Tegak lurus
menjurus
ke satu titik fokus
cerminmu adalah bayanganmu
tatapmu, kharismamu
walau sendu
namun dirindu
ada satu
hanya satu
tegak lurus
menjurus
di titik penuh kaku
karena satu
sama dengan satu
tatapan satu
langkah satu
dua datang
tanpa diundang
menorehkan segudang pandangan
fokusku bagai serius
melawan arus
yang datang secara halus
mengelus kalbu sendu
karena satu
sama dengan satu
tatapan satu
langkah satu
seribu ragu terus mengganggu
namun satu tak dapat rapuh
walau sendu
namun dirindu
Sabtu, 23 Oktober 2010
Rabu, 14 April 2010
proposal penelitian
ANALISIS PERISTIWA MORFOFONEMIK PADA SURAT KABAR HARIAN SRIWIJAYA POST EDISI APRIL 2010
Oleh: Reny Septriana
1. Latar Belakang
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar terkadang kurang diperhatikan. Seharusnya, sebagai guru dan calon guru bahasa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting dan harus bertanggung jawab dalam mengajar dan membimbing peserta didik agar hendaknya dapat mencerminkan suatu keberadaan bahasa Indonesia yang serasi dan selaras sesuai dengan kaidah dan perkembangan bahasa. Untuk itu, sebaiknya dilakukan pengkajian terhadap berbagai permasalahan sesuai dengan perkembangan kaidah bahasa yang baik dan benar tersebut.
Kalau kita berbicara mengenai bahasa Indonesia, maka sebaiknya terlebih dahulu disajikan pengantar mengenai apa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia itu sendiri. Menurut Kridalaksana (2007:1), bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sebagai bahasa negara sebagaimana dalam UUD RI 1945 pasal 36, dan sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I 1938 di Solo, atau dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan.
Salah satu kaidah bahasa Indonesia yang kurang diperhatikan dalam pengajaran bahasa Indonesia adalah proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut dikaji dalam subsistem morfologi. Bidang pengkajian ini cukup menarik untuk dikaji karena adanya perkembangan kata-kata baru yang muncul dalam pemakaian bahasa sering bertolak belakang dengan kaidah-kaidah yang ada pada bidang morfologi ini. Oleh sebab itu, perlu dikaji ruang lingkup morfologi ini agar ketidaksesuaian antara kata-kata yang digunakan oleh para pemakai bahasa dengan kaidah tersebut tidak menimbulkan kesalahan yang berlanjut. Jika hal tersebut terjadi, maka akan mengganggu komunikasi yang berlangsung antara komunikator dan komunikan. Bila terjadinya gangguan dalam kegiatan komunikasi ini, maka akan mengurangi fungsi utama dalam berbahasa yaitu sebagai alat komunikasi.
Kata dalam bahasa Indonesia mempunyai berbagai macam bentuk. Soal-soal yang berhubungan dengan bentuk kata itulah yang menjadi objek suatu ilmu yang lazim disebut morfologi (Ramlan, 2001:20). Perubahan-perubahan bentuk kata menyebabkan adanya perubahan golongan dan arti kata misalnya golongan kata baju tidak sama dengan golongan kata berbaju. Kata baju termasuk golongan kata nominal, sedangkan berbaju termasuk golongan kata verbal. Adanya perbedaan golongan dan arti kata tersebut disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Oleh karena itu, dalam bidang morfologi, selain membahas tentang seluk-beluk bentuk kata, juga membahas kemungkinan adanya perubahan golongan dan arti kata yang timbul sebagai akibat dari perubahan bentuk kata.
Hal yang terpenting dalam proses pembentukan kata adalah afiksasi. Afiksasi merupakan suatu proses perubahan leksem menjadi kata kompleks (Kridalaksana, 2007:28). Akibat dari perubahan tersebut, dapat mengakibatkan terjadinya perubahan fonem. Proses inilah yang dikenal sebagai proses morfofonemik.
Selama ini, penggunaan kata berafiks sebagai suatu bentuk kata kurang diperhatikan asal usulnya apalagi dalam proses pembentukan kata. Kurangnya perhatian tersebut menyebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan mengenai proses pembentukan kata tersebut. Padahal, kata berafiks yang terdiri dari morfem terikat dan morfem bebas terbentuk berdasarkan suatu proses akibat pertemuan morfem dengan morfem lain.
Dalam mempelajari atau menggunakan suatu bahasa dapat dikuasai oleh kebanyakan orang dengan mudah dan lancar. Namun, hal ini tidak akan sama dan menjadi sulit ketika harus menerangkan sampai pada kaidah-kaidahnya. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Verhaar (2006:7) bahwa belajar suatu bahasa tidak sama dengan belajar tentang bahasa itu sendiri. Misalnya, kebanyakan orang dapat menguasai bahasa Indonesia, tetapi tanpa keahlian khusus orang tersebut tidak akan mampu menerangkan tata bahasa Indonesia tersebut sesuai dengan kaidah yang baik dan benar.
Ada berbagai macam bidang kajian morfologi, salah satunya adalah morfofonemik. “Morfofonemik adalah proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya” (Depdikbud RI, 1988:87). Permasalahan dalam morfofonemik cukup variatif yaitu pertemuan antara morfem dasar dengan berbagai afiks sehingga menimbulkan variasi-variasi yang kadang membingungkan para pemakai bahasa. Sering timbul pertanyaan dari pemakai bahasa, manakah bentukan kata yang sesuai dengan kaidah morfologi. Hal yang menarik adalah munculnya pendapat yang berbeda dari ahli bahasa yang satu dengan ahli bahasa yang lain (Prabareta, 2009).
Dalam bahasa Indonesia terdapat proses morfofonemik akibat perubahan fonem nasal yang berwujud /m/ di depan /b/, /n/ di depan /d/, /ñ/ di depan /j/, dan /ŋ/ di depan /g/ (Samsuri dalam Saliwangi dkk. 1991:9). Misalnya morfem /məN-) apabila bergabung dengan morfem /bawa/ berubah menjadi /məm-/ sehingga menjadi /məmbawa/. Morfem /məN-/ bergabung dengan morfem /dəŋar/, maka berubah menjadi /mən-/ sehingga menjadi /məndəŋar/.
Kebanyakan masyarakat Indonesia sendiri kurang memahami proses pemunculan suatu bentuk kata sebagai hasil dari penggabungan morfem terikat dan morfem bebas. Misalnya, penggabungan morfem /məN-/ + /patung/ menjadi /məmatuŋ/ dan bukan /məmpatuŋ/. Dalam proses pembentukan kata mematung terjadi perubahan fonem /p/ menjadi fonem /m/. Kasus ini telah menjadi masalah kebahasaan bahasa Indonesia. Padahal, dalam mempelajari serta memahami suatu proses pembentukan kata itu merupakan salah satu jawaban dalam mengatasi masalah kebahasaan tersebut. Dalam penulisan morfem-morfem dan hasil pembentukannya harus ditulis secara fonetik agar pembaca dapat memahami secara segaligus bentuk fonetisnya. Fonetik meneliti bunyi bahasa menurut cara pelafalannya dan menurut sifat-sifat akustiknya (Verhaar, 2006:10).
Masalah kebahasaan yang lain terdapat pada contoh kata mengubah. Pemakaian kata mengubah biasa dilisankan atau pun dituliskan dengan kata merubah. Padahal, menurut pembentukan kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah kata mengubah. Kata mengubah terbentuk dari morfem /məN-/ + /ubah/. Dalam kasus ini, kata mengubah terjadi karena perubahan morfem /məN-/ menjadi /məŋ-/. Pada kata merubah, tampaknya bukan terbentuk dari morfem /məN-/ + /ubah/, melainkan dari morfem /məN-/ + /rubah/ (nama seekor binatang) yang artinya menjadi seperti rubah.
Dalam hal ini, penulis memilih harian Sriwijaya Post edisi April 2010 pada rubrik wisata terbitan Minggu. Penggunaan morfofonemik lebih sering kita lihat dalam tulisan-tulisan di media massa terutama surat kabar. Pada rubrik wisata ini banyak menggunakan pemakaian kata-kata berafiks sehingga akan lebih banyak data yang diperoleh untuk menganalisis peristiwa morfofonemik tersebut. Surat kabar Sriwijaya Post adalah salah satu harian surat kabar yang terbit di kota Palembang yang biasa memuat rubrik dengan nama wisata yang memperkenalkan tempat-tempat wisata sebagai salah satu rubrik berita yang terbit setiap hari minggu.
Dalam teks berita pada rubrik wisata, penggunaan morfofonemik cukup banyak jumlahnya. Berikut ini adalah salah satu teks pada rubrik wisata tersebut yang dikutip secara utuh yang terdapat dalam harian Sriwijaya Post (4 April 2010).
Menyelam di Kelayang
Bagi sebagian orang, kegiatan menyelam dapat enjadi sarana rekreasi yang amat menyenangkan dan menghilangkan segala kepenatan bekerja, maupun stres. Soalnya, dengan menggunakan berbagai kelengkapan menyelam, kita dapat menyaksikankekayaan di abawah air seperti terumbu karang yang unik dan indah dengan berbagai bentuk, beraneka ragamnya ikan-ikan karang yang berwarna warni, begitu pula hewan lainnya seperti keong, bulu babi, ubur-ubur, maupun bintang laut, dsb. Semuanya itu dapat disaksikan seorang penyela baik di kedalaman satu meter hingga puluhan meter.
Di Belitung, ada juga penyelam profesi yaitu untuk mencari harta karun yang terdapat di dasar lautan dari kapal-kapal Jepang dan negara asing lainnya yang berumur ratusan tahun. Belum lama ini penyelam asing berhasil menemukan ratusan benda-benda antik yang nilainya mencapai triliunan rupiah di dekat perairan Tanjung Kelayang, atas petunjuk nelayan-nelayan tradisional Belitung. Sayangnya, para nelayan setempat tidak mendapatkan apa-apa, begitu pula Pemda Belitung.
Bagi nelayan Belutung, menyelam adalah pekerjaan sehari-hari. Mereka tidak menggunakan tabung udara layaknya seorang penyelam rekreasi atau penyelam prodesional, melainkan hanya mengguakan masker atau kaca selam dengan alat bantu pernapasan dari pipa bening ukuran jari kelingking tangan, yang dihubungkan dengan kompresor langsung. Mereka enyelam berjam-jam lamanya, untuk mencari atau sekedar memasang keramba. (afi)
Dalam kutipan teks di atas, pemakaian morfofonemik cukup banyak ditemukan. Dalam wacana tersebut terdapat proses perubahan fonem yaitu pada peristiwa menjadi, menghilangkan, menggunakan, mencari, mencapai, mendapatkan. Perubahan dan penghilangan fonem yaitu menyelam, menyenangkan, menyaksikan, penyelam, menemukan, memasang. Selanjutnya pergeseran fonem yaitu kepenatan, kelengkapan, kedalaman, perairan, dan pernapasan. Terakhir pengekalan fonem yaitu kekayaan.
Pada peristiwa perubahan fonem dalam teks di atas, terjadi proses pembentukan yaitu /məN-/ + /jadi/ /mənjadi/, /məN-...-kan/ + /hilaŋ/ /məŋhilaŋkan/, /məN-...-kan/ + /guna/ /məŋgunakan/, /məN-/ + /cari/ /məncari/, /məN-/ + /capai/ /məncapai/, /məN-...-kan/ /dapat/ /məndapatkan/. Proses perubahan dan penghilangan fonem yaitu /məN-/ + /səlam/ /məñəlam/, /məN-...-kan/ + /sənaŋ/ /məñənaŋkan/, /məN-...-kan/ + /saksi/ /məñaksikan/, /pəN-/ + /səlam/ /pəñəlam/, /məN-...-kan/ + /təmu/ /mənəmukan/, /məN-/ + /pasaŋ/ /məmasaŋ/. Proses pergeseran fonem yaitu /kə-...-an/ + /pənat/ /kə-pə-na-tan/, /kə-...-an/ + /ləŋkap/ /kə-ləŋ-ka-pan/, /kə-...-an/ + /dalam/ /kə-da-la-man/, /pər-...-an/ + /air/ /pər-a-i-ran/, /pər-...-an/ + / napas/ /pər-na-pa-san/. Terakhir pengekalan fonem yaitu /kə-...-an/ + /kaya/ /kəkayaan/.
Setiap proses yang terjadi pada peristiwa tersebut pasti memiliki suatu kaidah dalam pembentukannya. Pada proses perubahan fonem terdapat kaidah yaitu apabila afiks morfem /məN-/ dan /məN-...-kan/ dibubuhkan pada kata dasar yang diawali dengan fonem /j/, /g/, /c/, dan /d/, maka terjadi perubahan morfem /məN-/ menjadi /mən/ dan pada kata dasar yang diawali dengan fonem /h/ dan /g/, maka terjadi perubahan morfem /məN-...-kan/ menjadi morfem /məŋ-...-kan/. Kaidah pada proses perubahan dan penghilangan fonem yaitu apabila afiks morfem /məN-/, /məN-...-kan/, dan /pəN-/ dibubuhkan dengan kata dasar yang diawali dengan fonem /s/, maka /məN-/, /məN-...-kan/, dan /pəN-/ berubah menjadi /məñ/, /məñ-...-kan/ dan /pəñ/ dan terjadi penghilangan fonem /s/, sedangkan pada kata dasar yang diawali dengan fonem /t/, maka /məN-/ berubah menjadi /mən-/ dan penghilangan fonem /t/, pada kata dasar yang diawali dengan fonem /p/, maka morfem /məN-/ berubah menjadi morfem /məm-/ disertai penghilangan fonem /p/. Pada proses pergeseran fonem terdapat kaidah yaitu apabila afiks morfem /kə-...-an/ dan /pər-...-an/ dibubuhkan dengan kata dasar yang berakhiran dengan konsonan dan diikuti sufiks yang diawali vokal, maka terjadi pergeseran konsonan ke belakang. Terakhir pada proses pengekalan fonem terdapat kaidah yaitu apabila afiks morfem /kə-...-an/ dibubuhkan dengan kata dasar yang diawali dengan fonem /k/, maka terjadi pengekalan fonem /k/.
Uraian di atas memperlihatkan bahwa suatu morfofonemik dapat terjadi dan dipelajari dengan memperhatikan proses serta kaidah pembentukannya. Dalam media massa akan banyak ditemukan proses dan kaidah morfofonemik tersebut. Di dalam media massa, bahasa yang digunakan memang memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat pemakai bahasa. Dalam pembinaan bahasa pun, media massa berperan besar sebagai penyebar dan sekalugus sebagai tolok ukur penggunaan bahasa yang baik dan benar (Alwi, 2000:102).
Penelitian ini membahas mengenai bagaimana pembentukan kaidah morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post edisi April 2010. Penelitian ini mencakup suatu proses pembentukan kata melalui perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Surat kabar Sriwijaya Post dipilih sebagai objek penelitian karena banyaknya penggunaan morfofonemik yang dapat dianalisis proses pembentukannya. Morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata harian Sriwijaya Post ini diambil sebagai rubrik yang mewakili keseluruhan data yang terdapat di setiap isi berita.
2. Masalah
Dalam penelitian ini, masalah yang dibahas adalah morfofonemik dalam rubrik wisata pada surat kabar harian Sriwijaya Post edisi April 2010. Ruang lingkup masalah yang akan dibahas antara lain:
1. Bagaimana proses morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010?
2. Bagaimana kaidah morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010?
3. Tujuan
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengumpulkan data, mengolah, dan mendeskripsikan aspek morfofonemik sebagai suatu proses perubahan fonem. Secara khusus, penelitian ini bertujuan antara lain:
1. Mendeskripsikan proses morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010.
2. Mendeskripsikan kaidah morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010.
4. Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang linguistik deskriptif khususnya tentang morfofonemik dalam bahasa Indonesia. Secara praktis, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penerbitan baik di jurnal kampus, sebagai pedoman dalam mempelajari pembentukan kata khususnya pada peristiwa morfofonemik, dan juga sebagai informasi para peneliti yang ingin mengkaji tentang proses morfofonemik bahasa-bahasa yang lain. Hal ini akan memberikan pengetahuan kepada pembaca bahwa melalui kaidah morfofonemik, kita dapat memahami dan menerapkan pola pembentukan sebuah kata sehingga tujuan yang hendak dicapai tersebut dapat benar-benar terwujud.
5. Tinjuauan Pustaka
Pada bagian ini penulis mengemukakan suatu bentuk peristiwa morfofonemik sebagai sebuah pembentukan kata. Pembentukan kata ini adalah salah satu kajian deskriptif yang memaparkan tentang bagaimana suatu kata dapat terbentuk. Peristiwa pembentukan kata tersebut dapat melalui suatu proses dan kaidah tertentu.
5.1 Pengertian Morfofonemik
Membahas bentukan kata dalam kajian morfologi, peristiwa morfofonemik merupakan suatu peristiwa yang tak terlepas dari kaidah pembentukannya. Menurut Ramlan (2001:83), morfofonemik adalah suatu proses perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Misalnya morfem /bər-/ bertemu dengan morfem /ajar/ menghasilkan kata /bəlajar/. Dalam peristwa ini, fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/. Morfofonemik merupakan kata serapan dari bahasa Inggris morphophonemics atau sering juga disebut morphonemics atau ada juga yang menamakan morfofonologi (Heatherington dalam Tarigan, 1988). ”Morfofonologi adalah telaah umum mengenai bidang kebersamaan antara bunyi dan bentuk kata”. (Tarigan, 1995:27). Morfofonemik berasal dari kata morfem dan fonem. Morfem adalah unsur yang terkecil yang secara individual mengandung pengertian dalam ujaran sesuatu bahasa (Hocket, 1958: 123). Hal ini senada dengan yang diungkapkan Nida (dalam Poerwadi dkk., 2003:10) bahwa morfem adalah unsur pemakaian bahasa yang terkecil yang mengandung arti atau pengertian. Morfem dalam suatu bahasa memiliki bermacam-macam karakter. Berdasarkan hubungan distribusinya, morfem diklasifikasikan dalam morfem bebas yang dapat berdiri sendiri sebagai kata dan morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata (Poerwadi, 2003:11). Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat membedakan arti (Sudarno, 1990:17). Kedua istilah tersebut yang akhirnya membentuk suatu istilah baru yang dikenal dengan nama morfofonemik.
Menurut Kridalaksana (2007:183), proses morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena adanya pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia terjadi hanya dalam pertemuan secara nyata antara morfem dasar dengan afiks (morfem terikat). Selain itu, menurut Sudarno (1990: 9), morfofonemik adalah ilmu yang mempelajari perubahan fonem akibat proses morfologis.
Menurut beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa morfofonemik adalah suatu peristiwa yang terjadi karena pertemuan morfem (bebas) dengan morfem (terikat) yang menyebabkan perubahan fonem pada morfem tersebut.
5.2 Proses Morfofonemik
Proses morfofonemik berbeda menurut beberapa ahli. Namun, variasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut tidak membedakan maksud dan tujuan masing-masing. Semuanya membahas mengenai bagaimana suatu kata dapat terbentuk. Dengan kata lain, proses morfofonemik yang bervariasi menurut ahli dapat memberikan manfaat yang sama dan mengandung inti yang sama pula sesuai dengan keinginan untuk disampaikan pada pembaca.
Proses morfofonemik adalah proses perubahan fonem yang disebabkan oleh adanya hubungan dua morfem atau lebih beserta pemberian tanda-tandanya (Saliwangi dkk., 1991:9). Menurut Lubis dkk. (1986:10), proses morfofonemik merupakan suatu proses berubahnya suatu bentuk morfem sebagai akibat dari adanya penggabungan morfem-morfem.
Menurut Ramlan (2001:83) bahwa dalam bahasa Indonesia sedikitnya terdapat tiga proses morfofonemik. Ketiga proses tersebut antara lain.
a. Proses perubahan fonem
b. Proses penambahan fonem
c. Proses hilangnya fonem
Proses morfofonemik menurut Ramlan secara garis besar sama dengan proses morfofonemik menurut Tarigan dan Chaer. Hanya saja Chaer (2008:43—45), menambahkan satu proses morfofonemik dari ketiga proses menurut Ramlan yaitu . pemunculan fonem, pelesapan fonem, peluluhan fonem, dan perubahan fonem. Namun, pelesapan dan peluluhan fonem sebenarnya pembentukannya dan penggunaannya sama saja dengan penghilangan fonem pada Ramlan.
Menurut Tarigan (1995:27), berbicara tentang proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia, maka terdapat tiga hal yang penting. Tiga hal tersebut antara lain.
a. Proses perubahan fonem
b. Proses penambahan fonem
c. Proses penanggalan fonem
Menurut Kridalaksana (2007:183—184), perubahan fonem yang terjadi akibat pertemuan morfem dapat digolongkan sebagai berikut.
a. Pemunculan fonem
b. Pengekalan fonem
c. Pemunculan dan pengekalan fonem
d. Pergeseran fonem
e. Perubahan dan pergeseran fonem
f. Pelesapan fonem
g. Peluluhan fonem
5.3 Kaidah Morfofonemik
Proses morfofonemik masing-masing diuraikan sesuai dengan kaidah yang bersangkutan. Kaidah-kaidah berdasarkan proses morfofonemik tersebut dapat dilihat menurut Kridalaksana dan Ramlan.
5.3.1 Menurut Kridalaksana (2007:184—200), kaidah morfofonemik dapat diuraikan menjadi proses morfofonemik sebagai berikut.
a. Proses pemunculan fonem
Proses morfofonemik yang paling banyak terjadi adalah pemunculan fonem. Fonem yang muncul itu sama tipenya dengan fonem awal dalam morfem dasar. Perubahan morfofonemik semacam ini menimbulkan alomorf-alomorf dari morfem yang bersangkutan.
Peristiwa 1: Pemunculan fonem /y/ terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada /ay/, /i/, atau /e/ dan diikuti oleh sufiks atau bagian akhir konfiks yang diawali oleh vokal /a/. Contoh :
/kə - an/ + /tingi/ /kətingiyan/
/-an/ + /təpi/ /təpiyan/
Peristiwa 2: Pemunculan fonem /w/ terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada /aw/, /u/, atau /o/ yang diikuti olek sufiks atau bagian akhir konfiks yang diawali oleh vokal /a/. Contoh :
/kə - an/ + /pulau/ /kəpulauwan/
/-an/ + /sərbu/ /sərbuwan/
/pə - an/ + /toko/ /pərtokowan/
Peristiwa 3: Pemunculan /a/ terjadi pada penggabungan morfem dasar ayah dan sufiks -nda, /ayahan-da/
Peristiwa 4: Pemunculan /n/ terjadi pada penggabungan morfem dasar diri dan perfiks se-, /səndiri/
Peristiwa 5: Pemunculan /m/ terjadi pada penggabungan morfem dasar barang dan perfiks se-, /səm-baraŋ/
Peristiwa 6: Pemunculan /ŋə/ terjadi pada penggabungan morfem dasar yang terjadi dari satu suku kata yang bergabung dengan /mə-/, /pə/, /pə-an/. Contoh :
/mə-/ + /cat/ /məŋəcat/
/pə-an/ + /tik/ /pəŋətikan/
Peristiwa 7: Pemunculan /m/ terjadi pada morfem dasar yang diawali dengan /b/, .f/, dan /p/ yang bergabung dengan awalan /me-/, /pe-/, dan /pe-an/. Dengan syarat
(a) Fonem /f/ merupakan awal morfem pinjaman
(b) Fonem /p/ merupakan
(1) fonem awalan dari morfem dasar yang mengandung unsur /per-/ yang diikuti oleh konsonan.
(2) fonem ini merupakan bagian awal dari morfem dasar /puña/;
(3) bagian awal dari morfem dasar pinjaman.
Contoh :
/mə-/ + /bəli/ /məmbəli/
/mə-kan/ + /fatwa/ /məmfatwakan/
/mə-i/ + /pərbaru/ /məmperbarui/
Peristiwa 8: Pemunculan /n/ terjadi bila morfem dasar yang diawali oleh morfem dasar yang diawali oleh konsonan /t/ dan /d/ bergabung dengan /mə-/ dan kombinasinya, /pə-/, dan /pə-an/. Contoh :
/pə-/ + /dəŋar/ /pəndəŋar/
/mə- / + /dapat/ /məndapat/
Peristiwa 9: Pemunculan /n/ yang terjadi bila morfem dasar diawali oleh konsonan /c/ dan /j/ bergabung dengan /mə-/, /pə-/, dan /pə-an/. Contoh :
/mə-/ + /caci/ /məncaci/
/pə-/ + /curi/ /pəncuri/
/pə-an/ + /jilid/ /pənjilidan/
Peristiwa 10: Pemunculan /ŋ/ terjadi bila morfem dasar diawali oleh fonem /g/, /x/, /h/, atau /?/ bergabung dengan /mə-/, /pə-/, dan /pə-an/. Pemunculan /ŋ/ juga terjadi pada gabungan morfem dasar yang diawali oleh konsonan /k/, bila morfem dasar itu berasal dari bahasa asing atau bila ada faktor leksikal dengan tujuan menghindari homonim.Contoh :
/mə-/ + /ko’ordinir/ /məŋko’ordinir/
/pə-/ + /gugat/ /pəŋgugat/
/pə-an/ + /xusus/ /pəŋxususan/
b.Proses pengekalan fonem
Pengekalan fonem terjadi bila pada proses penggabungan morf tidak terjadi perubahan apa-apa, baik pada morfem dasar maupun pada afiks. Morfem dasar dan morfem terikat itu dikekalkan dalam bentuk baru yang lebih konkret.
Peristiwa 1: Pengekalan fonem terjadi bila morfem dasar yang diawali oleh fonem /y/, /r/, /I/, /w/, atau nasal bergabung dengan /mə-/, /pə-/. Contoh:
/pə-/ + /warna/ /pəwarna/
/pə-/ + /mula/ /pəmula/
/mə-i/ + /wajib/ /məwajibkan/
/mə-/ + /masak/ /məmasak/
Peristiwa 2: Pengekalan fonem terjadi bila morfem dasar yang berakhir dengan /a/ bergabung dengan konfiks /kə-an/. Contoh :
/kə-an/ + /raja/ /kəraja’an/
/kə-an/ + /ada/ /kə’ada’an/
/kə-an/ + /lama/ /kəlama’an/
Peristiwa 3: Pengekalan fonem terjadi bila afiks /bər-/, /pər-/, atau /tər-/, bergabung dengan morfem dasar kecuali /ajar/, /anjur/. Contoh :
/bər-/ + /main/ /bərmain/
/tər-/ + /lalu/ /tərlalu/
/pər-/ + /dalam/ /pərdalam/
Peristiwa 4: Pengekalan fonem terjadi bila afiks se- bergabung dengan morfem dasar.
/sə-/ + /’arah/ /sə’arah/
/sə-/ + /’umur/ /sə’umur/
/sə-/ + /tiŋkat/ /sə’tiŋkat/
Peristiwa 5: Pengekalan fonem terjadi bila afiks –wan/, /-man/, /-wati/ bergabung dengan morfem dasar. Contoh :
/səni/ + /-man/ /səniman/
/pəraga/ + /-wati/ /pəragawati/
/warta/ + /-wan/ /wartawan/
c. Proses pemunculan dan pengekalan fonem
Pemunculan dan pengekalan fonem adalah proses pemunculan fonem yang homorgan dengan fonem pertama morf dasar dan sekaligus pengekalan fonem pertama morf dasar tersebut. Proses ini terjadi karena bahasawan ingin mempertahankan identitas leksikal morf dasar dan bertujuan menghindari homonim dengan bentuk pemunculan. Proses ini hanya terjadi pada prefiksasi.
Peristiwa 1: Pemunculan /ŋ/ dan pengekalan /k/. Contoh
/mə-/ + /kukur/ /meŋkukur/
/pə-/ + /kaji/ /pəŋkaji/
Peristiwa 2: Pemunculan /ŋ/ dan pengekalan /’/. Contoh
/mə-/ + /’ara’/ /məŋ’araŋ/
/pə-/ + /’ukur/ / pəŋ’ukur/
d. Proses pergeseran posisi fonem
Pergeseran posisi fonem terjadi bila komponen dari morfem dasar dan bagian dari akfiks membentuk satu suku kata. Pergeseran ini dapat terjadi ke depan, ke belakang atau dengan pemecahan.
Peristiwa 1: Pergeseran ke belakang terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada konsonan yang diikuti oleh sufiks atau komponen akhir konfiks yang diawali oleh vokal, sehingga konsonan tersebut menjadi bagian dari suku kata yang di belakang. Contoh:
/baik/ + /pər-i/ /pər-ba-i-ki/
/sakit/ + /pə-an/ /pə-sa-ki-tan/
/taŋis/ + /-i/ /ta-ŋi-si/
/bakar/ + /kə-an/ /kə-ba-ka-ran/
Peristiwa 2: Pergeseran ke depan terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada vokal yang diikuti oleh sufiks yang berawal dengan konsonan, sehingga konsonan tersebut menjadi bagian dari suku kata pra-akhir itu. Contoh :
/ibu/ + /-nda/ /i-bun-da/
/bibi/ + /-nda/ /bi-bin-da/
/cucu/ + /-nda/ /cu-cun-da/
Peristiwa 3: Pemecahan suku kata terjadi dalam proses penyisipan dengan /-əl-/, /-ər-/ dan /-əm-/, sehingga unsur-unsur sisipan itu terpecah dalam suku kata yang berlainan. Contoh:
/gəmbuŋ/ + /-əl-/ /gə-ləm-buŋ/
/gigi/ + /-ər-/ /gə-ri-gi/
/gətar/ + /-əm-/ /gə-mə-tar/
e. Proses perubahan dan pergeseran posisi fonem
Perubahan dan pergeseran posisi fonem terjadi pada proses penggabungan morfem dasar yang berakhir dengan konsonan dengan afiks yang berawal dengan vokal, atau penggabungan morfem dasar /ajar/ dengan afiks /bər-/, /pər-/, dan /pər-an/, atau pada penggabungan morfem dasar /anjur/ dengan afiks /tər-/.
Peristiwa 1: Perubahan dari fonem /’/ menjadi fonem /k/ terjadi bila morfem dasar yang berakhir dengan fonem /’/ bergabung dengan sufiks /-an/ atau bagian akhir konfiks yang berawal dengan vokal, dan membentuk suku kata baru. Contoh:
/mə-i/ + /nai’/ /mə-na-i-ki/
/kə-an/ + /dudu’/ /kə-du-du-kan/
/-an/ + /gəra’/ /gə-ra-kan/
Realisasi fonem /k/ pada akhir morfem dasar hanya terjadi dalam dialek-dialek tertentu.
Peristiwa 2: Perubahan dari fonem /r/ menjadi fonem /l/ pada akhir afiks /bər-/, /pər-/, dan /pər-an/ terjadi bila afiks-afiks tersebut bergabung dengan morfem dasar /ajar/. Fonem yang berubah itu membentuk suku kata baru dengan vokal awal. Contoh
/bər-/ + /’ajar/ /bə-la-jar/
/pər-/ + /’ajar/ /pə-la-jar/
Peristiwa 3: Perubahan dari fonem /r/ menjadi fonem /l/ pada akhir afiks /tər-/ terjadi bila afiks itu bergabung dengan morfem dasar /anjur/ dan /antar/. Fonem yang berubah itu membentuk suku kata baru dengan vokal awal morfem dasar. Contoh :
/tər-/ + /’antar/ /tər-lan-tar/
/tər-/ + /’anjur/ /tər-lan-jur/
f. Proses pelepasan fonem
Proses pelepasan fonem terjadi bila morfem dasar atau afiks melesap pada saat terjadi penggabungan morfem.
Peristiwa 1: Pelepasan fonem /k/ atau /h/ terjadi bila morfem dasar yang berakhir pada konsonan tersebut bergabung dengan sufiks yang berasal dari konsonan juga. Contoh:
/’anak/ + /-nda/ /’ananda/
/səjarah/ + /-wan/ /səjarawan/
Peristiwa 2: Pelepasan fonem /r/ dari afiks /bər-/, /tər-/, /pər-/ dan /pər-an/ karena bergabung dengan morfem dasar yang suku pertamanya berawal dengan fonem /r/ atau yang suku pertamanya mengandung /r/. penggabungan afiks tersebut dengan morfem dasar /ajar/, dan /anjur/. Contoh :
/bər-/ + /rumah/ /bərumah/
/tər-/ + /ramai/ /təramai/
/pər-/ + /ramal/ /pəramal/
g. Proses peluluhan fonem
Peluluhan fonem terjadi bila proses penggabungan morfem dasar dengan afiks membentuk fonem baru.
Peristiwa 1: Peluluhan fonem /k/ dari morfem dasar yang diawali dengan fonem /k/ yang bergabung dengan /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/. Dalam proses morfofonemik dengan morfem dasar yang diawali oleh konsonan /k/ yang berasal dari bahasa asing atau karena adanya faktor leksikal. Contoh :
/mə-/ + /karaŋ/ /məŋaran/
/pə-/ + /karaŋ/ /pəŋaraŋ/
/mə-kan/ + /kirim/ /məŋirimkan/
/pə-an/ + /kuraŋ/ /pəŋuraŋan/
/mə-i/ + /kuraŋ/ /məŋuraŋi/
Peristiwa 2: Peluluhan fonem /p/ bila afiks /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/ digabungkan dengan morfem dasar yang diawali oleh fonem /p/, kecuali pada morfem dasar yang berprefiks /pər-/ atau yang berasal dari bahasa asing. Contoh :
/mə-/ + /pilih/ /məmilih/
/pə-/ + /pahat/ /pəmahat/
/mə-kan/ + /pikir/ /məmikirkan/
/mə-i/ + /pəraŋ/ /məməraŋi/
Peristiwa 3: Peluluhan fonem /s/ terjadi pada penggabungkan morfem dasar yang diawali oleh fonem /s/ dengan afiks /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/, kecuali bila fonem /s/ mengawali morfem dasar yang berasal dari bahasa asing.
/mə-/ + /sayur/ /məñayur/
/mə-i/ + /sakit/ /məñakiti/
/mə-kan/ + /saksi/ /məñaksikan/
/pə-/ + /susun/ /pəñusun/
Peristiwa 4: Peluluhan fonem /t/ pada morfem dasar yang diawali oleh fonem /t/ yang bergabung dengan afiks /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/, kecuali pada morfem dasar yang berasal dari bahasa asing atau morfem dasar yang berprefiks /tər-/.Contoh :
/mə-/ + /tata/ /mənata/
/mə-kan/ + /tidur/ /mənidurkan/
/mə-i/ + /təlusur/ /mənəlusuri/
5.3.1 Menurut Ramlan (2001:98—105), kaidah morfofonemik dapat diuraikan menjadi
5.3.1.1 Kaidah morfofonemik morfem afiks meN-
meN- mem- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /p/, /b/, /f/, maka fonem /p/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya dan pada bentuk dasar yang berprefiks ialah prefiks per-. Contoh:
/məN-/ + /paksa/ /məmaksa/
/məN-/ + /bawa/ /məmbawa/
/məN-/ + /fitnah/ /məmfitnah/
meN- men- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /t/, /d/, maka fonem /t/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya dan pada bentuk dasar yang berprefiks ialah prefiks ter-. Fonem /s/ hanya berlaku bagi beberapa bentuk dasar yang mempertahankan keasingannya. Contoh:
/məN-/ + /tulis/ /mənulis/
/məN-/ + /dasarkan/ /məndasarkan/
/məN-/ + /tərjəmahkan/ /məntərjəmahkan/
meN- meny- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /s/, maka fonem /s/ hilang. Contoh:
/məN-/ + /sapu/ /məñapu/
/məN-/ + /sikat/ /məñikat/
meN- meng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /k/, /g/, /x/, /h/, dan huruf vokal, maka fonem /k/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya. Contoh:
/məN-/+ /karang/ /məŋaraŋ/
/məN-/ + /gali/ /məŋgali/
/məN-/ + /xususkan/ /məŋxususkan/
/məN-/ + /halau/ /məŋhalau/
/məN-/ + /akui/ /məŋakui/
meN- me- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /y/, /r/, /l/, /w/, dan nasal. Contoh:
/məN-/ + /yakinkan/ /məyakinkan/
/məN-/ + /ramal/ /məramal/
/məN-/ + /warisi/ /məwarisi/
/məN-/ + /naikkan/ /mənaikkan/
meN- menge- apabila diikuti bentuk dasar yang terdiri dari satu suku. Contoh:
/məN-/+ /bom/ /məŋebom/
/məN-/ + /cat/ /məŋecat/
5.3.1.2 Kaidah morfofonemik morfem afiks peN-
Kaidah morfofonemik morfem afiks /pəN-/ sama dengan kaidah morfofonemik morfem afiks /məN-/ pada umumnya.
peN- pem- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /p/, /b/, /f/. Fonem /p/ hilang. Contoh:
/pəN-/ + /pakai/ /pəmakai/
/pəN-/ + /bawa/ /pəmbawa/
peN- pen- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /t/, /d/, /s/. Fonem /t/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang asih mempertahankan keasingannya. Contoh:
/pəN-/ + /tulis/ /pənulis/
/pəN-/ + /dorong/ /pəndoroŋ/
peN- peny- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /s/. Fonem /s/ hilang. Contoh:
/pəN-/ + /sadur/ /pəñadur/
/pəN-/ + /suap/ /pəñuap/
peN- peng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /k/, /g/, /x/, /h/. Fonem /k/ hilang. Contoh:
/pəN-/ + /karaŋ/ /pəŋaraŋ/
/pəN-/ + /gali/ /pəŋgali/
/pəN-/ + /halaŋ/ /pəŋhalaŋ/
peN- pe- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /y/, /r/, /l/, /w/. Contoh:
/pəN-/ + /ramal/ /pəramal/
/pəN-/ + /lupa/ /pəlupa/
/pəN-/ + /waris/ /pəwaris/
peN- penge- apabila diikuti bentuk dasar yang terdiri dari satu suku. Contoh:
/pəN-/ + /bom/ /pəŋebom/
/pəN-/ + /cat/ /pəŋecat/
/pəN-/ + /las/ /pəŋelas/
5.3.1.3 Kaidah morfofonemik morfem afiks ber-
ber- be- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ər/. Contoh:
/bər-/ + /rantai/ /bərantai/
/bər-/ + /kerja/ /bəkerja/
ber- bel- apabila diikuti bentuk dasar /ajar/. Contoh:
/bər-/ + /ajar/ /bəlajar/
ber- ber- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/, suku pertamanya tidak berakhir dengan /ər/, dan bentuk dasar yang bukan morfem /ajar/. Contoh:
/bər-/ + /kata/ /bərkata/
/bər-/ + /tugas/ /bərtugas/
5.3.1.4 Kaidah morfofonemik morfem afiks per-
per- pe- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/. Contoh:
/pər-/ + /rendah/ /pərendah/
/pər-/ + /ragakan/ /pəragakan/
per- pel- apabila diikuti bentuk dasar yang berupa morfem /ajar/. Contoh:
/pər-/ + /ajar/ /pəlajar/
per- per- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang bukan morfem /ajar/. Contoh:
/pər-/ + /kaya/ /pərkaya/
/pər-/ + /satukan/ /pərsatukan/
6. Metodelogi Penelitian
6.1 Metode
Penelitian ini berusaha mendeskripsikan kaidah morfofonemik yang terdapat dalam surat kabar Sriwijaya Post edisi April 2010 pada rubrik wisata yang terbit setiap hari minggu. Metode yang diguakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Metode deskriptif adalah metode penelitian yang berusaha menggambarkan fakta apa adanya. Metode analitis berusaha menguraikan, memecahkan, dan menelusuri sehingga menemukan kaidah. Menurut Ali (1997:120), metode deskriptif analitis berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang dihadapi dengan cara mengumpulkan data, mengklasifikasi data, mengolah data, dan membuat kesimpulan. Dengan kata lain, metode deskriptif adalah penggambaran suatu kejadian sesuai dengan apa adanya dan secara objektif. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Suryabrata (2004:76) bahwa penelitian deskriptif bermaksud untuk membuat deskriptif secara sistematis, faktual, dan akurat fakta-fakta yang ditemukan.
6.2 Sumber Data
Dalam penelitian ini, sumber data yang diambil adalah pada rubrik wisata yang terbit pada setiap hari minggu yang terdapat dalam harian surat kabar Sriwijaya Post edisi April 2010. Ini menunjukkan bahwa data yang digunakan adalah semua peristiwa morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata dalam harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
6.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi dan teknik observasi. Teknik dokumentasi adalah teknik yang dilakukan untuk menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 2002:135). Teknik selanjutnya adalah teknik observasi. Teknik observasi adalah teknik yang dilakukan dengan pengamatan dan pencatatan secara sistematis atas fenomena-fenomena yang diteliti (Hadi, 2004:152). Teknik observasi berusaha mengamati suatu objek penelitian. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Keraf (2004:183), teknik observasi adalah teknik pengamatan langsung kepada suatu objek yang akan diteliti. Mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap (Arikunto, 2002:133).
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada rubrik wisata yang terdapat dalam surat kabar harian Sriwijaya Post edisi April 2010. Teknik observasi digunakan untuk mengamati dan mencatat peristiwa morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
6.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik analisis isi. Teknik analisis isi dapat digunakan untuk semua bentuk sarana komunikasi seperti surat kabar, puisi, lagu, cerita rakyat, pidato, surat, dan lukisan (Rahmat, 2000:125). Dalam penelitian ini, setiap peristiwa morfofonemik dianalisis dan dideskripsikan berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1) Mengumpulkan data yaitu seluruh rubrik wisata harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
2) Mengidentifikasi morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata dalam harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
3) Mengelompokkan data morfofonemik tersebut.
4) Menganalisis dan menginterpretasi data yang telah terkumpul berdasarkan teori morfologi.
5) Membuat simpulan.
Daftar Pustaka
Alwi, Hasan. 2000. Bahasa Indonesia: Pemakai dan Pemakaiannya. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indoesia (Pendekatan Proses). Jakarta: PT Rineka Cipta.
Depdikbud RI. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indoesia. Jakarta.
Hadi, Sutrisno. 2004. Metodelogi Research. Yogyakarta: Andi.
Hockett, Charles. 1958. A Course in Modern Linguistics. New York: The Macmillan Company.
Keraf, Gorys. 2004. Komposisi. Flores: Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Lubis, Syahron, dkk. 1986. Sistem Morfologi dan Sintaksis Bahasa Melayu Langkat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdiknas.
Poerwadi, Petrus, dkk. 2003. Morfologi Bahasa Seruyan. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.
Prabareta. 2009. “Morfologi dalam Bahasa Indonesia”. http:// prabareta. blogspot. com/ 2009/01/morfofonemik-dalam-bahasa-indonesia.html. diakses tanggal 12 Maret 2010.
Rahmat, Jalaludin. 2000. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rusdakarya.
Ramlan. 2001. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV. Karyono.
Saliwangi, Basennang, dkk. 1991. Sistem morfologi Kata Kerja (Verba) Bahasa Tetun. Jakarta: Depdikbud.
Sriwijaya Post. 2010. ”Menyelam di Kepayang”. 4 April, No. Tahun , Hlm.18.
Sudarno. 1990. Morfofonemik Bahasa Indonesia. Jakarta: Arikha Media Cipta.
Tarigan, Henry Guntur. 1995. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa.
Verhaar. 2006. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Oleh: Reny Septriana
1. Latar Belakang
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik dan benar terkadang kurang diperhatikan. Seharusnya, sebagai guru dan calon guru bahasa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting dan harus bertanggung jawab dalam mengajar dan membimbing peserta didik agar hendaknya dapat mencerminkan suatu keberadaan bahasa Indonesia yang serasi dan selaras sesuai dengan kaidah dan perkembangan bahasa. Untuk itu, sebaiknya dilakukan pengkajian terhadap berbagai permasalahan sesuai dengan perkembangan kaidah bahasa yang baik dan benar tersebut.
Kalau kita berbicara mengenai bahasa Indonesia, maka sebaiknya terlebih dahulu disajikan pengantar mengenai apa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia itu sendiri. Menurut Kridalaksana (2007:1), bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sebagai bahasa negara sebagaimana dalam UUD RI 1945 pasal 36, dan sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I 1938 di Solo, atau dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan.
Salah satu kaidah bahasa Indonesia yang kurang diperhatikan dalam pengajaran bahasa Indonesia adalah proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut dikaji dalam subsistem morfologi. Bidang pengkajian ini cukup menarik untuk dikaji karena adanya perkembangan kata-kata baru yang muncul dalam pemakaian bahasa sering bertolak belakang dengan kaidah-kaidah yang ada pada bidang morfologi ini. Oleh sebab itu, perlu dikaji ruang lingkup morfologi ini agar ketidaksesuaian antara kata-kata yang digunakan oleh para pemakai bahasa dengan kaidah tersebut tidak menimbulkan kesalahan yang berlanjut. Jika hal tersebut terjadi, maka akan mengganggu komunikasi yang berlangsung antara komunikator dan komunikan. Bila terjadinya gangguan dalam kegiatan komunikasi ini, maka akan mengurangi fungsi utama dalam berbahasa yaitu sebagai alat komunikasi.
Kata dalam bahasa Indonesia mempunyai berbagai macam bentuk. Soal-soal yang berhubungan dengan bentuk kata itulah yang menjadi objek suatu ilmu yang lazim disebut morfologi (Ramlan, 2001:20). Perubahan-perubahan bentuk kata menyebabkan adanya perubahan golongan dan arti kata misalnya golongan kata baju tidak sama dengan golongan kata berbaju. Kata baju termasuk golongan kata nominal, sedangkan berbaju termasuk golongan kata verbal. Adanya perbedaan golongan dan arti kata tersebut disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Oleh karena itu, dalam bidang morfologi, selain membahas tentang seluk-beluk bentuk kata, juga membahas kemungkinan adanya perubahan golongan dan arti kata yang timbul sebagai akibat dari perubahan bentuk kata.
Hal yang terpenting dalam proses pembentukan kata adalah afiksasi. Afiksasi merupakan suatu proses perubahan leksem menjadi kata kompleks (Kridalaksana, 2007:28). Akibat dari perubahan tersebut, dapat mengakibatkan terjadinya perubahan fonem. Proses inilah yang dikenal sebagai proses morfofonemik.
Selama ini, penggunaan kata berafiks sebagai suatu bentuk kata kurang diperhatikan asal usulnya apalagi dalam proses pembentukan kata. Kurangnya perhatian tersebut menyebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan mengenai proses pembentukan kata tersebut. Padahal, kata berafiks yang terdiri dari morfem terikat dan morfem bebas terbentuk berdasarkan suatu proses akibat pertemuan morfem dengan morfem lain.
Dalam mempelajari atau menggunakan suatu bahasa dapat dikuasai oleh kebanyakan orang dengan mudah dan lancar. Namun, hal ini tidak akan sama dan menjadi sulit ketika harus menerangkan sampai pada kaidah-kaidahnya. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Verhaar (2006:7) bahwa belajar suatu bahasa tidak sama dengan belajar tentang bahasa itu sendiri. Misalnya, kebanyakan orang dapat menguasai bahasa Indonesia, tetapi tanpa keahlian khusus orang tersebut tidak akan mampu menerangkan tata bahasa Indonesia tersebut sesuai dengan kaidah yang baik dan benar.
Ada berbagai macam bidang kajian morfologi, salah satunya adalah morfofonemik. “Morfofonemik adalah proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya” (Depdikbud RI, 1988:87). Permasalahan dalam morfofonemik cukup variatif yaitu pertemuan antara morfem dasar dengan berbagai afiks sehingga menimbulkan variasi-variasi yang kadang membingungkan para pemakai bahasa. Sering timbul pertanyaan dari pemakai bahasa, manakah bentukan kata yang sesuai dengan kaidah morfologi. Hal yang menarik adalah munculnya pendapat yang berbeda dari ahli bahasa yang satu dengan ahli bahasa yang lain (Prabareta, 2009).
Dalam bahasa Indonesia terdapat proses morfofonemik akibat perubahan fonem nasal yang berwujud /m/ di depan /b/, /n/ di depan /d/, /ñ/ di depan /j/, dan /ŋ/ di depan /g/ (Samsuri dalam Saliwangi dkk. 1991:9). Misalnya morfem /məN-) apabila bergabung dengan morfem /bawa/ berubah menjadi /məm-/ sehingga menjadi /məmbawa/. Morfem /məN-/ bergabung dengan morfem /dəŋar/, maka berubah menjadi /mən-/ sehingga menjadi /məndəŋar/.
Kebanyakan masyarakat Indonesia sendiri kurang memahami proses pemunculan suatu bentuk kata sebagai hasil dari penggabungan morfem terikat dan morfem bebas. Misalnya, penggabungan morfem /məN-/ + /patung/ menjadi /məmatuŋ/ dan bukan /məmpatuŋ/. Dalam proses pembentukan kata mematung terjadi perubahan fonem /p/ menjadi fonem /m/. Kasus ini telah menjadi masalah kebahasaan bahasa Indonesia. Padahal, dalam mempelajari serta memahami suatu proses pembentukan kata itu merupakan salah satu jawaban dalam mengatasi masalah kebahasaan tersebut. Dalam penulisan morfem-morfem dan hasil pembentukannya harus ditulis secara fonetik agar pembaca dapat memahami secara segaligus bentuk fonetisnya. Fonetik meneliti bunyi bahasa menurut cara pelafalannya dan menurut sifat-sifat akustiknya (Verhaar, 2006:10).
Masalah kebahasaan yang lain terdapat pada contoh kata mengubah. Pemakaian kata mengubah biasa dilisankan atau pun dituliskan dengan kata merubah. Padahal, menurut pembentukan kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah kata mengubah. Kata mengubah terbentuk dari morfem /məN-/ + /ubah/. Dalam kasus ini, kata mengubah terjadi karena perubahan morfem /məN-/ menjadi /məŋ-/. Pada kata merubah, tampaknya bukan terbentuk dari morfem /məN-/ + /ubah/, melainkan dari morfem /məN-/ + /rubah/ (nama seekor binatang) yang artinya menjadi seperti rubah.
Dalam hal ini, penulis memilih harian Sriwijaya Post edisi April 2010 pada rubrik wisata terbitan Minggu. Penggunaan morfofonemik lebih sering kita lihat dalam tulisan-tulisan di media massa terutama surat kabar. Pada rubrik wisata ini banyak menggunakan pemakaian kata-kata berafiks sehingga akan lebih banyak data yang diperoleh untuk menganalisis peristiwa morfofonemik tersebut. Surat kabar Sriwijaya Post adalah salah satu harian surat kabar yang terbit di kota Palembang yang biasa memuat rubrik dengan nama wisata yang memperkenalkan tempat-tempat wisata sebagai salah satu rubrik berita yang terbit setiap hari minggu.
Dalam teks berita pada rubrik wisata, penggunaan morfofonemik cukup banyak jumlahnya. Berikut ini adalah salah satu teks pada rubrik wisata tersebut yang dikutip secara utuh yang terdapat dalam harian Sriwijaya Post (4 April 2010).
Menyelam di Kelayang
Bagi sebagian orang, kegiatan menyelam dapat enjadi sarana rekreasi yang amat menyenangkan dan menghilangkan segala kepenatan bekerja, maupun stres. Soalnya, dengan menggunakan berbagai kelengkapan menyelam, kita dapat menyaksikankekayaan di abawah air seperti terumbu karang yang unik dan indah dengan berbagai bentuk, beraneka ragamnya ikan-ikan karang yang berwarna warni, begitu pula hewan lainnya seperti keong, bulu babi, ubur-ubur, maupun bintang laut, dsb. Semuanya itu dapat disaksikan seorang penyela baik di kedalaman satu meter hingga puluhan meter.
Di Belitung, ada juga penyelam profesi yaitu untuk mencari harta karun yang terdapat di dasar lautan dari kapal-kapal Jepang dan negara asing lainnya yang berumur ratusan tahun. Belum lama ini penyelam asing berhasil menemukan ratusan benda-benda antik yang nilainya mencapai triliunan rupiah di dekat perairan Tanjung Kelayang, atas petunjuk nelayan-nelayan tradisional Belitung. Sayangnya, para nelayan setempat tidak mendapatkan apa-apa, begitu pula Pemda Belitung.
Bagi nelayan Belutung, menyelam adalah pekerjaan sehari-hari. Mereka tidak menggunakan tabung udara layaknya seorang penyelam rekreasi atau penyelam prodesional, melainkan hanya mengguakan masker atau kaca selam dengan alat bantu pernapasan dari pipa bening ukuran jari kelingking tangan, yang dihubungkan dengan kompresor langsung. Mereka enyelam berjam-jam lamanya, untuk mencari atau sekedar memasang keramba. (afi)
Dalam kutipan teks di atas, pemakaian morfofonemik cukup banyak ditemukan. Dalam wacana tersebut terdapat proses perubahan fonem yaitu pada peristiwa menjadi, menghilangkan, menggunakan, mencari, mencapai, mendapatkan. Perubahan dan penghilangan fonem yaitu menyelam, menyenangkan, menyaksikan, penyelam, menemukan, memasang. Selanjutnya pergeseran fonem yaitu kepenatan, kelengkapan, kedalaman, perairan, dan pernapasan. Terakhir pengekalan fonem yaitu kekayaan.
Pada peristiwa perubahan fonem dalam teks di atas, terjadi proses pembentukan yaitu /məN-/ + /jadi/ /mənjadi/, /məN-...-kan/ + /hilaŋ/ /məŋhilaŋkan/, /məN-...-kan/ + /guna/ /məŋgunakan/, /məN-/ + /cari/ /məncari/, /məN-/ + /capai/ /məncapai/, /məN-...-kan/ /dapat/ /məndapatkan/. Proses perubahan dan penghilangan fonem yaitu /məN-/ + /səlam/ /məñəlam/, /məN-...-kan/ + /sənaŋ/ /məñənaŋkan/, /məN-...-kan/ + /saksi/ /məñaksikan/, /pəN-/ + /səlam/ /pəñəlam/, /məN-...-kan/ + /təmu/ /mənəmukan/, /məN-/ + /pasaŋ/ /məmasaŋ/. Proses pergeseran fonem yaitu /kə-...-an/ + /pənat/ /kə-pə-na-tan/, /kə-...-an/ + /ləŋkap/ /kə-ləŋ-ka-pan/, /kə-...-an/ + /dalam/ /kə-da-la-man/, /pər-...-an/ + /air/ /pər-a-i-ran/, /pər-...-an/ + / napas/ /pər-na-pa-san/. Terakhir pengekalan fonem yaitu /kə-...-an/ + /kaya/ /kəkayaan/.
Setiap proses yang terjadi pada peristiwa tersebut pasti memiliki suatu kaidah dalam pembentukannya. Pada proses perubahan fonem terdapat kaidah yaitu apabila afiks morfem /məN-/ dan /məN-...-kan/ dibubuhkan pada kata dasar yang diawali dengan fonem /j/, /g/, /c/, dan /d/, maka terjadi perubahan morfem /məN-/ menjadi /mən/ dan pada kata dasar yang diawali dengan fonem /h/ dan /g/, maka terjadi perubahan morfem /məN-...-kan/ menjadi morfem /məŋ-...-kan/. Kaidah pada proses perubahan dan penghilangan fonem yaitu apabila afiks morfem /məN-/, /məN-...-kan/, dan /pəN-/ dibubuhkan dengan kata dasar yang diawali dengan fonem /s/, maka /məN-/, /məN-...-kan/, dan /pəN-/ berubah menjadi /məñ/, /məñ-...-kan/ dan /pəñ/ dan terjadi penghilangan fonem /s/, sedangkan pada kata dasar yang diawali dengan fonem /t/, maka /məN-/ berubah menjadi /mən-/ dan penghilangan fonem /t/, pada kata dasar yang diawali dengan fonem /p/, maka morfem /məN-/ berubah menjadi morfem /məm-/ disertai penghilangan fonem /p/. Pada proses pergeseran fonem terdapat kaidah yaitu apabila afiks morfem /kə-...-an/ dan /pər-...-an/ dibubuhkan dengan kata dasar yang berakhiran dengan konsonan dan diikuti sufiks yang diawali vokal, maka terjadi pergeseran konsonan ke belakang. Terakhir pada proses pengekalan fonem terdapat kaidah yaitu apabila afiks morfem /kə-...-an/ dibubuhkan dengan kata dasar yang diawali dengan fonem /k/, maka terjadi pengekalan fonem /k/.
Uraian di atas memperlihatkan bahwa suatu morfofonemik dapat terjadi dan dipelajari dengan memperhatikan proses serta kaidah pembentukannya. Dalam media massa akan banyak ditemukan proses dan kaidah morfofonemik tersebut. Di dalam media massa, bahasa yang digunakan memang memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat pemakai bahasa. Dalam pembinaan bahasa pun, media massa berperan besar sebagai penyebar dan sekalugus sebagai tolok ukur penggunaan bahasa yang baik dan benar (Alwi, 2000:102).
Penelitian ini membahas mengenai bagaimana pembentukan kaidah morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post edisi April 2010. Penelitian ini mencakup suatu proses pembentukan kata melalui perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Surat kabar Sriwijaya Post dipilih sebagai objek penelitian karena banyaknya penggunaan morfofonemik yang dapat dianalisis proses pembentukannya. Morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata harian Sriwijaya Post ini diambil sebagai rubrik yang mewakili keseluruhan data yang terdapat di setiap isi berita.
2. Masalah
Dalam penelitian ini, masalah yang dibahas adalah morfofonemik dalam rubrik wisata pada surat kabar harian Sriwijaya Post edisi April 2010. Ruang lingkup masalah yang akan dibahas antara lain:
1. Bagaimana proses morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010?
2. Bagaimana kaidah morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010?
3. Tujuan
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengumpulkan data, mengolah, dan mendeskripsikan aspek morfofonemik sebagai suatu proses perubahan fonem. Secara khusus, penelitian ini bertujuan antara lain:
1. Mendeskripsikan proses morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010.
2. Mendeskripsikan kaidah morfofonemik dalam surat kabar Sriwijaya Post terbitan April 2010.
4. Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang linguistik deskriptif khususnya tentang morfofonemik dalam bahasa Indonesia. Secara praktis, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penerbitan baik di jurnal kampus, sebagai pedoman dalam mempelajari pembentukan kata khususnya pada peristiwa morfofonemik, dan juga sebagai informasi para peneliti yang ingin mengkaji tentang proses morfofonemik bahasa-bahasa yang lain. Hal ini akan memberikan pengetahuan kepada pembaca bahwa melalui kaidah morfofonemik, kita dapat memahami dan menerapkan pola pembentukan sebuah kata sehingga tujuan yang hendak dicapai tersebut dapat benar-benar terwujud.
5. Tinjuauan Pustaka
Pada bagian ini penulis mengemukakan suatu bentuk peristiwa morfofonemik sebagai sebuah pembentukan kata. Pembentukan kata ini adalah salah satu kajian deskriptif yang memaparkan tentang bagaimana suatu kata dapat terbentuk. Peristiwa pembentukan kata tersebut dapat melalui suatu proses dan kaidah tertentu.
5.1 Pengertian Morfofonemik
Membahas bentukan kata dalam kajian morfologi, peristiwa morfofonemik merupakan suatu peristiwa yang tak terlepas dari kaidah pembentukannya. Menurut Ramlan (2001:83), morfofonemik adalah suatu proses perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Misalnya morfem /bər-/ bertemu dengan morfem /ajar/ menghasilkan kata /bəlajar/. Dalam peristwa ini, fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/. Morfofonemik merupakan kata serapan dari bahasa Inggris morphophonemics atau sering juga disebut morphonemics atau ada juga yang menamakan morfofonologi (Heatherington dalam Tarigan, 1988). ”Morfofonologi adalah telaah umum mengenai bidang kebersamaan antara bunyi dan bentuk kata”. (Tarigan, 1995:27). Morfofonemik berasal dari kata morfem dan fonem. Morfem adalah unsur yang terkecil yang secara individual mengandung pengertian dalam ujaran sesuatu bahasa (Hocket, 1958: 123). Hal ini senada dengan yang diungkapkan Nida (dalam Poerwadi dkk., 2003:10) bahwa morfem adalah unsur pemakaian bahasa yang terkecil yang mengandung arti atau pengertian. Morfem dalam suatu bahasa memiliki bermacam-macam karakter. Berdasarkan hubungan distribusinya, morfem diklasifikasikan dalam morfem bebas yang dapat berdiri sendiri sebagai kata dan morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata (Poerwadi, 2003:11). Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat membedakan arti (Sudarno, 1990:17). Kedua istilah tersebut yang akhirnya membentuk suatu istilah baru yang dikenal dengan nama morfofonemik.
Menurut Kridalaksana (2007:183), proses morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena adanya pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia terjadi hanya dalam pertemuan secara nyata antara morfem dasar dengan afiks (morfem terikat). Selain itu, menurut Sudarno (1990: 9), morfofonemik adalah ilmu yang mempelajari perubahan fonem akibat proses morfologis.
Menurut beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa morfofonemik adalah suatu peristiwa yang terjadi karena pertemuan morfem (bebas) dengan morfem (terikat) yang menyebabkan perubahan fonem pada morfem tersebut.
5.2 Proses Morfofonemik
Proses morfofonemik berbeda menurut beberapa ahli. Namun, variasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut tidak membedakan maksud dan tujuan masing-masing. Semuanya membahas mengenai bagaimana suatu kata dapat terbentuk. Dengan kata lain, proses morfofonemik yang bervariasi menurut ahli dapat memberikan manfaat yang sama dan mengandung inti yang sama pula sesuai dengan keinginan untuk disampaikan pada pembaca.
Proses morfofonemik adalah proses perubahan fonem yang disebabkan oleh adanya hubungan dua morfem atau lebih beserta pemberian tanda-tandanya (Saliwangi dkk., 1991:9). Menurut Lubis dkk. (1986:10), proses morfofonemik merupakan suatu proses berubahnya suatu bentuk morfem sebagai akibat dari adanya penggabungan morfem-morfem.
Menurut Ramlan (2001:83) bahwa dalam bahasa Indonesia sedikitnya terdapat tiga proses morfofonemik. Ketiga proses tersebut antara lain.
a. Proses perubahan fonem
b. Proses penambahan fonem
c. Proses hilangnya fonem
Proses morfofonemik menurut Ramlan secara garis besar sama dengan proses morfofonemik menurut Tarigan dan Chaer. Hanya saja Chaer (2008:43—45), menambahkan satu proses morfofonemik dari ketiga proses menurut Ramlan yaitu . pemunculan fonem, pelesapan fonem, peluluhan fonem, dan perubahan fonem. Namun, pelesapan dan peluluhan fonem sebenarnya pembentukannya dan penggunaannya sama saja dengan penghilangan fonem pada Ramlan.
Menurut Tarigan (1995:27), berbicara tentang proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia, maka terdapat tiga hal yang penting. Tiga hal tersebut antara lain.
a. Proses perubahan fonem
b. Proses penambahan fonem
c. Proses penanggalan fonem
Menurut Kridalaksana (2007:183—184), perubahan fonem yang terjadi akibat pertemuan morfem dapat digolongkan sebagai berikut.
a. Pemunculan fonem
b. Pengekalan fonem
c. Pemunculan dan pengekalan fonem
d. Pergeseran fonem
e. Perubahan dan pergeseran fonem
f. Pelesapan fonem
g. Peluluhan fonem
5.3 Kaidah Morfofonemik
Proses morfofonemik masing-masing diuraikan sesuai dengan kaidah yang bersangkutan. Kaidah-kaidah berdasarkan proses morfofonemik tersebut dapat dilihat menurut Kridalaksana dan Ramlan.
5.3.1 Menurut Kridalaksana (2007:184—200), kaidah morfofonemik dapat diuraikan menjadi proses morfofonemik sebagai berikut.
a. Proses pemunculan fonem
Proses morfofonemik yang paling banyak terjadi adalah pemunculan fonem. Fonem yang muncul itu sama tipenya dengan fonem awal dalam morfem dasar. Perubahan morfofonemik semacam ini menimbulkan alomorf-alomorf dari morfem yang bersangkutan.
Peristiwa 1: Pemunculan fonem /y/ terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada /ay/, /i/, atau /e/ dan diikuti oleh sufiks atau bagian akhir konfiks yang diawali oleh vokal /a/. Contoh :
/kə - an/ + /tingi/ /kətingiyan/
/-an/ + /təpi/ /təpiyan/
Peristiwa 2: Pemunculan fonem /w/ terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada /aw/, /u/, atau /o/ yang diikuti olek sufiks atau bagian akhir konfiks yang diawali oleh vokal /a/. Contoh :
/kə - an/ + /pulau/ /kəpulauwan/
/-an/ + /sərbu/ /sərbuwan/
/pə - an/ + /toko/ /pərtokowan/
Peristiwa 3: Pemunculan /a/ terjadi pada penggabungan morfem dasar ayah dan sufiks -nda, /ayahan-da/
Peristiwa 4: Pemunculan /n/ terjadi pada penggabungan morfem dasar diri dan perfiks se-, /səndiri/
Peristiwa 5: Pemunculan /m/ terjadi pada penggabungan morfem dasar barang dan perfiks se-, /səm-baraŋ/
Peristiwa 6: Pemunculan /ŋə/ terjadi pada penggabungan morfem dasar yang terjadi dari satu suku kata yang bergabung dengan /mə-/, /pə/, /pə-an/. Contoh :
/mə-/ + /cat/ /məŋəcat/
/pə-an/ + /tik/ /pəŋətikan/
Peristiwa 7: Pemunculan /m/ terjadi pada morfem dasar yang diawali dengan /b/, .f/, dan /p/ yang bergabung dengan awalan /me-/, /pe-/, dan /pe-an/. Dengan syarat
(a) Fonem /f/ merupakan awal morfem pinjaman
(b) Fonem /p/ merupakan
(1) fonem awalan dari morfem dasar yang mengandung unsur /per-/ yang diikuti oleh konsonan.
(2) fonem ini merupakan bagian awal dari morfem dasar /puña/;
(3) bagian awal dari morfem dasar pinjaman.
Contoh :
/mə-/ + /bəli/ /məmbəli/
/mə-kan/ + /fatwa/ /məmfatwakan/
/mə-i/ + /pərbaru/ /məmperbarui/
Peristiwa 8: Pemunculan /n/ terjadi bila morfem dasar yang diawali oleh morfem dasar yang diawali oleh konsonan /t/ dan /d/ bergabung dengan /mə-/ dan kombinasinya, /pə-/, dan /pə-an/. Contoh :
/pə-/ + /dəŋar/ /pəndəŋar/
/mə- / + /dapat/ /məndapat/
Peristiwa 9: Pemunculan /n/ yang terjadi bila morfem dasar diawali oleh konsonan /c/ dan /j/ bergabung dengan /mə-/, /pə-/, dan /pə-an/. Contoh :
/mə-/ + /caci/ /məncaci/
/pə-/ + /curi/ /pəncuri/
/pə-an/ + /jilid/ /pənjilidan/
Peristiwa 10: Pemunculan /ŋ/ terjadi bila morfem dasar diawali oleh fonem /g/, /x/, /h/, atau /?/ bergabung dengan /mə-/, /pə-/, dan /pə-an/. Pemunculan /ŋ/ juga terjadi pada gabungan morfem dasar yang diawali oleh konsonan /k/, bila morfem dasar itu berasal dari bahasa asing atau bila ada faktor leksikal dengan tujuan menghindari homonim.Contoh :
/mə-/ + /ko’ordinir/ /məŋko’ordinir/
/pə-/ + /gugat/ /pəŋgugat/
/pə-an/ + /xusus/ /pəŋxususan/
b.Proses pengekalan fonem
Pengekalan fonem terjadi bila pada proses penggabungan morf tidak terjadi perubahan apa-apa, baik pada morfem dasar maupun pada afiks. Morfem dasar dan morfem terikat itu dikekalkan dalam bentuk baru yang lebih konkret.
Peristiwa 1: Pengekalan fonem terjadi bila morfem dasar yang diawali oleh fonem /y/, /r/, /I/, /w/, atau nasal bergabung dengan /mə-/, /pə-/. Contoh:
/pə-/ + /warna/ /pəwarna/
/pə-/ + /mula/ /pəmula/
/mə-i/ + /wajib/ /məwajibkan/
/mə-/ + /masak/ /məmasak/
Peristiwa 2: Pengekalan fonem terjadi bila morfem dasar yang berakhir dengan /a/ bergabung dengan konfiks /kə-an/. Contoh :
/kə-an/ + /raja/ /kəraja’an/
/kə-an/ + /ada/ /kə’ada’an/
/kə-an/ + /lama/ /kəlama’an/
Peristiwa 3: Pengekalan fonem terjadi bila afiks /bər-/, /pər-/, atau /tər-/, bergabung dengan morfem dasar kecuali /ajar/, /anjur/. Contoh :
/bər-/ + /main/ /bərmain/
/tər-/ + /lalu/ /tərlalu/
/pər-/ + /dalam/ /pərdalam/
Peristiwa 4: Pengekalan fonem terjadi bila afiks se- bergabung dengan morfem dasar.
/sə-/ + /’arah/ /sə’arah/
/sə-/ + /’umur/ /sə’umur/
/sə-/ + /tiŋkat/ /sə’tiŋkat/
Peristiwa 5: Pengekalan fonem terjadi bila afiks –wan/, /-man/, /-wati/ bergabung dengan morfem dasar. Contoh :
/səni/ + /-man/ /səniman/
/pəraga/ + /-wati/ /pəragawati/
/warta/ + /-wan/ /wartawan/
c. Proses pemunculan dan pengekalan fonem
Pemunculan dan pengekalan fonem adalah proses pemunculan fonem yang homorgan dengan fonem pertama morf dasar dan sekaligus pengekalan fonem pertama morf dasar tersebut. Proses ini terjadi karena bahasawan ingin mempertahankan identitas leksikal morf dasar dan bertujuan menghindari homonim dengan bentuk pemunculan. Proses ini hanya terjadi pada prefiksasi.
Peristiwa 1: Pemunculan /ŋ/ dan pengekalan /k/. Contoh
/mə-/ + /kukur/ /meŋkukur/
/pə-/ + /kaji/ /pəŋkaji/
Peristiwa 2: Pemunculan /ŋ/ dan pengekalan /’/. Contoh
/mə-/ + /’ara’/ /məŋ’araŋ/
/pə-/ + /’ukur/ / pəŋ’ukur/
d. Proses pergeseran posisi fonem
Pergeseran posisi fonem terjadi bila komponen dari morfem dasar dan bagian dari akfiks membentuk satu suku kata. Pergeseran ini dapat terjadi ke depan, ke belakang atau dengan pemecahan.
Peristiwa 1: Pergeseran ke belakang terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada konsonan yang diikuti oleh sufiks atau komponen akhir konfiks yang diawali oleh vokal, sehingga konsonan tersebut menjadi bagian dari suku kata yang di belakang. Contoh:
/baik/ + /pər-i/ /pər-ba-i-ki/
/sakit/ + /pə-an/ /pə-sa-ki-tan/
/taŋis/ + /-i/ /ta-ŋi-si/
/bakar/ + /kə-an/ /kə-ba-ka-ran/
Peristiwa 2: Pergeseran ke depan terjadi pada morfem dasar yang berakhir pada vokal yang diikuti oleh sufiks yang berawal dengan konsonan, sehingga konsonan tersebut menjadi bagian dari suku kata pra-akhir itu. Contoh :
/ibu/ + /-nda/ /i-bun-da/
/bibi/ + /-nda/ /bi-bin-da/
/cucu/ + /-nda/ /cu-cun-da/
Peristiwa 3: Pemecahan suku kata terjadi dalam proses penyisipan dengan /-əl-/, /-ər-/ dan /-əm-/, sehingga unsur-unsur sisipan itu terpecah dalam suku kata yang berlainan. Contoh:
/gəmbuŋ/ + /-əl-/ /gə-ləm-buŋ/
/gigi/ + /-ər-/ /gə-ri-gi/
/gətar/ + /-əm-/ /gə-mə-tar/
e. Proses perubahan dan pergeseran posisi fonem
Perubahan dan pergeseran posisi fonem terjadi pada proses penggabungan morfem dasar yang berakhir dengan konsonan dengan afiks yang berawal dengan vokal, atau penggabungan morfem dasar /ajar/ dengan afiks /bər-/, /pər-/, dan /pər-an/, atau pada penggabungan morfem dasar /anjur/ dengan afiks /tər-/.
Peristiwa 1: Perubahan dari fonem /’/ menjadi fonem /k/ terjadi bila morfem dasar yang berakhir dengan fonem /’/ bergabung dengan sufiks /-an/ atau bagian akhir konfiks yang berawal dengan vokal, dan membentuk suku kata baru. Contoh:
/mə-i/ + /nai’/ /mə-na-i-ki/
/kə-an/ + /dudu’/ /kə-du-du-kan/
/-an/ + /gəra’/ /gə-ra-kan/
Realisasi fonem /k/ pada akhir morfem dasar hanya terjadi dalam dialek-dialek tertentu.
Peristiwa 2: Perubahan dari fonem /r/ menjadi fonem /l/ pada akhir afiks /bər-/, /pər-/, dan /pər-an/ terjadi bila afiks-afiks tersebut bergabung dengan morfem dasar /ajar/. Fonem yang berubah itu membentuk suku kata baru dengan vokal awal. Contoh
/bər-/ + /’ajar/ /bə-la-jar/
/pər-/ + /’ajar/ /pə-la-jar/
Peristiwa 3: Perubahan dari fonem /r/ menjadi fonem /l/ pada akhir afiks /tər-/ terjadi bila afiks itu bergabung dengan morfem dasar /anjur/ dan /antar/. Fonem yang berubah itu membentuk suku kata baru dengan vokal awal morfem dasar. Contoh :
/tər-/ + /’antar/ /tər-lan-tar/
/tər-/ + /’anjur/ /tər-lan-jur/
f. Proses pelepasan fonem
Proses pelepasan fonem terjadi bila morfem dasar atau afiks melesap pada saat terjadi penggabungan morfem.
Peristiwa 1: Pelepasan fonem /k/ atau /h/ terjadi bila morfem dasar yang berakhir pada konsonan tersebut bergabung dengan sufiks yang berasal dari konsonan juga. Contoh:
/’anak/ + /-nda/ /’ananda/
/səjarah/ + /-wan/ /səjarawan/
Peristiwa 2: Pelepasan fonem /r/ dari afiks /bər-/, /tər-/, /pər-/ dan /pər-an/ karena bergabung dengan morfem dasar yang suku pertamanya berawal dengan fonem /r/ atau yang suku pertamanya mengandung /r/. penggabungan afiks tersebut dengan morfem dasar /ajar/, dan /anjur/. Contoh :
/bər-/ + /rumah/ /bərumah/
/tər-/ + /ramai/ /təramai/
/pər-/ + /ramal/ /pəramal/
g. Proses peluluhan fonem
Peluluhan fonem terjadi bila proses penggabungan morfem dasar dengan afiks membentuk fonem baru.
Peristiwa 1: Peluluhan fonem /k/ dari morfem dasar yang diawali dengan fonem /k/ yang bergabung dengan /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/. Dalam proses morfofonemik dengan morfem dasar yang diawali oleh konsonan /k/ yang berasal dari bahasa asing atau karena adanya faktor leksikal. Contoh :
/mə-/ + /karaŋ/ /məŋaran/
/pə-/ + /karaŋ/ /pəŋaraŋ/
/mə-kan/ + /kirim/ /məŋirimkan/
/pə-an/ + /kuraŋ/ /pəŋuraŋan/
/mə-i/ + /kuraŋ/ /məŋuraŋi/
Peristiwa 2: Peluluhan fonem /p/ bila afiks /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/ digabungkan dengan morfem dasar yang diawali oleh fonem /p/, kecuali pada morfem dasar yang berprefiks /pər-/ atau yang berasal dari bahasa asing. Contoh :
/mə-/ + /pilih/ /məmilih/
/pə-/ + /pahat/ /pəmahat/
/mə-kan/ + /pikir/ /məmikirkan/
/mə-i/ + /pəraŋ/ /məməraŋi/
Peristiwa 3: Peluluhan fonem /s/ terjadi pada penggabungkan morfem dasar yang diawali oleh fonem /s/ dengan afiks /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/, kecuali bila fonem /s/ mengawali morfem dasar yang berasal dari bahasa asing.
/mə-/ + /sayur/ /məñayur/
/mə-i/ + /sakit/ /məñakiti/
/mə-kan/ + /saksi/ /məñaksikan/
/pə-/ + /susun/ /pəñusun/
Peristiwa 4: Peluluhan fonem /t/ pada morfem dasar yang diawali oleh fonem /t/ yang bergabung dengan afiks /mə-/, /mə-kan/, /mə-i/ /pə-/ dan /pə-an/, kecuali pada morfem dasar yang berasal dari bahasa asing atau morfem dasar yang berprefiks /tər-/.Contoh :
/mə-/ + /tata/ /mənata/
/mə-kan/ + /tidur/ /mənidurkan/
/mə-i/ + /təlusur/ /mənəlusuri/
5.3.1 Menurut Ramlan (2001:98—105), kaidah morfofonemik dapat diuraikan menjadi
5.3.1.1 Kaidah morfofonemik morfem afiks meN-
meN- mem- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /p/, /b/, /f/, maka fonem /p/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya dan pada bentuk dasar yang berprefiks ialah prefiks per-. Contoh:
/məN-/ + /paksa/ /məmaksa/
/məN-/ + /bawa/ /məmbawa/
/məN-/ + /fitnah/ /məmfitnah/
meN- men- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /t/, /d/, maka fonem /t/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya dan pada bentuk dasar yang berprefiks ialah prefiks ter-. Fonem /s/ hanya berlaku bagi beberapa bentuk dasar yang mempertahankan keasingannya. Contoh:
/məN-/ + /tulis/ /mənulis/
/məN-/ + /dasarkan/ /məndasarkan/
/məN-/ + /tərjəmahkan/ /məntərjəmahkan/
meN- meny- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /s/, maka fonem /s/ hilang. Contoh:
/məN-/ + /sapu/ /məñapu/
/məN-/ + /sikat/ /məñikat/
meN- meng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /k/, /g/, /x/, /h/, dan huruf vokal, maka fonem /k/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya. Contoh:
/məN-/+ /karang/ /məŋaraŋ/
/məN-/ + /gali/ /məŋgali/
/məN-/ + /xususkan/ /məŋxususkan/
/məN-/ + /halau/ /məŋhalau/
/məN-/ + /akui/ /məŋakui/
meN- me- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /y/, /r/, /l/, /w/, dan nasal. Contoh:
/məN-/ + /yakinkan/ /məyakinkan/
/məN-/ + /ramal/ /məramal/
/məN-/ + /warisi/ /məwarisi/
/məN-/ + /naikkan/ /mənaikkan/
meN- menge- apabila diikuti bentuk dasar yang terdiri dari satu suku. Contoh:
/məN-/+ /bom/ /məŋebom/
/məN-/ + /cat/ /məŋecat/
5.3.1.2 Kaidah morfofonemik morfem afiks peN-
Kaidah morfofonemik morfem afiks /pəN-/ sama dengan kaidah morfofonemik morfem afiks /məN-/ pada umumnya.
peN- pem- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /p/, /b/, /f/. Fonem /p/ hilang. Contoh:
/pəN-/ + /pakai/ /pəmakai/
/pəN-/ + /bawa/ /pəmbawa/
peN- pen- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /t/, /d/, /s/. Fonem /t/ hilang kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang asih mempertahankan keasingannya. Contoh:
/pəN-/ + /tulis/ /pənulis/
/pəN-/ + /dorong/ /pəndoroŋ/
peN- peny- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /s/. Fonem /s/ hilang. Contoh:
/pəN-/ + /sadur/ /pəñadur/
/pəN-/ + /suap/ /pəñuap/
peN- peng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /k/, /g/, /x/, /h/. Fonem /k/ hilang. Contoh:
/pəN-/ + /karaŋ/ /pəŋaraŋ/
/pəN-/ + /gali/ /pəŋgali/
/pəN-/ + /halaŋ/ /pəŋhalaŋ/
peN- pe- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /y/, /r/, /l/, /w/. Contoh:
/pəN-/ + /ramal/ /pəramal/
/pəN-/ + /lupa/ /pəlupa/
/pəN-/ + /waris/ /pəwaris/
peN- penge- apabila diikuti bentuk dasar yang terdiri dari satu suku. Contoh:
/pəN-/ + /bom/ /pəŋebom/
/pəN-/ + /cat/ /pəŋecat/
/pəN-/ + /las/ /pəŋelas/
5.3.1.3 Kaidah morfofonemik morfem afiks ber-
ber- be- apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ər/. Contoh:
/bər-/ + /rantai/ /bərantai/
/bər-/ + /kerja/ /bəkerja/
ber- bel- apabila diikuti bentuk dasar /ajar/. Contoh:
/bər-/ + /ajar/ /bəlajar/
ber- ber- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/, suku pertamanya tidak berakhir dengan /ər/, dan bentuk dasar yang bukan morfem /ajar/. Contoh:
/bər-/ + /kata/ /bərkata/
/bər-/ + /tugas/ /bərtugas/
5.3.1.4 Kaidah morfofonemik morfem afiks per-
per- pe- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/. Contoh:
/pər-/ + /rendah/ /pərendah/
/pər-/ + /ragakan/ /pəragakan/
per- pel- apabila diikuti bentuk dasar yang berupa morfem /ajar/. Contoh:
/pər-/ + /ajar/ /pəlajar/
per- per- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang bukan morfem /ajar/. Contoh:
/pər-/ + /kaya/ /pərkaya/
/pər-/ + /satukan/ /pərsatukan/
6. Metodelogi Penelitian
6.1 Metode
Penelitian ini berusaha mendeskripsikan kaidah morfofonemik yang terdapat dalam surat kabar Sriwijaya Post edisi April 2010 pada rubrik wisata yang terbit setiap hari minggu. Metode yang diguakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Metode deskriptif adalah metode penelitian yang berusaha menggambarkan fakta apa adanya. Metode analitis berusaha menguraikan, memecahkan, dan menelusuri sehingga menemukan kaidah. Menurut Ali (1997:120), metode deskriptif analitis berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang dihadapi dengan cara mengumpulkan data, mengklasifikasi data, mengolah data, dan membuat kesimpulan. Dengan kata lain, metode deskriptif adalah penggambaran suatu kejadian sesuai dengan apa adanya dan secara objektif. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Suryabrata (2004:76) bahwa penelitian deskriptif bermaksud untuk membuat deskriptif secara sistematis, faktual, dan akurat fakta-fakta yang ditemukan.
6.2 Sumber Data
Dalam penelitian ini, sumber data yang diambil adalah pada rubrik wisata yang terbit pada setiap hari minggu yang terdapat dalam harian surat kabar Sriwijaya Post edisi April 2010. Ini menunjukkan bahwa data yang digunakan adalah semua peristiwa morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata dalam harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
6.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi dan teknik observasi. Teknik dokumentasi adalah teknik yang dilakukan untuk menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 2002:135). Teknik selanjutnya adalah teknik observasi. Teknik observasi adalah teknik yang dilakukan dengan pengamatan dan pencatatan secara sistematis atas fenomena-fenomena yang diteliti (Hadi, 2004:152). Teknik observasi berusaha mengamati suatu objek penelitian. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Keraf (2004:183), teknik observasi adalah teknik pengamatan langsung kepada suatu objek yang akan diteliti. Mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap (Arikunto, 2002:133).
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada rubrik wisata yang terdapat dalam surat kabar harian Sriwijaya Post edisi April 2010. Teknik observasi digunakan untuk mengamati dan mencatat peristiwa morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
6.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik analisis isi. Teknik analisis isi dapat digunakan untuk semua bentuk sarana komunikasi seperti surat kabar, puisi, lagu, cerita rakyat, pidato, surat, dan lukisan (Rahmat, 2000:125). Dalam penelitian ini, setiap peristiwa morfofonemik dianalisis dan dideskripsikan berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1) Mengumpulkan data yaitu seluruh rubrik wisata harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
2) Mengidentifikasi morfofonemik yang terdapat dalam rubrik wisata dalam harian Sriwijaya Post edisi April 2010.
3) Mengelompokkan data morfofonemik tersebut.
4) Menganalisis dan menginterpretasi data yang telah terkumpul berdasarkan teori morfologi.
5) Membuat simpulan.
Daftar Pustaka
Alwi, Hasan. 2000. Bahasa Indonesia: Pemakai dan Pemakaiannya. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indoesia (Pendekatan Proses). Jakarta: PT Rineka Cipta.
Depdikbud RI. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indoesia. Jakarta.
Hadi, Sutrisno. 2004. Metodelogi Research. Yogyakarta: Andi.
Hockett, Charles. 1958. A Course in Modern Linguistics. New York: The Macmillan Company.
Keraf, Gorys. 2004. Komposisi. Flores: Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Lubis, Syahron, dkk. 1986. Sistem Morfologi dan Sintaksis Bahasa Melayu Langkat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdiknas.
Poerwadi, Petrus, dkk. 2003. Morfologi Bahasa Seruyan. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.
Prabareta. 2009. “Morfologi dalam Bahasa Indonesia”. http:// prabareta. blogspot. com/ 2009/01/morfofonemik-dalam-bahasa-indonesia.html. diakses tanggal 12 Maret 2010.
Rahmat, Jalaludin. 2000. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rusdakarya.
Ramlan. 2001. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV. Karyono.
Saliwangi, Basennang, dkk. 1991. Sistem morfologi Kata Kerja (Verba) Bahasa Tetun. Jakarta: Depdikbud.
Sriwijaya Post. 2010. ”Menyelam di Kepayang”. 4 April, No. Tahun , Hlm.18.
Sudarno. 1990. Morfofonemik Bahasa Indonesia. Jakarta: Arikha Media Cipta.
Tarigan, Henry Guntur. 1995. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa.
Verhaar. 2006. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Minggu, 02 Agustus 2009
Surat untuk Ibu
Sudah dua bulan ini Siti dan ibunya harus bangun tiap tengah malam. Ibunya selalu membangunkan tidurnya di tengah malam walaupun kelihatannya ia tak rela. Tapi sikapku yang selalu memaksa untuk dibangunkan membuat ibu harus terpaksa melakukannya. Seperti biasa Siti menyiapkan bahan-bahan yang mereka butuhkan untuk membuat nasi uduk. Sedangan ibu yang meracik bumbu dan memasak nasiya. Tiap malam mereka harus berduet agar nasi uduk mereka cepat selesai dan siap untuk dijual keliling oleh ibu setiap harinya mulai dari waktu subuh.
Ibu harus menjajahkan nasi uduknya dengan berkeliling ke setiap rumah-rumah di desa seberang. Keadaan desa mereka begitu sunyi dan terpencil sehingga hampir tak ada orang yang sanggup untuk membeli nasi uduknya. Sering kali Siti mencoba ingin membantu ibunya berjualan nasi uduk di desa, tapi ibunya selalu melarangnya karena ibunya tak mau kalau Siti harus mencari uang dengan berjualan nasi uduk sama sepertinya.
Tiap kali Siti selalu merasa khawatir dan kasihan terhadap ibunya. Wanita yang hampir tua itu selalu saja tetap bersemangat melangkahkan kakinya ke jalanan yang penuh degan pasir dan bebatuan kerikil. Siti tak tega kalau harus melihat ibunya yang selalu berjuang untuk mempertahankan hidup mereka dan untuk membayar sewa rumah yang mereka tempati sekarang. Ia hanya bias berdo’a pada Allah dan menangis agar ibunya dberikan kekuatan dan kesehatan.
Ibu Ani, itulah panggilan yang biasa orang-orang teriakkan kepada wanita itu ketika ia menjajahkan nasi uduknya. Ibu Ani sudah biasa menahan ejekan tiap-tiap orang yang merasa terganggu dengan ehadirannya atau makian pedas karena nasi uduknya tak sesuai dengan selera pelanggannya.
Siti yang sedari tadi duduk melamun di laman rumah ditemai oleh hijaunya rumput-rumput liar yang menunggu untuk siap dipangkas dan debu-debu yang berterbangan manari-nari di udara mengikuti arahnya angina. Siti tak sabar menunggu kedatangan ibunya dengan bakul nasi uduk yang sudah kosog melontong habis terjual diserbu pembeli. Ia berharap uang hasil dari jualan nasi uduk ibunya dapat ditukar dengan 1kg beras untuk mereka makan hari ini.
Debu-debu karena jalanan yang berpasir itu semakin mengepul dan membuat mata Siti menjadi perih karena beberapa butir dari pasir itu masuk ke retinanya. Siti terus saja mengucek-ngucek matanya. Ketika itu dua orang laki-laki yang terlihat seram karena kepalanya yang botak dengan jaket kulit berwarna hitam yang dikenakannya yang satunya terdapat tato seperti gambar tengkorak dating menghampirinya setelah mereka memarkirkan sepeda motornya di depan rumah Siti. Siti terus saja mengamati tato tengkorak di bagiab lengan sebelah kiri salah satu laki-laki itu yang dari tadi enggerak-gerakkan tangannya yang dikepalnya dan beradu dengan telapak tangannya sebelah kiri.
Dua orang lai-laki itu rupanya hendak menagih uang kontrakan dari rumah yang ibu Ani dan Siti tempati. Mereka hendak mengancam Siti kalau ibunya tak bisa melunasi uang kontrakan. Mereka memaksa Siti untuk segera membayar uangnya, tapi Siti merasa sangat takut dan ngeri itu hanya berkata kalau ibunya sekarang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.
Badan Siti terasa sakit dan pegal-pegal akibat dua orang laki-laki tadi mendorongnya ke belakang hingga mengenai tiang di teras rumahnya. Ia harus menahan rasa sakitnya di depan ibunya karena Siti tak mau kalau ibunya sampai tau kejadian tersebut. Siti tak tega jika harus menambah penderitaan ibunya dengan keadaannya itu. Jadi, ia memilih utuk tutup mulut dan bungkam soal peristiwa yang menimpanya. Sambil terus menangis, Siti ulai berpikir tentang kehidupan ia dan ibunya. Tak mungkin ibunya bisa membayar uang kontrakan rumah hanya degan mengandalkan jualan nasi uduknya. Ia bertekad untuk membantu ibunya berjualan nasi uduk.
Dengan cepat Siti enghapus air matanya ketika ibunya pulang ke rumah setelah berjualan nasi uduk. Hari ini sepertinya ibu Anni sedikt kecewa karena nasi uduk jualannya hanya sedikit yang terjual. Ia pulang dengan membawa bakul-bakul nasi uduk yang masih tersisa.
Tapi nasi uduk yang sudah terjual cukup untuk membeli beras dan sayur-sayuran untuk mereka makan malam ini. Siang ini terpaksa mereka harus makan sisa-sisa nasi uduk yang tak laku dijual. Sambil menikmati nasi uduk yang hampir basi itu, Siti mengamati kaki ibunya yang sudah kapalan karena terus berjalan ditambah denga benyaknya lecetan yang mengeluarkan darah. Siti mengambil daun-daun di samping rumahnya lima helai untuk diobati pada luka di kaki ibunya. Ibu Ani tetap bisa tersenyum walaupun ia tau kalau kakinya yang terlihat bengkak itu terasa sangat perih dan sakit.
Setelah enjauhkan bakul dan piring nasi uduk habis mereka makan tadi, Siti mengobati luka di kaki ibunya. Ia meletakkan daun-daun yang telah di petiknya tadi di kaki ibunya yang berdarah. Ia juga menyiapkan air hangat kuku utuk merendam kaki ibunya agar bengkaknya sedikit mengempes. Sambil mengobati kaki ibunya, Siti bercerita pada ibunya kalai ia harus segera membayar kontrakan rumahnya. Untuk emmebantu mendapatkan uang, Siti bertekad utuk berjualan nasi uduk di kota. Ibu Ani tak menyetujui niat anaknya tu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena sepertinya niat Siti itu sudah bulat dan ia harus melakukannya.
Hari ini adalah hari pertama Siti berjualan nasi uduk di kota. Sepertinya pekerjaannya itu tidak membuahkan hasil. Ternyata jualan nasi uduk di kota lebih sulit daripada menjual nasi uduk di desa seberang. Siti tak bisa berbuat apa-apa. Ia terpasa harus tetap tnggal di kota karena ia tidak mempunyai uang untuk pulang ke desa. Siti berjalan mengelilingi menyusuri kota yang penuh dengan keramaian orang-orang dan kendaraan hilir mudik. Ia merasakan betapa kejamnya kehidupan di kota. Ini ia sangat merindukan ibunya di desa. Ibu Ani pasti sedang menunggu-nunggu kedatangan Siti.
Asap dari kendaraan berotor menerpa wajahnya. Siti tak menyangka kalau asap dari mesin berjalan itu lebih menakutkan dibanding dengan debu-debu pasir yang biasa ia hirup di desanya.
Kali ini habislah sudah, tas jinjing yang dibawa Siti yang berisi sedikit pakaian dan bahan-bahan untuk nasi uduknya dirampas oleh seorang pria yang sedari tadi terus saja mengamatinya. Siti memang curiga terhadap pria tersebut, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia juga tak menganal siapa-siapa di kota. Walaupun ia meminta bantuan pada orang di sekitarnya, toh itu tak memberikan kebaikan bagi Siti karena kebanyakan orang tak merespon permintaan tolongnya. ”Sebenarnya apa yang pria itu incar dariku. Tak ada yang istimewa dari diriku, apalagi tas jinjingku itu”, pikir Siti dalam hati.
Ibu Ani sangat khawatir terhadap Siti karena sampai saat ii Siti belum pulang ke rumah. ”Kemana Siti. Ya Allah lindungilah anakku di kota. Seoga Siti baik-baik saja ya Allah”, do’a ibu Ani untuk anaknya. Sudah semalaman hingga sampai bertemu pagi hari lagi Siti juga belum pulang dan tak memberi kabar. Lagi-lagi ibu Ani hanya bisa berdo’a dan memita pertolongan pada Allah. Di desa ibu Ani tetap melakukan aktivitasnya sebagai penjual nasi uduk dan kali ini tanpa ditemani oleh Siti. Ia harus tetap berjualan ke desa seberang karena ia harus mendapatkan uang untuk membayar kontrakan rumahnya.
Wajah Siti terlihat pucat dan hampir sakit. Semalaman ia harus berteman dengan dinginnya udara dan perut kosong. Tapi ia harus terus berjalan sampai ia bisa menemukan pekerjaan untuk membantu ibunya. Beberapa tempat telah Siti datangi, tapi hasilnya ia malah diusir bahkan dicaci.
Siti sangat terkejut karena ketika ia terbangun, ia sudah berada di sebuah kamar yang begitu indah dan mewah. ”Wah, di mana Aku. Sepertinya aku sedang berada di surga”, tanya Siti dalam hati dengan atanya terus mengamati setiap sedut ruangan itu. Di sampingnya ia melihat sesosok wanita setengah baya yang masih telihat cantik dan segar, tapi tampaknya wanita itu menyimpan masalah besar. Wanita itu menceritakan semua yang telah terjadi pada Siti. Mobil sedan merah milik seorang ibu muda itu telah menabrak Siti, tapi untung saja tidak terjadi sesuatu yang parah pada Siti. Karena wanita itu merasa kasihan maka ia embawa Siti pulang ke rumahnya. Bahkan wanita itu menyuruh Siti untuk tetap tinggal di rumahnya beberapa hari sampai ia sudah terlihat sehat.
Sudah seminggu Siti berada di rumah besar itu. Ia merasa tak enak hati kalau ia harus terus-terusan tinggal di rumah itu. Selama di sana Siti selalu bertanya-tanya dalam hati bahwa di kota seperti ini masih terdapat orang yang berhati muia dan sngat baik sekalipun orang tersebut adalah orang kaya dan tak dikenalnya. Namun, yang membuatnya tambah heran, rumah sebesar dan semewah ini terlihat begitu sepi dan sunyi. “Di mana para penghuni rumah ini. Aku tak melihat siapa-siapa di rumah sebesar ini selain sepasang suami istri yang terlihat masih tampak segar dan berkarier”.
Niat Siti untuk meninggalkan rumah itu sepertinya tak berhasil. Lagi-lagi sepasang suami istri itu terus-terusan membujuknya untuk tetap tinggal di rumah mereka. Sepertinya wanita tu sangat senang sekali dengan kehadiran Siti di rumah bahkan ia sampai memohon kepada Siti.
Mendengar cerita dari wanita tersebut, hati Siti menjadi tak tega untuk meninggalkannya. Wanita itu ternyata baru kehilangan anak perempuannya yang kalau asih hidup kira-kira seumuran dengan Siti sekarang. Ia dan suaminya menjadi super sibuk dengan pekerjaan mereka untuk menghilangkan rasa sedih. Wanita itu menangis di hadapan Siti. Dia sangat ingi kalau Siti tetap tinggal bersamanya bahkan menjadi anak angkatnya. Iba hati Siti melihat wanita itu. Tak pernah ia mengalami hal seperti ini. Diperlakukan sangat istimewa dan menyaksikan seorang wanta yang enangis di hadapannya dengan begitu asa. Setelah itu, Siti juga menceritakan tentang kehidupannya dan ibunya di desa, tentang niatnya ke kota, dan tentang niatnya membahagiakan ibunya. Ia sangat ingin sekali hidup mewah dan serba berkecukupan seperti sekarang ini di kota, tapi ia tak tega harus membiarkan ibunya seorang diri hidup menderita di desa.
Siti membaca surat balasan dari ibunya di desa. Tiga hari yang lalu ia mengirimkan sebuah surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia hidup baik-baik saja di kota bahkan ia menemukan keluarga yang sangat baik. Bersama surat itu juga, Siti memberikan uang yang lumayan banyak kepada ibunya di desa pemberian dari ibu angkatnya di kota. Membaca surat balasan ibunya, Siti merasa lega karena sepertinya ibunya di desa tampak senang dengan keadaan Siti sekarang. Tak lupa ibunya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sepasang suami istri itu yang begitu baik kepada Siti dan dirinya. Ibu Ani mengizinkan Siti untuk tetap tinggal di sana karena dia ingin kalau Siti bisa hidup bahagia dan senang. Ibu Ani juga menyuruh Siti untuk menerima permintaan wanita itu untuk menjadikan Siti sebagai anak angkatnya. Air mata Siti tak terasa menetes sampai membasahi surat yang dibacanya. Ia sangat merindukan ibunya di desa. Dengan cepat Siti mengambil pena dan sehelai kertas dan menulis surat balasan kepada ibunya.
Walaupun Siti jauh berada dengan ibunya di desa, tapi ia masih bisa berhubungan meskipun melalui surat yang biasa ia dan ibunya kirim sebagai media komunikasi mereka. Sampai saat ini semua surat-surat balasan dari ibunya selalu ia simpan dan jaga dengan baik dalam sebuah kotak dan diletakkannya sangat rapi di dalam lemari pakaiannya. Ini adalah surat ke sepuluh yang ia terima dari ibunya. Dalam surat tersebut ibunya berkata bahwa kontrakan rumahnya telah ia lunasi, bahkan ibunya sekarang tak perlu lagi berjualan nasi uduk karena uang yang diberikan Siti sudah cukup untuk melengkapi kebutuhannya di desa.
Siti sangat senang membaca surat dari ibunya, tapi yang ia inginkan sekarang adalah bertemu dengan ibunya. Ia sangat merindukan ibunya di desa. Siti ingin sekali pulang ke desa menemui ibunya, tapi ia tak berani bicara pada ibu angkatnya karena sepertinya ibu dan ayah angkatnya sangat sibuk sekali dengan pekerjaan mereka di kantor. Siti kembali mengambil pena dan kertas lalu menulis surat lagi untuk ibunya. Dalam surat itu Siti menuliskan bahwa sekarang ia sudah bersekolah. Ia dibiayai oleh ayah dan ibu angkatnya untuk bersekolah bahkan di sekolah yang mewah. ”Ibu pasti senang membaca surat ini karena ibu sangat ingin sekali melihatku sekolah dan bisa mencapai cita-cita”, ucap Siti sambil melipat surat itu dan memasukkan ke dalam amplop.
Sudah seminggu Siti menunggu surat balasan dari ibunya yang tidak kunjung datang. Hari demi hari ia terus membuka kotak pos di dekat pagar rumahnya. Namun, ia tak menemukan surat balasan dari ibunya. Siti menjadi ragu dan khawatir. Ia berpikir apakah ibunya telah membaca surat darinya dan membalasnya.
Bertambah khawatir Siti ketika sudah dua minggu berlalu, tapi surat balasan dari ibunya belum juga sampai padanya. Lagi-lagi Siti menulis surat untuk ibunya, tapi hasilnya sama saja. Ia tak mendapatkan surat balasan itu.
Melihat sikap Siti yang terlihat sedih dan binggung, ibu angkatnya menanyakan kepada Siti tentang keadaannya saat ini. Mendengar keluhan anak angkatnya itu, ia berniat mengajak Siti untuk pergi ke desanya untuk menemui ibunya. Keesokan harinya ia bersama dengan kedua orang tua angkatnya itu pergi ke desa tempat tinggal Siti dan ibunya. Ketika sampai di desa dan sampai di rumahnya, Siti merasa sesuatu yang beda. Siti melihat keadaan yang sepi dan sunyi dari rumahnya itu. Berkali-kali ia mengetuk pintu rumahnya, tapi ia tak mendengar sedikit suara dari dalam rumah. Hati Siti bertambah khawatir ketika salah satu warga desa yang sedang melintas di depan rumahnya menghampiri mereka dan berkata bahwa ibunya telah meninggal dunia kira-kira dua minggu yang lalu. Mendengar semua itu seketika Siti menjerit histeris dan menanggis dengan kerasnya. Ia tak percaya kalau ibunya sudah tiada dan pergi meninggalkannya.
Air mata Siti tak henti bercucuran karena mengingat ibunya. Ia menyesal telah meninggalkan ibunya sendirian di desa. Ia menyesali kenapa ia harus berpisah dengan ibunya di saat ia tak ada di samping ibunya. Siti minta diantarkan ke makam ibunya. Namun, sebelum ia berangkat menuju ke makam ibunya, ia melihat sebuah surat yang tergeletak di bawah meja teras rumahnya. Siti mengambil surat itu dan ternyata surat itu adalah surat darinya dua minggu yang lalu yang ia kirim untuk ibunya. Ternyata surat itu tak sempat dibaca oleh ibunya. Tangis Siti semakin menjadi sampai mengenai surat yang sedari tadi ia peluk. Kini kebahagiaan Siti tak dapat dirasakan oleh ibunya, tapi ia yakin kalau ibunya telah bahagia dengan keadaannya sekarang.
Yang membuat Siti merasa sedikit tenang adalah kini ia masih mempunyai orang tua yang juga sangat menyayanginya walaupun itu bukanlah orang tua kandungnya. Namun, perhatian, kasih sayang, dan dukungan yang ia rasakan sama seperti perhatian, kasih sayang, dan dukungan yang ia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.
Ibu harus menjajahkan nasi uduknya dengan berkeliling ke setiap rumah-rumah di desa seberang. Keadaan desa mereka begitu sunyi dan terpencil sehingga hampir tak ada orang yang sanggup untuk membeli nasi uduknya. Sering kali Siti mencoba ingin membantu ibunya berjualan nasi uduk di desa, tapi ibunya selalu melarangnya karena ibunya tak mau kalau Siti harus mencari uang dengan berjualan nasi uduk sama sepertinya.
Tiap kali Siti selalu merasa khawatir dan kasihan terhadap ibunya. Wanita yang hampir tua itu selalu saja tetap bersemangat melangkahkan kakinya ke jalanan yang penuh degan pasir dan bebatuan kerikil. Siti tak tega kalau harus melihat ibunya yang selalu berjuang untuk mempertahankan hidup mereka dan untuk membayar sewa rumah yang mereka tempati sekarang. Ia hanya bias berdo’a pada Allah dan menangis agar ibunya dberikan kekuatan dan kesehatan.
Ibu Ani, itulah panggilan yang biasa orang-orang teriakkan kepada wanita itu ketika ia menjajahkan nasi uduknya. Ibu Ani sudah biasa menahan ejekan tiap-tiap orang yang merasa terganggu dengan ehadirannya atau makian pedas karena nasi uduknya tak sesuai dengan selera pelanggannya.
Siti yang sedari tadi duduk melamun di laman rumah ditemai oleh hijaunya rumput-rumput liar yang menunggu untuk siap dipangkas dan debu-debu yang berterbangan manari-nari di udara mengikuti arahnya angina. Siti tak sabar menunggu kedatangan ibunya dengan bakul nasi uduk yang sudah kosog melontong habis terjual diserbu pembeli. Ia berharap uang hasil dari jualan nasi uduk ibunya dapat ditukar dengan 1kg beras untuk mereka makan hari ini.
Debu-debu karena jalanan yang berpasir itu semakin mengepul dan membuat mata Siti menjadi perih karena beberapa butir dari pasir itu masuk ke retinanya. Siti terus saja mengucek-ngucek matanya. Ketika itu dua orang laki-laki yang terlihat seram karena kepalanya yang botak dengan jaket kulit berwarna hitam yang dikenakannya yang satunya terdapat tato seperti gambar tengkorak dating menghampirinya setelah mereka memarkirkan sepeda motornya di depan rumah Siti. Siti terus saja mengamati tato tengkorak di bagiab lengan sebelah kiri salah satu laki-laki itu yang dari tadi enggerak-gerakkan tangannya yang dikepalnya dan beradu dengan telapak tangannya sebelah kiri.
Dua orang lai-laki itu rupanya hendak menagih uang kontrakan dari rumah yang ibu Ani dan Siti tempati. Mereka hendak mengancam Siti kalau ibunya tak bisa melunasi uang kontrakan. Mereka memaksa Siti untuk segera membayar uangnya, tapi Siti merasa sangat takut dan ngeri itu hanya berkata kalau ibunya sekarang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.
Badan Siti terasa sakit dan pegal-pegal akibat dua orang laki-laki tadi mendorongnya ke belakang hingga mengenai tiang di teras rumahnya. Ia harus menahan rasa sakitnya di depan ibunya karena Siti tak mau kalau ibunya sampai tau kejadian tersebut. Siti tak tega jika harus menambah penderitaan ibunya dengan keadaannya itu. Jadi, ia memilih utuk tutup mulut dan bungkam soal peristiwa yang menimpanya. Sambil terus menangis, Siti ulai berpikir tentang kehidupan ia dan ibunya. Tak mungkin ibunya bisa membayar uang kontrakan rumah hanya degan mengandalkan jualan nasi uduknya. Ia bertekad untuk membantu ibunya berjualan nasi uduk.
Dengan cepat Siti enghapus air matanya ketika ibunya pulang ke rumah setelah berjualan nasi uduk. Hari ini sepertinya ibu Anni sedikt kecewa karena nasi uduk jualannya hanya sedikit yang terjual. Ia pulang dengan membawa bakul-bakul nasi uduk yang masih tersisa.
Tapi nasi uduk yang sudah terjual cukup untuk membeli beras dan sayur-sayuran untuk mereka makan malam ini. Siang ini terpaksa mereka harus makan sisa-sisa nasi uduk yang tak laku dijual. Sambil menikmati nasi uduk yang hampir basi itu, Siti mengamati kaki ibunya yang sudah kapalan karena terus berjalan ditambah denga benyaknya lecetan yang mengeluarkan darah. Siti mengambil daun-daun di samping rumahnya lima helai untuk diobati pada luka di kaki ibunya. Ibu Ani tetap bisa tersenyum walaupun ia tau kalau kakinya yang terlihat bengkak itu terasa sangat perih dan sakit.
Setelah enjauhkan bakul dan piring nasi uduk habis mereka makan tadi, Siti mengobati luka di kaki ibunya. Ia meletakkan daun-daun yang telah di petiknya tadi di kaki ibunya yang berdarah. Ia juga menyiapkan air hangat kuku utuk merendam kaki ibunya agar bengkaknya sedikit mengempes. Sambil mengobati kaki ibunya, Siti bercerita pada ibunya kalai ia harus segera membayar kontrakan rumahnya. Untuk emmebantu mendapatkan uang, Siti bertekad utuk berjualan nasi uduk di kota. Ibu Ani tak menyetujui niat anaknya tu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena sepertinya niat Siti itu sudah bulat dan ia harus melakukannya.
Hari ini adalah hari pertama Siti berjualan nasi uduk di kota. Sepertinya pekerjaannya itu tidak membuahkan hasil. Ternyata jualan nasi uduk di kota lebih sulit daripada menjual nasi uduk di desa seberang. Siti tak bisa berbuat apa-apa. Ia terpasa harus tetap tnggal di kota karena ia tidak mempunyai uang untuk pulang ke desa. Siti berjalan mengelilingi menyusuri kota yang penuh dengan keramaian orang-orang dan kendaraan hilir mudik. Ia merasakan betapa kejamnya kehidupan di kota. Ini ia sangat merindukan ibunya di desa. Ibu Ani pasti sedang menunggu-nunggu kedatangan Siti.
Asap dari kendaraan berotor menerpa wajahnya. Siti tak menyangka kalau asap dari mesin berjalan itu lebih menakutkan dibanding dengan debu-debu pasir yang biasa ia hirup di desanya.
Kali ini habislah sudah, tas jinjing yang dibawa Siti yang berisi sedikit pakaian dan bahan-bahan untuk nasi uduknya dirampas oleh seorang pria yang sedari tadi terus saja mengamatinya. Siti memang curiga terhadap pria tersebut, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia juga tak menganal siapa-siapa di kota. Walaupun ia meminta bantuan pada orang di sekitarnya, toh itu tak memberikan kebaikan bagi Siti karena kebanyakan orang tak merespon permintaan tolongnya. ”Sebenarnya apa yang pria itu incar dariku. Tak ada yang istimewa dari diriku, apalagi tas jinjingku itu”, pikir Siti dalam hati.
Ibu Ani sangat khawatir terhadap Siti karena sampai saat ii Siti belum pulang ke rumah. ”Kemana Siti. Ya Allah lindungilah anakku di kota. Seoga Siti baik-baik saja ya Allah”, do’a ibu Ani untuk anaknya. Sudah semalaman hingga sampai bertemu pagi hari lagi Siti juga belum pulang dan tak memberi kabar. Lagi-lagi ibu Ani hanya bisa berdo’a dan memita pertolongan pada Allah. Di desa ibu Ani tetap melakukan aktivitasnya sebagai penjual nasi uduk dan kali ini tanpa ditemani oleh Siti. Ia harus tetap berjualan ke desa seberang karena ia harus mendapatkan uang untuk membayar kontrakan rumahnya.
Wajah Siti terlihat pucat dan hampir sakit. Semalaman ia harus berteman dengan dinginnya udara dan perut kosong. Tapi ia harus terus berjalan sampai ia bisa menemukan pekerjaan untuk membantu ibunya. Beberapa tempat telah Siti datangi, tapi hasilnya ia malah diusir bahkan dicaci.
Siti sangat terkejut karena ketika ia terbangun, ia sudah berada di sebuah kamar yang begitu indah dan mewah. ”Wah, di mana Aku. Sepertinya aku sedang berada di surga”, tanya Siti dalam hati dengan atanya terus mengamati setiap sedut ruangan itu. Di sampingnya ia melihat sesosok wanita setengah baya yang masih telihat cantik dan segar, tapi tampaknya wanita itu menyimpan masalah besar. Wanita itu menceritakan semua yang telah terjadi pada Siti. Mobil sedan merah milik seorang ibu muda itu telah menabrak Siti, tapi untung saja tidak terjadi sesuatu yang parah pada Siti. Karena wanita itu merasa kasihan maka ia embawa Siti pulang ke rumahnya. Bahkan wanita itu menyuruh Siti untuk tetap tinggal di rumahnya beberapa hari sampai ia sudah terlihat sehat.
Sudah seminggu Siti berada di rumah besar itu. Ia merasa tak enak hati kalau ia harus terus-terusan tinggal di rumah itu. Selama di sana Siti selalu bertanya-tanya dalam hati bahwa di kota seperti ini masih terdapat orang yang berhati muia dan sngat baik sekalipun orang tersebut adalah orang kaya dan tak dikenalnya. Namun, yang membuatnya tambah heran, rumah sebesar dan semewah ini terlihat begitu sepi dan sunyi. “Di mana para penghuni rumah ini. Aku tak melihat siapa-siapa di rumah sebesar ini selain sepasang suami istri yang terlihat masih tampak segar dan berkarier”.
Niat Siti untuk meninggalkan rumah itu sepertinya tak berhasil. Lagi-lagi sepasang suami istri itu terus-terusan membujuknya untuk tetap tinggal di rumah mereka. Sepertinya wanita tu sangat senang sekali dengan kehadiran Siti di rumah bahkan ia sampai memohon kepada Siti.
Mendengar cerita dari wanita tersebut, hati Siti menjadi tak tega untuk meninggalkannya. Wanita itu ternyata baru kehilangan anak perempuannya yang kalau asih hidup kira-kira seumuran dengan Siti sekarang. Ia dan suaminya menjadi super sibuk dengan pekerjaan mereka untuk menghilangkan rasa sedih. Wanita itu menangis di hadapan Siti. Dia sangat ingi kalau Siti tetap tinggal bersamanya bahkan menjadi anak angkatnya. Iba hati Siti melihat wanita itu. Tak pernah ia mengalami hal seperti ini. Diperlakukan sangat istimewa dan menyaksikan seorang wanta yang enangis di hadapannya dengan begitu asa. Setelah itu, Siti juga menceritakan tentang kehidupannya dan ibunya di desa, tentang niatnya ke kota, dan tentang niatnya membahagiakan ibunya. Ia sangat ingin sekali hidup mewah dan serba berkecukupan seperti sekarang ini di kota, tapi ia tak tega harus membiarkan ibunya seorang diri hidup menderita di desa.
Siti membaca surat balasan dari ibunya di desa. Tiga hari yang lalu ia mengirimkan sebuah surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia hidup baik-baik saja di kota bahkan ia menemukan keluarga yang sangat baik. Bersama surat itu juga, Siti memberikan uang yang lumayan banyak kepada ibunya di desa pemberian dari ibu angkatnya di kota. Membaca surat balasan ibunya, Siti merasa lega karena sepertinya ibunya di desa tampak senang dengan keadaan Siti sekarang. Tak lupa ibunya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sepasang suami istri itu yang begitu baik kepada Siti dan dirinya. Ibu Ani mengizinkan Siti untuk tetap tinggal di sana karena dia ingin kalau Siti bisa hidup bahagia dan senang. Ibu Ani juga menyuruh Siti untuk menerima permintaan wanita itu untuk menjadikan Siti sebagai anak angkatnya. Air mata Siti tak terasa menetes sampai membasahi surat yang dibacanya. Ia sangat merindukan ibunya di desa. Dengan cepat Siti mengambil pena dan sehelai kertas dan menulis surat balasan kepada ibunya.
Walaupun Siti jauh berada dengan ibunya di desa, tapi ia masih bisa berhubungan meskipun melalui surat yang biasa ia dan ibunya kirim sebagai media komunikasi mereka. Sampai saat ini semua surat-surat balasan dari ibunya selalu ia simpan dan jaga dengan baik dalam sebuah kotak dan diletakkannya sangat rapi di dalam lemari pakaiannya. Ini adalah surat ke sepuluh yang ia terima dari ibunya. Dalam surat tersebut ibunya berkata bahwa kontrakan rumahnya telah ia lunasi, bahkan ibunya sekarang tak perlu lagi berjualan nasi uduk karena uang yang diberikan Siti sudah cukup untuk melengkapi kebutuhannya di desa.
Siti sangat senang membaca surat dari ibunya, tapi yang ia inginkan sekarang adalah bertemu dengan ibunya. Ia sangat merindukan ibunya di desa. Siti ingin sekali pulang ke desa menemui ibunya, tapi ia tak berani bicara pada ibu angkatnya karena sepertinya ibu dan ayah angkatnya sangat sibuk sekali dengan pekerjaan mereka di kantor. Siti kembali mengambil pena dan kertas lalu menulis surat lagi untuk ibunya. Dalam surat itu Siti menuliskan bahwa sekarang ia sudah bersekolah. Ia dibiayai oleh ayah dan ibu angkatnya untuk bersekolah bahkan di sekolah yang mewah. ”Ibu pasti senang membaca surat ini karena ibu sangat ingin sekali melihatku sekolah dan bisa mencapai cita-cita”, ucap Siti sambil melipat surat itu dan memasukkan ke dalam amplop.
Sudah seminggu Siti menunggu surat balasan dari ibunya yang tidak kunjung datang. Hari demi hari ia terus membuka kotak pos di dekat pagar rumahnya. Namun, ia tak menemukan surat balasan dari ibunya. Siti menjadi ragu dan khawatir. Ia berpikir apakah ibunya telah membaca surat darinya dan membalasnya.
Bertambah khawatir Siti ketika sudah dua minggu berlalu, tapi surat balasan dari ibunya belum juga sampai padanya. Lagi-lagi Siti menulis surat untuk ibunya, tapi hasilnya sama saja. Ia tak mendapatkan surat balasan itu.
Melihat sikap Siti yang terlihat sedih dan binggung, ibu angkatnya menanyakan kepada Siti tentang keadaannya saat ini. Mendengar keluhan anak angkatnya itu, ia berniat mengajak Siti untuk pergi ke desanya untuk menemui ibunya. Keesokan harinya ia bersama dengan kedua orang tua angkatnya itu pergi ke desa tempat tinggal Siti dan ibunya. Ketika sampai di desa dan sampai di rumahnya, Siti merasa sesuatu yang beda. Siti melihat keadaan yang sepi dan sunyi dari rumahnya itu. Berkali-kali ia mengetuk pintu rumahnya, tapi ia tak mendengar sedikit suara dari dalam rumah. Hati Siti bertambah khawatir ketika salah satu warga desa yang sedang melintas di depan rumahnya menghampiri mereka dan berkata bahwa ibunya telah meninggal dunia kira-kira dua minggu yang lalu. Mendengar semua itu seketika Siti menjerit histeris dan menanggis dengan kerasnya. Ia tak percaya kalau ibunya sudah tiada dan pergi meninggalkannya.
Air mata Siti tak henti bercucuran karena mengingat ibunya. Ia menyesal telah meninggalkan ibunya sendirian di desa. Ia menyesali kenapa ia harus berpisah dengan ibunya di saat ia tak ada di samping ibunya. Siti minta diantarkan ke makam ibunya. Namun, sebelum ia berangkat menuju ke makam ibunya, ia melihat sebuah surat yang tergeletak di bawah meja teras rumahnya. Siti mengambil surat itu dan ternyata surat itu adalah surat darinya dua minggu yang lalu yang ia kirim untuk ibunya. Ternyata surat itu tak sempat dibaca oleh ibunya. Tangis Siti semakin menjadi sampai mengenai surat yang sedari tadi ia peluk. Kini kebahagiaan Siti tak dapat dirasakan oleh ibunya, tapi ia yakin kalau ibunya telah bahagia dengan keadaannya sekarang.
Yang membuat Siti merasa sedikit tenang adalah kini ia masih mempunyai orang tua yang juga sangat menyayanginya walaupun itu bukanlah orang tua kandungnya. Namun, perhatian, kasih sayang, dan dukungan yang ia rasakan sama seperti perhatian, kasih sayang, dan dukungan yang ia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.
Senin, 27 Juli 2009
Bunga Kiriman
Besok adalah hari ulang tahunku. Aku berharap aku akan mendapatkan hadiah spesial dari keluarga dan teman-temanku. Semua keluargaku ikut sibuk mempersiapkan semua keperluan-keperluan untuk perayaan ulang tahunku. Ya,, ulang tahunku kali ini akan di buat semeriah mungkin karena ini adalah ulang tahunku yang ketujuh belas tahun. Aku juga sudah menyebarkan semua undangan kepada teman-teman, tetangga, dan keluargaku di luar kota. Aku yakin kalau ulang tahunku kali ini akan sangat meriah dan mengesankan.
Tepat pukul dua belas malam. Handphoneku berdering yang membuat aku terbangun dari tidur lelapku. “Wah ternyata SMS dari teman-temanku”. Semua teman-temanku mengirimkan SMS ucapan selamat ulang tahun kepada ku. Aku tak menyangka kalau teman-temanku akan memberikan ucapan itu tepat di hari ulang tahunku. Satu per satu aku membaca ucapan itu. Anehnya, salah satu dari ucapan tersebut tercantum nama Rai. Hal itu yang membuat aku menjadi bingung dan tidak bisa tidur kembali. “Aku tidak punya teman bernama Rai. Siapa orang ini, kok dia tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku”. Karena aku merasa kalau Rai itu bukan orang yang aku kenal, jadi aku memutuskan untuk melupakan SMS ucapannya.
Sepanjang malam itu, aku berhayal bahwa besok pagi aku akan bersiap-siap dengan gaun cantikku dan bertumpuk-tumpuk hadiah di hadapanku. “hah, sungguh hari yang aku tunggu-tunggu” . Aku membayangkan kalau besok akan ada kiriman bunga spesial untuk ku karena aku sangat menyukai bunga. Aku tak sabar menantikan pagi hari.
Aku bangun dari tidurku dan ternyata aku melihat sebuah karangan bunga yang sangat indah di atas meja belajarku. Huh,,, aku langsung mengambil dan menciuminya. “Sungguh indah dan harum”. Kemudian aku meletakkan kembali bunga itu dan aku bergegas untuk mandi. Aku melihat di kaca kamar mandi ada sebuah tulisan SELAMAT ULANG TAHUN. Aku tersenyum melihat tulisan itu. Mungkin ibuku yang menulisnya.
Semua dekorasi telah siap dan satu per satu para tamu undangan sudah berdatangan ke rumahku. “Hallo Din, selamat ulang tahun ya”, seru Rika, teman paling akrab ku di sekolah. “Makasih ya, Rik”. “Dina ada kiraman buat lo”, ucap Tika, teman satu sekolahku sambil memberikan setangkai bunga mawar putih kepada Dina. “Wah, cantik sekali, dari siapa Tik”? “Waduh, gue gak tau dari siapa, gak ada namanya. Tadi ada yang meletakkannya di atas pagar rumah loe. Gak ada nama pengirimnya, tapi itu ada tulisan kalo bunga itu buat loe”.
Ya, mungkin itu dari salah satu temanku yang gak mau aku tau kalau bunga itu darinya. Dengan senang hati aku menerima bunga mawar putih itu. “Bunga yang sangat indah dan harum” .
Ibu dan ayahku harus pergi bekerja ke luar kota. Jadi aku hanya tinggal sendiri di rumah. Orang tuaku memang sengaja pulang ke rumah hanya untuk merayakan ulang tahunku. Setelah itu, mereka harus kembali lagi ke luar kota. Ya, aku memang harus menyetujui hal ini karena aku tidak mau kalau aku harus ikut pergi dan tinggal di luar kota tempat orang tuaku bekerja. Aku tidak mau meninggalkan sekolah dan teman-temanku di sini. Jadi, aku harus siap untuk tetap tinggal di rumah walaupun hanya sendiri.
Setangkai bunga mawar putih kiriman itu aku letakkan di kamarku dengan vas bunga yang indah. Setiap hari aku rawat, aku beri parfum biar tetap wangi dan tampak segar. Sepertinya orang yang mengirimkan bunga itu tau sekali kalau aku memang menyukai bunga mawar putih. Yang buat aku heran kenapa orang itu tidak memberikan nama pengirimnya. “Mungkin orang itu adalah salah satu penggemar rahasiaku,, hehe”.
Tepat pukul dua belas malam. Handphoneku berdering yang membuat aku terbangun dari tidur lelapku. “Wah ternyata SMS dari teman-temanku”. Semua teman-temanku mengirimkan SMS ucapan selamat ulang tahun kepada ku. Aku tak menyangka kalau teman-temanku akan memberikan ucapan itu tepat di hari ulang tahunku. Satu per satu aku membaca ucapan itu. Anehnya, salah satu dari ucapan tersebut tercantum nama Rai. Hal itu yang membuat aku menjadi bingung dan tidak bisa tidur kembali. “Aku tidak punya teman bernama Rai. Siapa orang ini, kok dia tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku”. Karena aku merasa kalau Rai itu bukan orang yang aku kenal, jadi aku memutuskan untuk melupakan SMS ucapannya.
Sepanjang malam itu, aku berhayal bahwa besok pagi aku akan bersiap-siap dengan gaun cantikku dan bertumpuk-tumpuk hadiah di hadapanku. “hah, sungguh hari yang aku tunggu-tunggu” . Aku membayangkan kalau besok akan ada kiriman bunga spesial untuk ku karena aku sangat menyukai bunga. Aku tak sabar menantikan pagi hari.
Aku bangun dari tidurku dan ternyata aku melihat sebuah karangan bunga yang sangat indah di atas meja belajarku. Huh,,, aku langsung mengambil dan menciuminya. “Sungguh indah dan harum”. Kemudian aku meletakkan kembali bunga itu dan aku bergegas untuk mandi. Aku melihat di kaca kamar mandi ada sebuah tulisan SELAMAT ULANG TAHUN. Aku tersenyum melihat tulisan itu. Mungkin ibuku yang menulisnya.
Semua dekorasi telah siap dan satu per satu para tamu undangan sudah berdatangan ke rumahku. “Hallo Din, selamat ulang tahun ya”, seru Rika, teman paling akrab ku di sekolah. “Makasih ya, Rik”. “Dina ada kiraman buat lo”, ucap Tika, teman satu sekolahku sambil memberikan setangkai bunga mawar putih kepada Dina. “Wah, cantik sekali, dari siapa Tik”? “Waduh, gue gak tau dari siapa, gak ada namanya. Tadi ada yang meletakkannya di atas pagar rumah loe. Gak ada nama pengirimnya, tapi itu ada tulisan kalo bunga itu buat loe”.
Ya, mungkin itu dari salah satu temanku yang gak mau aku tau kalau bunga itu darinya. Dengan senang hati aku menerima bunga mawar putih itu. “Bunga yang sangat indah dan harum” .
Ibu dan ayahku harus pergi bekerja ke luar kota. Jadi aku hanya tinggal sendiri di rumah. Orang tuaku memang sengaja pulang ke rumah hanya untuk merayakan ulang tahunku. Setelah itu, mereka harus kembali lagi ke luar kota. Ya, aku memang harus menyetujui hal ini karena aku tidak mau kalau aku harus ikut pergi dan tinggal di luar kota tempat orang tuaku bekerja. Aku tidak mau meninggalkan sekolah dan teman-temanku di sini. Jadi, aku harus siap untuk tetap tinggal di rumah walaupun hanya sendiri.
Setangkai bunga mawar putih kiriman itu aku letakkan di kamarku dengan vas bunga yang indah. Setiap hari aku rawat, aku beri parfum biar tetap wangi dan tampak segar. Sepertinya orang yang mengirimkan bunga itu tau sekali kalau aku memang menyukai bunga mawar putih. Yang buat aku heran kenapa orang itu tidak memberikan nama pengirimnya. “Mungkin orang itu adalah salah satu penggemar rahasiaku,, hehe”.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika aku terbangun dari tidurku hendak pergi ke sekolah, aku melihat kalau bunga mawar putih itu layu dan semua helai bunganya jatuh ke bawah. Aku jadi sedih. “Padahal aku sudah merawatnya dengan baik dan penuh ketelitian”. Kini bunga mawar putih itu tak lagi segar dan indah. Semua mahkotanya telah layu dan berguguran.
Suasana di sekolah pagi ini begitu ramai dan hiruk pikuk. Pasalnya ada seorang siswi yang bunuh diri di dalam WC putri. “Hah, kenapa bisa begitu, kenapa ia bunuh diri”? Tanya ku. “Gak tau Din, aku juga baru datang”. Siswi itu ternyata anak kelas X1. ia mencoba untuk bunuh diri di dalam WC putri dan masalahnya juga tidak ada yang mengetahui. Kini WC putri penuh dengan police line dan polisi yang akan mencari tau sebab dari niat nekadnya itu.
Semua anak-anak kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Ketika aku hendak duduk di bangkuku, aku melihat ada setangkai bunga mawar merah yang sangat indah dan harum. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya, tapi tulisan di tangkainya itu yang membuatku yakin kalau bunga itu untukku. “wah,, ada bunga mawar lagi untukku, tapi siapa yang mengirimnya. Lagi-lagi gak ada nama pengirimnya”. Karena bunga itu ditujukan untukku maka aku mengambilnya dan meletakkannya di dalam tasku.
Ketika jam istirahat, temanku Rika dan Tika mengajakku untuk pergi makan ke kantin favorit kami. Kantin Bu Wati adalah kantin favorit aku dan teman-temanku karena selain ibu penjaganya yang sangat baik da ramah, semua makanannya juga enak-enak dan sesuai dengan selera siswa-siswi di sekolah. “Din, ayo kita ke kantin”?, ajak Tika. “Ia, kalian duluan saja, nanti aku menyusul”, jawabku. “jangan lama-lama ya”, kata Rika sambil keluar kelas menuju kantin.
Aku mengeluarkan bunga mawar merah dari dalam tasku dan menciuminya. Aku pergi menyusul teman-temanku ke kantin dengan membawa bunga mawar merah itu. Ketika di persimpangan kelas, aku melihat semua mahkota bunga mawar itu layu dan jatuh ke bawah. aku terkejut dan semakin terkejut ketika tba-tiba seorang siswa tak jauh berada di depanku terkena reruntuhan atap teras kelas yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit karena luka-lukanya cukup parah.
Siang hari setelah bel sekolah berbunyi tanda semua pelajaran telah usai, aku bergegas pulang ke rumah. Aku harus mempersiapkan buku-buku pelajaran yang akan dibawa ke rumah temanku karena kami akan mengerjakan tugas kelompok. Setelah semua siap, aku pergi menuju rumah temanku dengan mengendarai sepeda motorku. Sebelum berangkat, lagi-lagi aku menemukan setagkai bunga mawar dan kali ini berwarna kuning. Aku merasa senang sekaligus heran karena lagi-lagi bunga itu ditujukan untukku, tapi tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Karena aku buru-buru maka aku masukan saja bunga mawar itu ke dalam tasku dan langsung mengendarai sepeda motorku. Namun, tiba-tba handphoneku berbunyi. Aku menerima sebuah SMS yang bertuliskan Bagaimana dengan bunga-bunga mawar itu. Apa kamu suka? Rai. Nama itu,,, ya,,, nama itu adalah nama orang yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun pada malam di hari ulang tahunku. “Siapa Rai?, ternyata dia yang telah mengirimkan semua bunga-bunga mawar itu selama ini”.
Aku terus melajukan sepeda motorku menuju rumah temanku. Dan ketika aku berhenti di perempatan lampu merah, lagi-lagi HP ku berbunyi. Aku mengambil HP ku dari dalam tas dan ternyata suara deringnya tak lagi berbunyi. Ketika itu aku melihat bunga mawar di dalam tasku itu sudah layu dan runtuh. Aku heran dan berpikir dalam hati kenapa semua bunga mawar yang aku terima harus layu dan runtuh. Pikiranku buyar ketika aku mendengar suara keras dari arah depanku. Ternyata telah terjadi sebuah kecelakaan mobil yang membuat semua seisi mobil tewas. Aku merasa ngeri dan kasihan melihat kejadian itu.
Ketika aku kembali ke rumah, aku mulai berpikir tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi selama ini. Aku bingung kenapa aku harus melihat semua kejadian aneh dan mengerikan itu di depan mataku sendiri. Ketika itu aku mulai sadar bahwa semua bunga-bunga mawar yang dikirimkan ke aku itu seketika menjadi sebuah petaka di balik kejadian-kejadian aneh selama ini. Ketika bunga-bunga itu layu dan runtuh seketika itu pula terjadi peristiwa-peristiwa mengerikan yang aku lihat. “Tapi apa maksud semua ini, kenapa ada kejadian-kejadian aneh seperti ini”.
Semenjak itu aku tidak lagi menyukai bunga mawar. Dan semua bunga-bunga mawar milikku yang telah aku pelihara dan aku rawat telah aku buang jauh-jauh. Seketika itu juga kejadian-kejadian aneh itu tidak lagi menghantuiku.
Suasana di sekolah pagi ini begitu ramai dan hiruk pikuk. Pasalnya ada seorang siswi yang bunuh diri di dalam WC putri. “Hah, kenapa bisa begitu, kenapa ia bunuh diri”? Tanya ku. “Gak tau Din, aku juga baru datang”. Siswi itu ternyata anak kelas X1. ia mencoba untuk bunuh diri di dalam WC putri dan masalahnya juga tidak ada yang mengetahui. Kini WC putri penuh dengan police line dan polisi yang akan mencari tau sebab dari niat nekadnya itu.
Semua anak-anak kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Ketika aku hendak duduk di bangkuku, aku melihat ada setangkai bunga mawar merah yang sangat indah dan harum. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya, tapi tulisan di tangkainya itu yang membuatku yakin kalau bunga itu untukku. “wah,, ada bunga mawar lagi untukku, tapi siapa yang mengirimnya. Lagi-lagi gak ada nama pengirimnya”. Karena bunga itu ditujukan untukku maka aku mengambilnya dan meletakkannya di dalam tasku.
Ketika jam istirahat, temanku Rika dan Tika mengajakku untuk pergi makan ke kantin favorit kami. Kantin Bu Wati adalah kantin favorit aku dan teman-temanku karena selain ibu penjaganya yang sangat baik da ramah, semua makanannya juga enak-enak dan sesuai dengan selera siswa-siswi di sekolah. “Din, ayo kita ke kantin”?, ajak Tika. “Ia, kalian duluan saja, nanti aku menyusul”, jawabku. “jangan lama-lama ya”, kata Rika sambil keluar kelas menuju kantin.
Aku mengeluarkan bunga mawar merah dari dalam tasku dan menciuminya. Aku pergi menyusul teman-temanku ke kantin dengan membawa bunga mawar merah itu. Ketika di persimpangan kelas, aku melihat semua mahkota bunga mawar itu layu dan jatuh ke bawah. aku terkejut dan semakin terkejut ketika tba-tiba seorang siswa tak jauh berada di depanku terkena reruntuhan atap teras kelas yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit karena luka-lukanya cukup parah.
Siang hari setelah bel sekolah berbunyi tanda semua pelajaran telah usai, aku bergegas pulang ke rumah. Aku harus mempersiapkan buku-buku pelajaran yang akan dibawa ke rumah temanku karena kami akan mengerjakan tugas kelompok. Setelah semua siap, aku pergi menuju rumah temanku dengan mengendarai sepeda motorku. Sebelum berangkat, lagi-lagi aku menemukan setagkai bunga mawar dan kali ini berwarna kuning. Aku merasa senang sekaligus heran karena lagi-lagi bunga itu ditujukan untukku, tapi tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Karena aku buru-buru maka aku masukan saja bunga mawar itu ke dalam tasku dan langsung mengendarai sepeda motorku. Namun, tiba-tba handphoneku berbunyi. Aku menerima sebuah SMS yang bertuliskan Bagaimana dengan bunga-bunga mawar itu. Apa kamu suka? Rai. Nama itu,,, ya,,, nama itu adalah nama orang yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun pada malam di hari ulang tahunku. “Siapa Rai?, ternyata dia yang telah mengirimkan semua bunga-bunga mawar itu selama ini”.
Aku terus melajukan sepeda motorku menuju rumah temanku. Dan ketika aku berhenti di perempatan lampu merah, lagi-lagi HP ku berbunyi. Aku mengambil HP ku dari dalam tas dan ternyata suara deringnya tak lagi berbunyi. Ketika itu aku melihat bunga mawar di dalam tasku itu sudah layu dan runtuh. Aku heran dan berpikir dalam hati kenapa semua bunga mawar yang aku terima harus layu dan runtuh. Pikiranku buyar ketika aku mendengar suara keras dari arah depanku. Ternyata telah terjadi sebuah kecelakaan mobil yang membuat semua seisi mobil tewas. Aku merasa ngeri dan kasihan melihat kejadian itu.
Ketika aku kembali ke rumah, aku mulai berpikir tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi selama ini. Aku bingung kenapa aku harus melihat semua kejadian aneh dan mengerikan itu di depan mataku sendiri. Ketika itu aku mulai sadar bahwa semua bunga-bunga mawar yang dikirimkan ke aku itu seketika menjadi sebuah petaka di balik kejadian-kejadian aneh selama ini. Ketika bunga-bunga itu layu dan runtuh seketika itu pula terjadi peristiwa-peristiwa mengerikan yang aku lihat. “Tapi apa maksud semua ini, kenapa ada kejadian-kejadian aneh seperti ini”.
Semenjak itu aku tidak lagi menyukai bunga mawar. Dan semua bunga-bunga mawar milikku yang telah aku pelihara dan aku rawat telah aku buang jauh-jauh. Seketika itu juga kejadian-kejadian aneh itu tidak lagi menghantuiku.
Sabtu, 25 Juli 2009
Pecahkan Sepiku
Sepiku…..
Tak lagi kurasakan
Ketika tiba-tiba kau merasuki alamku
Kau mampu menyihirku seketika
Kau mampu menyapu bersih
setumpukan sampah yang mengganggu di beranda pikiranku
Kau membuatku menjadi kesurupan akan bayang-bayangmu
Sepiku...
Lenyap terasa
Menjelma menjadi keramaian
Walaupun tak ada keributan di sekelilingku
Candamu, ceriamu, dan gerak-gerik bibirmu
Mampu memusnahkan setan-setan penghuni
tiap-tiap manusia kesepian
Konyol...
Sungguh konyol
Bahkan kau melebihi ramainya panggung musik
Sungguh tak masuk akal
Kau ceriakanku
Bahkan melebihi bahagianya mendapat hadiah istimewa
Kau adalah bebatuan...
Yang sengaja dilempar untuk mengenaiku
Yang dengan kerasnya
Memecahkan sepiku
Membuat satu utuh menjadi keping-keping
hingga menjadi serpihan yang bertebaran
Kini sepiku telah hilang
Kau telah mampu sebarkan benih-benih damai untukku
Walaupun ku rasa hanya saat ini, menit ini, atau jam ini
Tak lagi kurasakan
Ketika tiba-tiba kau merasuki alamku
Kau mampu menyihirku seketika
Kau mampu menyapu bersih
setumpukan sampah yang mengganggu di beranda pikiranku
Kau membuatku menjadi kesurupan akan bayang-bayangmu
Sepiku...
Lenyap terasa
Menjelma menjadi keramaian
Walaupun tak ada keributan di sekelilingku
Candamu, ceriamu, dan gerak-gerik bibirmu
Mampu memusnahkan setan-setan penghuni
tiap-tiap manusia kesepian
Konyol...
Sungguh konyol
Bahkan kau melebihi ramainya panggung musik
Sungguh tak masuk akal
Kau ceriakanku
Bahkan melebihi bahagianya mendapat hadiah istimewa
Kau adalah bebatuan...
Yang sengaja dilempar untuk mengenaiku
Yang dengan kerasnya
Memecahkan sepiku
Membuat satu utuh menjadi keping-keping
hingga menjadi serpihan yang bertebaran
Kini sepiku telah hilang
Kau telah mampu sebarkan benih-benih damai untukku
Walaupun ku rasa hanya saat ini, menit ini, atau jam ini
Teror
Sore itu aku duduk di teras depan rumahku untuk sekedar santai menghilangkan rasa lelahku. Langit yang semakin mendung membuat perasaanku semakin kelam.
Kring……kring……, terdengar suara telepon dari dalam rumahku yang membuat aku terbangun dari lamunanku. Aku pun berlari menuju ke dalam rumah. ”Halo”, kataku memulai sapa. Tak terdengar sedikit pun suara dari telepon. “Halo”….”Halo”…., Tut…..tut……tut…..suara telepon itu putus. Aku pun meletakkan telepon di tempatnya kembali. “Siapa sih iseng banget”, kataku dalam hati. Belum sempat aku membalikkan badanku tiba-tiba, kring……suara telepon kembali berdering. ”Halo”, kataku dengan suara lesu. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Aku langsung menutup telepon tanpa ada perasaan curiga sedikitpun.
Berkali-kali aku mencoba untuk memejamkan mataku, tapi aku tetap tidak bisa larut dalam tidurku. O……iya, aku langsung teringat dengan buku cerita yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah tadi pagi. Aku langsung mengambil buku cerita itu dari dalam tasku. Aku mulai membaca buku cerita itu hingga akhirnya aku pun tertidur.
Tara………, sapa seseorang memanggil namaku sambil memegang bahuku. Aku kontan terkejut, jemariku terasa gemetaran. Karena perasaan was-was, aku tetap tidak menoleh ke belakang. Hei Tara, ini aku Bella. Aku langsung menoleh ke belakang. Hhhhh, terdengar suara nafasku ketika perasaan was-was ku mereda mengetahui bahwa yang memanggilku adalah Bella, sahabatku. Ada apa sih, Tar? Sepertinya kamu…….., ah sudahlah, kataku memotong pembicaraan Bella. Nanti pulang sekolah ada ekskul kan. Iya, jawab Bella.
Hei Tara, Bella, panggil Adi dengan terburu-buru. Ayo cepat ke ruangan ekskul seni. Ada apa? Tanyaku penasaran. Cepet deh nanti saja ceritanya. Mendengar perkataan Adi aku dan Bella langsung berlari keluar kelas menuju keruangan ekskul seni.
Di, sebenarnya ada apa sih? Tanya Bella, kok semua murid berkumpul didepan ruang ekskul seni. Kalian tahukan Ami. Ami anak kelas X itu, potongku. Ia, jawab Adi. Dia terkunci di ruang ekskul seni ketika dia mau membereskan semua peralatan seni. Waktu Ami masuk, dia tidak mengunci pintunya dan tak ada seorangpun yang mengunci dari luar. Guru-guru dan semua murid jadi panik atas kejadian ini. Terpaksa guru-guru harus mendobrak pintu itu karena kunci duplikatnya tidak ditemukan.
Kejadian tadi sangat aneh ya Bel, kataku. Iya, kok bisa ya. Kami pun diam sejenak memikirkan kejadian tadi. Tiba-tiba, aaaghhh…….., terdengar teriakan seorang perempuan dari arah wc putri. Aku dan Bella saling menatap dan ”ayo kita ke sana Bel”. Kami berlari menuju ke arah wc putri. Lia!!! Ada apa Li? Kenapa kamu berteriak? Tanyaku. Teriak??? Siapa yang teriak. Lho ada suara teriakan dari dalam wc ini, kata Bella. Tidak, aku tidak teriak, dan tidak ada orang lain di wc ini, mungkin kalian salah dengar kali.
Teng……teng…….teng……., bel sekolah tanda pulang berbunyi. Semua siswa pulang ke rumah masing-masing. Aku dan Bella sudah menunggu di ruang ekskul, ”Mana teman-teman yang lain”? tanyaku. Bella hanya mengangkat bahunya dan geleng-geleng kepala. Tar, aku keluar sebentar ya, seru Bella. Jangan lama –lama ya , kataku.
Lima belas menit berlalu. ”Bella kemana ya”? kataku sambil menuju keluar.”kok lama sekali, teman-teman sudah ngumpul nih”.aku keluar ruangan untuk mencari Bella. Aku sudah mencari Bella di seluruh ruangan. Tapi tidak kutemukan sahabatku itu. Hingga akhirnya aku menuju ke kebun di belakang sekolah. ”Bella……Bella….., di mana kamu? ”jangan takuti aku dong”. Terdengar oleh ku langkah kaki seseorang di balik semak-semak. ”Bella……teriakku. aku langsung menuju ke balik sema-semak itu. ”Bella”, panggilku. ”ah, tidak ada”.
Hari sudah semakin sore tapi aku belum juga menemukan Bella. Aku terus berjalan hingga aku menemukan sebuah gubuk tua. ”Tempat apa itu”, tanyaku dalam hati. ”kok aku tidak tahu kalau di kebun belakang sekolah ada sebuah gubuk”. Aku pun masuk ke dalam gubuk itu.
“aaaghhhhh………”aku terjatuh dari gubuk tua itu. Aku mencoba untuk bangun kembali tapi tubuhku terasa sangat sakit. ”Siapa”? Siapa yang mendorongku? Aku ingat saat aku masuk ke gubuk itu, yah, sesosok bayangan hitam mendorongku hingga aku terjatuh. ”tapi siapa itu”. Ya Tuhan, apa lagi ini. ”Aku heran kenapa akhir-akhir ini banyak sekali kejadian-kejadian aneh. Waktu itu Ami anak kelas X terkunci di ruangan ekskul, terus ada suara jeritan dari dalam wc putri, sebelumnya ada temanku yang kesurupan dan apa lagi ini, Bella menghilang dan siapa yang mendorong aku”.
Aku mencoba untuk bangkit dari jatuhku. Aku berpikir lebih baik aku keluar dari tempat ini, soal Bella akan ku ceritakan pada orang tuanya. Aku mencoba untuk kembali, tapi “astaga”!!! di mana pintu keluarnya”. Aku lupa tempatnya atau…………………!!!!! Aku terjatuh karena lemas dan pingsan.
Ketika aku sadar, dihadapanku terlihat sesosok makhluk aneh yang berjubah hitam. ”Bella”??? sosok itupun mencoba untuk mencekik leher ku. “TIDAKKKKK………..”!!!
Kring…….kring….., terdengar suara wekerku berbunyi. Wah gawat, aku terlambat ke sekolah. Ini pasti gara-gara aku baca buku cerita yang berjudul Teror itu!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kring……kring……, terdengar suara telepon dari dalam rumahku yang membuat aku terbangun dari lamunanku. Aku pun berlari menuju ke dalam rumah. ”Halo”, kataku memulai sapa. Tak terdengar sedikit pun suara dari telepon. “Halo”….”Halo”…., Tut…..tut……tut…..suara telepon itu putus. Aku pun meletakkan telepon di tempatnya kembali. “Siapa sih iseng banget”, kataku dalam hati. Belum sempat aku membalikkan badanku tiba-tiba, kring……suara telepon kembali berdering. ”Halo”, kataku dengan suara lesu. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Aku langsung menutup telepon tanpa ada perasaan curiga sedikitpun.
Berkali-kali aku mencoba untuk memejamkan mataku, tapi aku tetap tidak bisa larut dalam tidurku. O……iya, aku langsung teringat dengan buku cerita yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah tadi pagi. Aku langsung mengambil buku cerita itu dari dalam tasku. Aku mulai membaca buku cerita itu hingga akhirnya aku pun tertidur.
Tara………, sapa seseorang memanggil namaku sambil memegang bahuku. Aku kontan terkejut, jemariku terasa gemetaran. Karena perasaan was-was, aku tetap tidak menoleh ke belakang. Hei Tara, ini aku Bella. Aku langsung menoleh ke belakang. Hhhhh, terdengar suara nafasku ketika perasaan was-was ku mereda mengetahui bahwa yang memanggilku adalah Bella, sahabatku. Ada apa sih, Tar? Sepertinya kamu…….., ah sudahlah, kataku memotong pembicaraan Bella. Nanti pulang sekolah ada ekskul kan. Iya, jawab Bella.
Hei Tara, Bella, panggil Adi dengan terburu-buru. Ayo cepat ke ruangan ekskul seni. Ada apa? Tanyaku penasaran. Cepet deh nanti saja ceritanya. Mendengar perkataan Adi aku dan Bella langsung berlari keluar kelas menuju keruangan ekskul seni.
Di, sebenarnya ada apa sih? Tanya Bella, kok semua murid berkumpul didepan ruang ekskul seni. Kalian tahukan Ami. Ami anak kelas X itu, potongku. Ia, jawab Adi. Dia terkunci di ruang ekskul seni ketika dia mau membereskan semua peralatan seni. Waktu Ami masuk, dia tidak mengunci pintunya dan tak ada seorangpun yang mengunci dari luar. Guru-guru dan semua murid jadi panik atas kejadian ini. Terpaksa guru-guru harus mendobrak pintu itu karena kunci duplikatnya tidak ditemukan.
Kejadian tadi sangat aneh ya Bel, kataku. Iya, kok bisa ya. Kami pun diam sejenak memikirkan kejadian tadi. Tiba-tiba, aaaghhh…….., terdengar teriakan seorang perempuan dari arah wc putri. Aku dan Bella saling menatap dan ”ayo kita ke sana Bel”. Kami berlari menuju ke arah wc putri. Lia!!! Ada apa Li? Kenapa kamu berteriak? Tanyaku. Teriak??? Siapa yang teriak. Lho ada suara teriakan dari dalam wc ini, kata Bella. Tidak, aku tidak teriak, dan tidak ada orang lain di wc ini, mungkin kalian salah dengar kali.
Teng……teng…….teng……., bel sekolah tanda pulang berbunyi. Semua siswa pulang ke rumah masing-masing. Aku dan Bella sudah menunggu di ruang ekskul, ”Mana teman-teman yang lain”? tanyaku. Bella hanya mengangkat bahunya dan geleng-geleng kepala. Tar, aku keluar sebentar ya, seru Bella. Jangan lama –lama ya , kataku.
Lima belas menit berlalu. ”Bella kemana ya”? kataku sambil menuju keluar.”kok lama sekali, teman-teman sudah ngumpul nih”.aku keluar ruangan untuk mencari Bella. Aku sudah mencari Bella di seluruh ruangan. Tapi tidak kutemukan sahabatku itu. Hingga akhirnya aku menuju ke kebun di belakang sekolah. ”Bella……Bella….., di mana kamu? ”jangan takuti aku dong”. Terdengar oleh ku langkah kaki seseorang di balik semak-semak. ”Bella……teriakku. aku langsung menuju ke balik sema-semak itu. ”Bella”, panggilku. ”ah, tidak ada”.
Hari sudah semakin sore tapi aku belum juga menemukan Bella. Aku terus berjalan hingga aku menemukan sebuah gubuk tua. ”Tempat apa itu”, tanyaku dalam hati. ”kok aku tidak tahu kalau di kebun belakang sekolah ada sebuah gubuk”. Aku pun masuk ke dalam gubuk itu.
“aaaghhhhh………”aku terjatuh dari gubuk tua itu. Aku mencoba untuk bangun kembali tapi tubuhku terasa sangat sakit. ”Siapa”? Siapa yang mendorongku? Aku ingat saat aku masuk ke gubuk itu, yah, sesosok bayangan hitam mendorongku hingga aku terjatuh. ”tapi siapa itu”. Ya Tuhan, apa lagi ini. ”Aku heran kenapa akhir-akhir ini banyak sekali kejadian-kejadian aneh. Waktu itu Ami anak kelas X terkunci di ruangan ekskul, terus ada suara jeritan dari dalam wc putri, sebelumnya ada temanku yang kesurupan dan apa lagi ini, Bella menghilang dan siapa yang mendorong aku”.
Aku mencoba untuk bangkit dari jatuhku. Aku berpikir lebih baik aku keluar dari tempat ini, soal Bella akan ku ceritakan pada orang tuanya. Aku mencoba untuk kembali, tapi “astaga”!!! di mana pintu keluarnya”. Aku lupa tempatnya atau…………………!!!!! Aku terjatuh karena lemas dan pingsan.
Ketika aku sadar, dihadapanku terlihat sesosok makhluk aneh yang berjubah hitam. ”Bella”??? sosok itupun mencoba untuk mencekik leher ku. “TIDAKKKKK………..”!!!
Kring…….kring….., terdengar suara wekerku berbunyi. Wah gawat, aku terlambat ke sekolah. Ini pasti gara-gara aku baca buku cerita yang berjudul Teror itu!!!!!!!!!!!!!!!!!
entah mengapa
q juga tak tau kenapa harus saat ini.
q ingin mencoba sesuatu yang belum aq coba sbelumnya...
mungkin kekuatan itu baru datang pada saat ini...
q ingin mencoba sesuatu yang belum aq coba sbelumnya...
mungkin kekuatan itu baru datang pada saat ini...
Langganan:
Postingan (Atom)
