati. Mereka hendak mengancam Siti kalau ibunya tak bisa melunasi uang kontrakan. Mereka memaksa Siti untuk segera membayar uangnya, tapi Siti merasa sangat takut dan ngeri itu hanya berkata kalau ibunya sekarang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.

Badan Siti terasa sakit dan pegal-pegal akibat dua orang laki-laki tadi mendorongnya ke belakang hingga mengenai tiang di teras rumahnya. Ia harus menahan rasa sakitnya di depan ibunya karena Siti tak mau kalau ibunya sampai tau kejadian tersebut. Siti tak tega jika harus menambah penderitaan ibunya dengan keadaannya itu. Jadi, ia memilih utuk tutup mulut dan bungkam soal peristiwa yang menimpanya. Sambil terus menangis, Siti ulai berpikir tentang kehidupan ia dan ibunya. Tak mungkin ibunya bisa membayar uang kontrakan rumah hanya degan mengandalkan jualan nasi uduknya. Ia bertekad untuk membantu ibunya berjualan nasi uduk.

Dengan cepat Siti enghapus air matanya ketika ibunya pulang ke rumah setelah berjualan nasi uduk. Hari ini sepertinya ibu Anni sedikt kecewa karena nasi uduk jualannya hanya sedikit yang terjual. Ia pulang dengan membawa bakul-bakul nasi uduk yang masih tersisa.

Tapi nasi uduk yang sudah terjual cukup untuk membeli beras dan sayur-sayuran untuk mereka makan malam ini. Siang ini terpaksa mereka harus makan sisa-sisa nasi uduk yang tak laku dijual. Sambil menikmati nasi uduk yang hampir basi itu, Siti mengamati kaki ibunya yang sudah kapalan karena terus berjalan ditambah denga benyaknya lecetan yang mengeluarkan darah. Siti mengambil daun-daun di samping rumahnya lima helai untuk diobati pada luka di kaki ibunya. Ibu Ani tetap bisa tersenyum walaupun ia tau kalau kakinya yang terlihat bengkak itu terasa sangat perih dan sakit.

Setelah enjauhkan bakul dan piring nasi uduk habis mereka makan tadi, Siti mengobati luka di kaki ibunya. Ia meletakkan daun-daun yang telah di petiknya tadi di kaki ibunya yang berdarah. Ia juga menyiapkan air hangat kuku utuk merendam kaki ibunya agar bengkaknya sedikit mengempes. Sambil mengobati kaki ibunya, Siti bercerita pada ibunya kalai ia harus segera membayar kontrakan rumahnya. Untuk emmebantu mendapatkan uang, Siti bertekad utuk berjualan nasi uduk di kota. Ibu Ani tak menyetujui niat anaknya tu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena sepertinya niat Siti itu sudah bulat dan ia harus melakukannya.

Hari ini adalah hari pertama Siti berjualan nasi uduk di kota. Sepertinya pekerjaannya itu tidak membuahkan hasil. Ternyata jualan nasi uduk di kota lebih sulit daripada menjual nasi uduk di desa seberang. Siti tak bisa berbuat apa-apa. Ia terpasa harus tetap tnggal di kota karena ia tidak mempunyai uang untuk pulang ke desa. Siti berjalan mengelilingi menyusuri kota yang penuh dengan keramaian orang-orang dan kendaraan hilir mudik. Ia merasakan betapa kejamnya kehidupan di kota. Ini ia sangat merindukan ibunya di desa. Ibu Ani pasti sedang menunggu-nunggu kedatangan Siti.

Asap dari kendaraan berotor menerpa wajahnya. Siti tak menyangka kalau asap dari mesin berjalan itu lebih menakutkan dibanding dengan debu-debu pasir yang biasa ia hirup di desanya.
Kali ini habislah sudah, tas jinjing yang dibawa Siti yang berisi sedikit pakaian dan bahan-bahan untuk nasi uduknya dirampas oleh seorang pria yang sedari tadi terus saja mengamatinya. Siti memang curiga terhadap pria tersebut, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia juga tak menganal siapa-siapa di kota. Walaupun ia meminta bantuan pada orang di sekitarnya, toh itu tak memberikan kebaikan bagi Siti karena kebanyakan orang tak merespon permintaan tolongnya. ”Sebenarnya apa yang pria itu incar dariku. Tak ada yang istimewa dari diriku, apalagi tas jinjingku itu”, pikir Siti dalam hati.

Ibu Ani sangat khawatir terhadap Siti karena sampai saat ii Siti belum pulang ke rumah. ”Kemana Siti. Ya Allah lindungilah anakku di kota. Seoga Siti baik-baik saja ya Allah”, do’a ibu Ani untuk anaknya. Sudah semalaman hingga sampai bertemu pagi hari lagi Siti juga belum pulang dan tak memberi kabar. Lagi-lagi ibu Ani hanya bisa berdo’a dan memita pertolongan pada Allah. Di desa ibu Ani tetap melakukan aktivitasnya sebagai penjual nasi uduk dan kali ini tanpa ditemani oleh Siti. Ia harus tetap berjualan ke desa seberang karena ia harus mendapatkan uang untuk membayar kontrakan rumahnya.

Wajah Siti terlihat pucat dan hampir sakit. Semalaman ia harus berteman dengan dinginnya udara dan perut kosong. Tapi ia harus terus berjalan sampai ia bisa menemukan pekerjaan untuk membantu ibunya. Beberapa tempat telah Siti datangi, tapi hasilnya ia malah diusir bahkan dicaci.

Siti sangat terkejut karena ketika ia terbangun, ia sudah berada di sebuah kamar yang begitu indah dan mewah. ”Wah, di mana Aku. Sepertinya aku sedang berada di surga”, tanya Siti dalam hati dengan atanya terus mengamati setiap sedut ruangan itu. Di sampingnya ia melihat sesosok wanita setengah baya yang masih telihat cantik dan segar, tapi tampaknya wanita itu menyimpan masalah besar. Wanita itu menceritakan semua yang telah terjadi pada Siti. Mobil sedan merah milik seorang ibu muda itu telah menabrak Siti, tapi untung saja tidak terjadi sesuatu yang parah pada Siti. Karena wanita itu merasa kasihan maka ia embawa Siti pulang ke rumahnya. Bahkan wanita itu menyuruh Siti untuk tetap tinggal di rumahnya beberapa hari sampai ia sudah terlihat sehat.

Sudah seminggu Siti berada di rumah besar itu. Ia merasa tak enak hati kalau ia harus terus-terusan tinggal di rumah itu. Selama di sana Siti selalu bertanya-tanya dalam hati bahwa di kota seperti ini masih terdapat orang yang berhati muia dan sngat baik sekalipun orang tersebut adalah orang kaya dan tak dikenalnya. Namun, yang membuatnya tambah heran, rumah sebesar dan semewah ini terlihat begitu sepi dan sunyi. “Di mana para penghuni rumah ini. Aku tak melihat siapa-siapa di rumah sebesar ini selain sepasang suami istri yang terlihat masih tampak segar dan berkarier”.

Niat Siti untuk meninggalkan rumah itu sepertinya tak berhasil. Lagi-lagi sepasang suami istri itu terus-terusan membujuknya untuk tetap tinggal di rumah mereka. Sepertinya wanita tu sangat senang sekali dengan kehadiran Siti di rumah bahkan ia sampai memohon kepada Siti.

Mendengar cerita dari wanita tersebut, hati Siti menjadi tak tega untuk meninggalkannya. Wanita itu ternyata baru kehilangan anak perempuannya yang kalau asih hidup kira-kira seumuran dengan Siti sekarang. Ia dan suaminya menjadi super sibuk dengan pekerjaan mereka untuk menghilangkan rasa sedih. Wanita itu menangis di hadapan Siti. Dia sangat ingi kalau Siti tetap tinggal bersamanya bahkan menjadi anak angkatnya. Iba hati Siti melihat wanita itu. Tak pernah ia mengalami hal seperti ini. Diperlakukan sangat istimewa dan menyaksikan seorang wanta yang enangis di hadapannya dengan begitu asa. Setelah itu, Siti juga menceritakan tentang kehidupannya dan ibunya di desa, tentang niatnya ke kota, dan tentang niatnya membahagiakan ibunya. Ia sangat ingin sekali hidup mewah dan serba berkecukupan seperti sekarang ini di kota, tapi ia tak tega harus membiarkan ibunya seorang diri hidup menderita di desa.

Siti membaca surat balasan dari ibunya di desa. Tiga hari yang lalu ia mengirimkan sebuah surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia hidup baik-baik saja di kota bahkan ia menemukan keluarga yang sangat baik. Bersama surat itu juga, Siti memberikan uang yang lumayan banyak kepada ibunya di desa pemberian dari ibu angkatnya di kota. Membaca surat balasan ibunya, Siti merasa lega karena sepertinya ibunya di desa tampak senang dengan keadaan Siti sekarang. Tak lupa ibunya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sepasang suami istri itu yang begitu baik kepada Siti dan dirinya. Ibu Ani mengizinkan Siti untuk tetap tinggal di sana karena dia ingin kalau Siti bisa hidup bahagia dan senang. Ibu Ani juga menyuruh Siti untuk menerima permintaan wanita itu untuk menjadikan Siti sebagai anak angkatnya. Air mata Siti tak terasa menetes sampai membasahi surat yang dibacanya. Ia sangat merindukan ibunya di desa. Dengan cepat Siti mengambil pena dan sehelai kertas dan menulis surat balasan kepada ibunya.

Walaupun Siti jauh berada dengan ibunya di desa, tapi ia masih bisa berhubungan meskipun melalui surat yang biasa ia dan ibunya kirim sebagai media komunikasi mereka. Sampai saat ini semua surat-surat balasan dari ibunya selalu ia simpan dan jaga dengan baik dalam sebuah kotak dan diletakkannya sangat rapi di dalam lemari pakaiannya. Ini adalah surat ke sepuluh yang ia terima dari ibunya. Dalam surat tersebut ibunya berkata bahwa kontrakan rumahnya telah ia lunasi, bahkan ibunya sekarang tak perlu lagi berjualan nasi uduk karena uang yang diberikan Siti sudah cukup untuk melengkapi kebutuhannya di desa.

Siti sangat senang membaca surat dari ibunya, tapi yang ia inginkan sekarang adalah bertemu dengan ibunya. Ia sangat merindukan ibunya di desa. Siti ingin sekali pulang ke desa menemui ibunya, tapi ia tak berani bicara pada ibu angkatnya karena sepertinya ibu dan ayah angkatnya sangat sibuk sekali dengan pekerjaan mereka di kantor. Siti kembali mengambil pena dan kertas lalu menulis surat lagi untuk ibunya. Dalam surat itu Siti menuliskan bahwa sekarang ia sudah bersekolah. Ia dibiayai oleh ayah dan ibu angkatnya untuk bersekolah bahkan di sekolah yang mewah. ”Ibu pasti senang membaca surat ini karena ibu sangat ingin sekali melihatku sekolah dan bisa mencapai cita-cita”, ucap Siti sambil melipat surat itu dan memasukkan ke dalam amplop.

Sudah seminggu Siti menunggu surat balasan dari ibunya yang tidak kunjung datang. Hari demi hari ia terus membuka kotak pos di dekat pagar rumahnya. Namun, ia tak menemukan surat balasan dari ibunya. Siti menjadi ragu dan khawatir. Ia berpikir apakah ibunya telah membaca surat darinya dan membalasnya.

Bertambah khawatir Siti ketika sudah dua minggu berlalu, tapi surat balasan dari ibunya belum juga sampai padanya. Lagi-lagi Siti menulis surat untuk ibunya, tapi hasilnya sama saja. Ia tak mendapatkan surat balasan itu.

Melihat sikap Siti yang terlihat sedih dan binggung, ibu angkatnya menanyakan kepada Siti tentang keadaannya saat ini. Mendengar keluhan anak angkatnya itu, ia berniat mengajak Siti untuk pergi ke desanya untuk menemui ibunya. Keesokan harinya ia bersama dengan kedua orang tua angkatnya itu pergi ke desa tempat tinggal Siti dan ibunya. Ketika sampai di desa dan sampai di rumahnya, Siti merasa sesuatu yang beda. Siti melihat keadaan yang sepi dan sunyi dari rumahnya itu. Berkali-kali ia mengetuk pintu rumahnya, tapi ia tak mendengar sedikit suara dari dalam rumah. Hati Siti bertambah khawatir ketika salah satu warga desa yang sedang melintas di depan rumahnya menghampiri mereka dan berkata bahwa ibunya telah meninggal dunia kira-kira dua minggu yang lalu. Mendengar semua itu seketika Siti menjerit histeris dan menanggis dengan kerasnya. Ia tak percaya kalau ibunya sudah tiada dan pergi meninggalkannya.

Air mata Siti tak henti bercucuran karena mengingat ibunya. Ia menyesal telah meninggalkan ibunya sendirian di desa. Ia menyesali kenapa ia harus berpisah dengan ibunya di saat ia tak ada di samping ibunya. Siti minta diantarkan ke makam ibunya. Namun, sebelum ia berangkat menuju ke makam ibunya, ia melihat sebuah surat yang tergeletak di bawah meja teras rumahnya. Siti mengambil surat itu dan ternyata surat itu adalah surat darinya dua minggu yang lalu yang ia kirim untuk ibunya. Ternyata surat itu tak sempat dibaca oleh ibunya. Tangis Siti semakin menjadi sampai mengenai surat yang sedari tadi ia peluk. Kini kebahagiaan Siti tak dapat dirasakan oleh ibunya, tapi ia yakin kalau ibunya telah bahagia dengan keadaannya sekarang.

Yang membuat Siti merasa sedikit tenang adalah kini ia masih mempunyai orang tua yang juga sangat menyayanginya walaupun itu bukanlah orang tua kandungnya. Namun, perhatian, kasih sayang, dan dukungan yang ia rasakan sama seperti perhatian, kasih sayang, dan dukungan yang ia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.

Senin, 27 Juli 2009

Bunga Kiriman

Besok adalah hari ulang tahunku. Aku berharap aku akan mendapatkan hadiah spesial dari keluarga dan teman-temanku. Semua keluargaku ikut sibuk mempersiapkan semua keperluan-keperluan untuk perayaan ulang tahunku. Ya,, ulang tahunku kali ini akan di buat semeriah mungkin karena ini adalah ulang tahunku yang ketujuh belas tahun. Aku juga sudah menyebarkan semua undangan kepada teman-teman, tetangga, dan keluargaku di luar kota. Aku yakin kalau ulang tahunku kali ini akan sangat meriah dan mengesankan.

Tepat pukul dua belas malam. Handphoneku berdering yang membuat aku terbangun dari tidur lelapku. “Wah ternyata SMS dari teman-temanku”. Semua teman-temanku mengirimkan SMS ucapan selamat ulang tahun kepada ku. Aku tak menyangka kalau teman-temanku akan memberikan ucapan itu tepat di hari ulang tahunku. Satu per satu aku membaca ucapan itu. Anehnya, salah satu dari ucapan tersebut tercantum nama Rai. Hal itu yang membuat aku menjadi bingung dan tidak bisa tidur kembali. “Aku tidak punya teman bernama Rai. Siapa orang ini, kok dia tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku”. Karena aku merasa kalau Rai itu bukan orang yang aku kenal, jadi aku memutuskan untuk melupakan SMS ucapannya.

Sepanjang malam itu, aku berhayal bahwa besok pagi aku akan bersiap-siap dengan gaun cantikku dan bertumpuk-tumpuk hadiah di hadapanku. “hah, sungguh hari yang aku tunggu-tunggu” . Aku membayangkan kalau besok akan ada kiriman bunga spesial untuk ku karena aku sangat menyukai bunga. Aku tak sabar menantikan pagi hari.

Aku bangun dari tidurku dan ternyata aku melihat sebuah karangan bunga yang sangat indah di atas meja belajarku. Huh,,, aku langsung mengambil dan menciuminya. “Sungguh indah dan harum”. Kemudian aku meletakkan kembali bunga itu dan aku bergegas untuk mandi. Aku melihat di kaca kamar mandi ada sebuah tulisan SELAMAT ULANG TAHUN. Aku tersenyum melihat tulisan itu. Mungkin ibuku yang menulisnya.

Semua dekorasi telah siap dan satu per satu para tamu undangan sudah berdatangan ke rumahku. “Hallo Din, selamat ulang tahun ya”, seru Rika, teman paling akrab ku di sekolah. “Makasih ya, Rik”. “Dina ada kiraman buat lo”, ucap Tika, teman satu sekolahku sambil memberikan setangkai bunga mawar putih kepada Dina. “Wah, cantik sekali, dari siapa Tik”? “Waduh, gue gak tau dari siapa, gak ada namanya. Tadi ada yang meletakkannya di atas pagar rumah loe. Gak ada nama pengirimnya, tapi itu ada tulisan kalo bunga itu buat loe”.

Ya, mungkin itu dari salah satu temanku yang gak mau aku tau kalau bunga itu darinya. Dengan senang hati aku menerima bunga mawar putih itu. “Bunga yang sangat indah dan harum” .

Ibu dan ayahku harus pergi bekerja ke luar kota. Jadi aku hanya tinggal sendiri di rumah. Orang tuaku memang sengaja pulang ke rumah hanya untuk merayakan ulang tahunku. Setelah itu, mereka harus kembali lagi ke luar kota. Ya, aku memang harus menyetujui hal ini karena aku tidak mau kalau aku harus ikut pergi dan tinggal di luar kota tempat orang tuaku bekerja. Aku tidak mau meninggalkan sekolah dan teman-temanku di sini. Jadi, aku harus siap untuk tetap tinggal di rumah walaupun hanya sendiri.

Setangkai bunga mawar putih kiriman itu aku letakkan di kamarku dengan vas bunga yang indah. Setiap hari aku rawat, aku beri parfum biar tetap wangi dan tampak segar. Sepertinya orang yang mengirimkan bunga itu tau sekali kalau aku memang menyukai bunga mawar putih. Yang buat aku heran kenapa orang itu tidak memberikan nama pengirimnya. “Mungkin orang itu adalah salah satu penggemar rahasiaku,, hehe”.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika aku terbangun dari tidurku hendak pergi ke sekolah, aku melihat kalau bunga mawar putih itu layu dan semua helai bunganya jatuh ke bawah. Aku jadi sedih. “Padahal aku sudah merawatnya dengan baik dan penuh ketelitian”. Kini bunga mawar putih itu tak lagi segar dan indah. Semua mahkotanya telah layu dan berguguran.

Suasana di sekolah pagi ini begitu ramai dan hiruk pikuk. Pasalnya ada seorang siswi yang bunuh diri di dalam WC putri. “Hah, kenapa bisa begitu, kenapa ia bunuh diri”? Tanya ku. “Gak tau Din, aku juga baru datang”. Siswi itu ternyata anak kelas X1. ia mencoba untuk bunuh diri di dalam WC putri dan masalahnya juga tidak ada yang mengetahui. Kini WC putri penuh dengan police line dan polisi yang akan mencari tau sebab dari niat nekadnya itu.

Semua anak-anak kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Ketika aku hendak duduk di bangkuku, aku melihat ada setangkai bunga mawar merah yang sangat indah dan harum. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya, tapi tulisan di tangkainya itu yang membuatku yakin kalau bunga itu untukku. “wah,, ada bunga mawar lagi untukku, tapi siapa yang mengirimnya. Lagi-lagi gak ada nama pengirimnya”. Karena bunga itu ditujukan untukku maka aku mengambilnya dan meletakkannya di dalam tasku.

Ketika jam istirahat, temanku Rika dan Tika mengajakku untuk pergi makan ke kantin favorit kami. Kantin Bu Wati adalah kantin favorit aku dan teman-temanku karena selain ibu penjaganya yang sangat baik da ramah, semua makanannya juga enak-enak dan sesuai dengan selera siswa-siswi di sekolah. “Din, ayo kita ke kantin”?, ajak Tika. “Ia, kalian duluan saja, nanti aku menyusul”, jawabku. “jangan lama-lama ya”, kata Rika sambil keluar kelas menuju kantin.

Aku mengeluarkan bunga mawar merah dari dalam tasku dan menciuminya. Aku pergi menyusul teman-temanku ke kantin dengan membawa bunga mawar merah itu. Ketika di persimpangan kelas, aku melihat semua mahkota bunga mawar itu layu dan jatuh ke bawah. aku terkejut dan semakin terkejut ketika tba-tiba seorang siswa tak jauh berada di depanku terkena reruntuhan atap teras kelas yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit karena luka-lukanya cukup parah.

Siang hari setelah bel sekolah berbunyi tanda semua pelajaran telah usai, aku bergegas pulang ke rumah. Aku harus mempersiapkan buku-buku pelajaran yang akan dibawa ke rumah temanku karena kami akan mengerjakan tugas kelompok. Setelah semua siap, aku pergi menuju rumah temanku dengan mengendarai sepeda motorku. Sebelum berangkat, lagi-lagi aku menemukan setagkai bunga mawar dan kali ini berwarna kuning. Aku merasa senang sekaligus heran karena lagi-lagi bunga itu ditujukan untukku, tapi tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Karena aku buru-buru maka aku masukan saja bunga mawar itu ke dalam tasku dan langsung mengendarai sepeda motorku. Namun, tiba-tba handphoneku berbunyi. Aku menerima sebuah SMS yang bertuliskan Bagaimana dengan bunga-bunga mawar itu. Apa kamu suka? Rai. Nama itu,,, ya,,, nama itu adalah nama orang yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun pada malam di hari ulang tahunku. “Siapa Rai?, ternyata dia yang telah mengirimkan semua bunga-bunga mawar itu selama ini”.

Aku terus melajukan sepeda motorku menuju rumah temanku. Dan ketika aku berhenti di perempatan lampu merah, lagi-lagi HP ku berbunyi. Aku mengambil HP ku dari dalam tas dan ternyata suara deringnya tak lagi berbunyi. Ketika itu aku melihat bunga mawar di dalam tasku itu sudah layu dan runtuh. Aku heran dan berpikir dalam hati kenapa semua bunga mawar yang aku terima harus layu dan runtuh. Pikiranku buyar ketika aku mendengar suara keras dari arah depanku. Ternyata telah terjadi sebuah kecelakaan mobil yang membuat semua seisi mobil tewas. Aku merasa ngeri dan kasihan melihat kejadian itu.

Ketika aku kembali ke rumah, aku mulai berpikir tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi selama ini. Aku bingung kenapa aku harus melihat semua kejadian aneh dan mengerikan itu di depan mataku sendiri. Ketika itu aku mulai sadar bahwa semua bunga-bunga mawar yang dikirimkan ke aku itu seketika menjadi sebuah petaka di balik kejadian-kejadian aneh selama ini. Ketika bunga-bunga itu layu dan runtuh seketika itu pula terjadi peristiwa-peristiwa mengerikan yang aku lihat. “Tapi apa maksud semua ini, kenapa ada kejadian-kejadian aneh seperti ini”.

Semenjak itu aku tidak lagi menyukai bunga mawar. Dan semua bunga-bunga mawar milikku yang telah aku pelihara dan aku rawat telah aku buang jauh-jauh. Seketika itu juga kejadian-kejadian aneh itu tidak lagi menghantuiku.

Sabtu, 25 Juli 2009

Pecahkan Sepiku

Sepiku…..
Tak lagi kurasakan
Ketika tiba-tiba kau merasuki alamku
Kau mampu menyihirku seketika
Kau mampu menyapu bersih
setumpukan sampah yang mengganggu di beranda pikiranku
Kau membuatku menjadi kesurupan akan bayang-bayangmu

Sepiku...
Lenyap terasa
Menjelma menjadi keramaian
Walaupun tak ada keributan di sekelilingku

Candamu, ceriamu, dan gerak-gerik bibirmu
Mampu memusnahkan setan-setan penghuni
tiap-tiap manusia kesepian

Konyol...
Sungguh konyol
Bahkan kau melebihi ramainya panggung musik
Sungguh tak masuk akal
Kau ceriakanku
Bahkan melebihi bahagianya mendapat hadiah istimewa

Kau adalah bebatuan...
Yang sengaja dilempar untuk mengenaiku
Yang dengan kerasnya
Memecahkan sepiku
Membuat satu utuh menjadi keping-keping
hingga menjadi serpihan yang bertebaran

Kini sepiku telah hilang
Kau telah mampu sebarkan benih-benih damai untukku
Walaupun ku rasa hanya saat ini, menit ini, atau jam ini

Teror

Sore itu aku duduk di teras depan rumahku untuk sekedar santai menghilangkan rasa lelahku. Langit yang semakin mendung membuat perasaanku semakin kelam.
Kring……kring……, terdengar suara telepon dari dalam rumahku yang membuat aku terbangun dari lamunanku. Aku pun berlari menuju ke dalam rumah. ”Halo”, kataku memulai sapa. Tak terdengar sedikit pun suara dari telepon. “Halo”….”Halo”…., Tut…..tut……tut…..suara telepon itu putus. Aku pun meletakkan telepon di tempatnya kembali. “Siapa sih iseng banget”, kataku dalam hati. Belum sempat aku membalikkan badanku tiba-tiba, kring……suara telepon kembali berdering. ”Halo”, kataku dengan suara lesu. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Aku langsung menutup telepon tanpa ada perasaan curiga sedikitpun.
Berkali-kali aku mencoba untuk memejamkan mataku, tapi aku tetap tidak bisa larut dalam tidurku. O……iya, aku langsung teringat dengan buku cerita yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah tadi pagi. Aku langsung mengambil buku cerita itu dari dalam tasku. Aku mulai membaca buku cerita itu hingga akhirnya aku pun tertidur.
Tara………, sapa seseorang memanggil namaku sambil memegang bahuku. Aku kontan terkejut, jemariku terasa gemetaran. Karena perasaan was-was, aku tetap tidak menoleh ke belakang. Hei Tara, ini aku Bella. Aku langsung menoleh ke belakang. Hhhhh, terdengar suara nafasku ketika perasaan was-was ku mereda mengetahui bahwa yang memanggilku adalah Bella, sahabatku. Ada apa sih, Tar? Sepertinya kamu…….., ah sudahlah, kataku memotong pembicaraan Bella. Nanti pulang sekolah ada ekskul kan. Iya, jawab Bella.
Hei Tara, Bella, panggil Adi dengan terburu-buru. Ayo cepat ke ruangan ekskul seni. Ada apa? Tanyaku penasaran. Cepet deh nanti saja ceritanya. Mendengar perkataan Adi aku dan Bella langsung berlari keluar kelas menuju keruangan ekskul seni.
Di, sebenarnya ada apa sih? Tanya Bella, kok semua murid berkumpul didepan ruang ekskul seni. Kalian tahukan Ami. Ami anak kelas X itu, potongku. Ia, jawab Adi. Dia terkunci di ruang ekskul seni ketika dia mau membereskan semua peralatan seni. Waktu Ami masuk, dia tidak mengunci pintunya dan tak ada seorangpun yang mengunci dari luar. Guru-guru dan semua murid jadi panik atas kejadian ini. Terpaksa guru-guru harus mendobrak pintu itu karena kunci duplikatnya tidak ditemukan.
Kejadian tadi sangat aneh ya Bel, kataku. Iya, kok bisa ya. Kami pun diam sejenak memikirkan kejadian tadi. Tiba-tiba, aaaghhh…….., terdengar teriakan seorang perempuan dari arah wc putri. Aku dan Bella saling menatap dan ”ayo kita ke sana Bel”. Kami berlari menuju ke arah wc putri. Lia!!! Ada apa Li? Kenapa kamu berteriak? Tanyaku. Teriak??? Siapa yang teriak. Lho ada suara teriakan dari dalam wc ini, kata Bella. Tidak, aku tidak teriak, dan tidak ada orang lain di wc ini, mungkin kalian salah dengar kali.
Teng……teng…….teng……., bel sekolah tanda pulang berbunyi. Semua siswa pulang ke rumah masing-masing. Aku dan Bella sudah menunggu di ruang ekskul, ”Mana teman-teman yang lain”? tanyaku. Bella hanya mengangkat bahunya dan geleng-geleng kepala. Tar, aku keluar sebentar ya, seru Bella. Jangan lama –lama ya , kataku.
Lima belas menit berlalu. ”Bella kemana ya”? kataku sambil menuju keluar.”kok lama sekali, teman-teman sudah ngumpul nih”.aku keluar ruangan untuk mencari Bella. Aku sudah mencari Bella di seluruh ruangan. Tapi tidak kutemukan sahabatku itu. Hingga akhirnya aku menuju ke kebun di belakang sekolah. ”Bella……Bella….., di mana kamu? ”jangan takuti aku dong”. Terdengar oleh ku langkah kaki seseorang di balik semak-semak. ”Bella……teriakku. aku langsung menuju ke balik sema-semak itu. ”Bella”, panggilku. ”ah, tidak ada”.
Hari sudah semakin sore tapi aku belum juga menemukan Bella. Aku terus berjalan hingga aku menemukan sebuah gubuk tua. ”Tempat apa itu”, tanyaku dalam hati. ”kok aku tidak tahu kalau di kebun belakang sekolah ada sebuah gubuk”. Aku pun masuk ke dalam gubuk itu.
“aaaghhhhh………”aku terjatuh dari gubuk tua itu. Aku mencoba untuk bangun kembali tapi tubuhku terasa sangat sakit. ”Siapa”? Siapa yang mendorongku? Aku ingat saat aku masuk ke gubuk itu, yah, sesosok bayangan hitam mendorongku hingga aku terjatuh. ”tapi siapa itu”. Ya Tuhan, apa lagi ini. ”Aku heran kenapa akhir-akhir ini banyak sekali kejadian-kejadian aneh. Waktu itu Ami anak kelas X terkunci di ruangan ekskul, terus ada suara jeritan dari dalam wc putri, sebelumnya ada temanku yang kesurupan dan apa lagi ini, Bella menghilang dan siapa yang mendorong aku”.
Aku mencoba untuk bangkit dari jatuhku. Aku berpikir lebih baik aku keluar dari tempat ini, soal Bella akan ku ceritakan pada orang tuanya. Aku mencoba untuk kembali, tapi “astaga”!!! di mana pintu keluarnya”. Aku lupa tempatnya atau…………………!!!!! Aku terjatuh karena lemas dan pingsan.
Ketika aku sadar, dihadapanku terlihat sesosok makhluk aneh yang berjubah hitam. ”Bella”??? sosok itupun mencoba untuk mencekik leher ku. “TIDAKKKKK………..”!!!
Kring…….kring….., terdengar suara wekerku berbunyi. Wah gawat, aku terlambat ke sekolah. Ini pasti gara-gara aku baca buku cerita yang berjudul Teror itu!!!!!!!!!!!!!!!!!

entah mengapa

q juga tak tau kenapa harus saat ini.
q ingin mencoba sesuatu yang belum aq coba sbelumnya...
mungkin kekuatan itu baru datang pada saat ini...